Pancasila Bukan Sekadar Hafalan: Mahasiswa UBSI Turun ke Masyarakat, Bangun Etika Sosial dari Akar Rumput

0 120

BSINews, JakartaDi tengah zaman yang serba cepat dan kerap menihilkan nilai-nilai luhur, sekelompok mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) memilih jalan berbeda. Mereka tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga turun langsung ke tengah masyarakat. Sabtu pagi, 17 Mei 2025, lingkungan Perumahan Grand Mutiara Gading di Jl. Barokah RT 003/RW 008 menjadi saksi sebuah upaya kecil namun penuh makna—menyemai kembali nilai-nilai Pancasila sebagai landasan etika dalam bermasyarakat.

Baca juga: Ngulik Data Bareng Power BI: Mahasiswa UBSI Bikin Siswa SMK Makin Melek Digital

Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pengabdian Masyarakat (PM), sebuah wujud nyata dedikasi mahasiswa dalam menjembatani ilmu dan realitas sosial. Dengan tema “Pancasila Sebagai Landasan Etika Dalam Bermasyarakat,” para mahasiswa ingin menghidupkan kembali Pancasila bukan sebagai sekadar simbol atau hafalan lima sila, tetapi sebagai panduan hidup yang menyatu dengan perilaku sehari-hari.

Ketua pelaksana kegiatan, Ariq Fadhil Satrio, menegaskan bahwa urgensi kegiatan ini terletak pada upaya menyelaraskan kembali nilai-nilai Pancasila dengan kehidupan sosial masyarakat. “Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi pedoman moral yang sangat relevan untuk membentuk karakter dan etika sosial kita semua,” ujarnya.

Melalui dialog terbuka, diskusi kelompok, dan refleksi bersama warga, para mahasiswa mengajak masyarakat untuk kembali melihat Pancasila sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih damai, adil, dan saling menghormati. Nilai gotong royong, tenggang rasa, serta keadilan sosial diangkat sebagai inti dari etika bermasyarakat di tengah keragaman budaya dan latar belakang yang ada di Indonesia.

Salah satu peserta, Cut Mutia—mahasiswi UBSI kampus Bekasi—mengungkapkan harapannya agar kegiatan seperti ini terus diperluas. “Kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya mengenal Pancasila secara tekstual, tapi menghidupinya dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Hidup berdampingan, saling bantu, dan adil, itulah yang kami perjuangkan,” tutur Cut dengan penuh semangat.

PM ini bukan sekadar kegiatan formalitas akademik. Ia tumbuh menjadi ruang pembelajaran bersama, tempat di mana mahasiswa dan masyarakat saling menguatkan dan saling belajar. Pancasila tak lagi diam di halaman buku pendidikan kewarganegaraan, tapi mulai berjalan di jalanan, di rumah-rumah warga, dan di hati mereka yang ingin membangun bangsa dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus BSD Kenalkan Budaya Tradisional ke Siswa MIS Raudlatul Irfan dengan Antusiasme Tinggi

Melalui langkah-langkah kecil seperti ini, cita-cita besar Indonesia sebagai bangsa yang adil, harmonis, dan beradab mulai digerakkan. Dan mahasiswa, dengan segala keterbatasannya, justru menjadi motor penggerak yang tak kenal lelah untuk menyalakan kembali obor nilai-nilai luhur di tengah masyarakat.(Ichsani)

Leave A Reply

Your email address will not be published.