Main Sambil Belajar NKRI, Ketika Mahasiswa UBSI Jadi Duta Cinta Tanah Air di Kelas 5 SD

0 96

BSINews, Bekasi – Pagi itu, di SDIT Mutiara Hati Bekasi, suasana kelas 5 bukan seperti biasanya. Bukan karena gurunya mendadak nyanyi dangdut, bukan juga karena kantin bagi-bagi gorengan gratis. Tapi karena ada sekelompok mahasiswa dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) datang membawa sesuatu yang beda.

Baca juga: Dari Habasyah ke Thaif: Ketika Mahasiswa UBSI Mengubah Kisah Hijrah Jadi Pelajaran yang Asyik di Bekasi

Mereka datang bukan pakai jas formal atau muka tegang ala dosen penguji, tapi dengan senyum sumringah dan ide segar bertajuk “Belajar Sambil Bermain”—tema yang cukup bikin penasaran anak-anak, dan bahkan guru-guru.

Hari itu, Senin, 26 Mei 2025, delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI—Astia, Ester, Geaby, Keisyah, Maulida, Rovina, Sindi, dan Khairul—menjadi “dosen tamu” dadakan. Tapi jangan bayangkan mereka membawa slide penuh teks berat atau teori komunikasi yang bikin ngantuk. Mereka datang membawa sesuatu yang lebih penting, yaitu semangat cinta tanah air dan rasa ingin berbagi.

Materi yang diangkat bukan sembarang materi. Soal keberagaman NKRI—isu yang seringkali cuma mampir di buku pelajaran, tapi jarang betul-betul menyentuh hati. Mereka ingin mengenalkan Indonesia yang luas, kaya budaya, dan penuh warna—tanpa harus bikin anak-anak mengernyit karena kebanyakan istilah akademik. Maka digabunglah narasi sejarah dengan permainan, diskusi dengan kuis, dan tentu saja tawa dengan semangat belajar.

Kelas 5 yang biasanya lelah di jam segitu, malah jadi lebih hidup. Ada sesi ice breaking yang bikin anak-anak nyalain mode aktif mereka, lalu materi sejarah NKRI yang dikemas lewat visual dan cerita menarik. Tidak ada yang menggurui, tidak ada yang terlalu formal. Yang ada justru ruang interaksi yang hangat, di mana siswa bebas bertanya, tertawa, dan merayakan keberagaman bangsanya sendiri.

Yang paling menarik, mungkin bukan cuma isi materinya. Tapi bagaimana anak-anak itu akhirnya menyadari bahwa mereka hidup di negeri yang sangat kaya—bukan cuma soal rempah atau gunung berapi, tapi soal budaya, suku, dan bahasa. Dan bahwa keberagaman itu bukan alasan untuk curiga, tapi alasan untuk saling jaga.

Baca juga: Ngulik Data Bareng Power BI: Mahasiswa UBSI Bikin Siswa SMK Makin Melek Digital

Lewat kegiatan ini, mahasiswa UBSI belajar bahwa komunikasi bukan sekadar teori. Tapi praktik yang menyentuh. Dan SDIT Mutiara Hati, hari itu, bukan cuma jadi sekolah dasar, tapi juga tempat di mana cinta tanah air mulai bertunas lewat tawa-tawa polos siswa kelas lima.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.