FGD di UBSI: Mutu Bukan Lagi Soal Borang, tapi Soal Harga Diri Sebuah Kampus

0 61

BSINews, Jakarta – Hari itu, Jumat, 20 Juni 2025, di Gedung Rektorat Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), hawa formal terasa sejak dari pintu depan. Jas, dasi, dan blazer abu-abu mengalir berdampingan dengan jargon-jargon berat seperti penjaminan mutu, continuous quality improvement, dan tentu saja daya saing global. Tapi jangan salah sangka dulu.

Di balik ruangan full AC dan daftar istilah administratif itu, sedang terjadi satu momen yang sebetulnya jauh lebih manusiawi yaitu perenungan bersama, soal bagaimana sebuah kampus bisa benar-benar memanusiakan mahasiswa—bukan cuma memproduksi lulusan ber-ijazah.

Baca juga: Akreditasi Unggul! Bukti UBSI Cikarang Serius Jamin Mutu Pendidikan TI

FGD kali ini mengusung tema yang, kalau dibaca sepintas, terdengar seperti tugas akhir mahasiswa S2, “Penjaminan Mutu Berkelanjutan untuk Menghasilkan Lulusan UBSI yang Unggul dan Berdaya Saing Global”. Tapi percayalah, diskusi yang terjadi lebih hangat dari judulnya. Karena yang hadir bukan cuma birokrat kampus, tapi juga para pengampu kurikulum, pejuang data akreditasi, bahkan mereka yang tiap hari harus memikirkan bagaimana menghadirkan perkuliahan yang relevan tapi tetap nyambung sama dunia nyata.

Rektor UBSI, Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi—dengan gaya bicara yang tegas tapi santai—langsung menegaskan satu hal penting bahwa penjaminan mutu itu bukan sekadar kewajiban administratif. Bukan cuma ngisi borang, apalagi asal comply sama instrumen BAN-PT. Mutu, katanya, adalah budaya. Adalah napas. Adalah semacam “rasa malu” kalau kualitas pembelajaran di kampus tidak memberi manfaat nyata buat mahasiswa.

Kata Wahyudi, “Kita ini bukan mencetak lulusan yang cuma tahu teori. Tapi yang bisa bersaing di dunia kerja global. Dan itu butuh komitmen bareng. Nggak bisa kerja sendiri-sendiri.”

Diskusi ini makin panas (dalam arti positif) saat Prof. Ari Purbayanto, Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT, mengambil mic. Ia datang bukan sekadar sebagai pejabat yang menyerahkan SK Akreditasi—tapi juga sebagai penyiram kesadaran baru bahwa sistem penjaminan mutu tak bisa stagnan. Ia harus terus diperbaiki. Diadaptasi. Dikejar. Dielus. Bahkan kadang—dimaki dulu, baru dibenahi.

“Saya tekankan, prinsip continuous quality improvement itu bukan jargon. Itu keharusan. Evaluasi harus jadi budaya. Semua aspek harus terlibat. Bukan cuma LPM atau tim akreditasi,” tegasnya. Dan kalimat itu seperti menampar halus banyak kampus yang selama ini masih menganggap mutu adalah urusan “orang lain”.

Dipandu oleh Ita Suryani dan dibuka dengan gaya ringan oleh Wina Widiati, sesi diskusi justru jadi titik balik acara ini. Perwakilan UBSI dari berbagai unit kerja mulai buka suara. Ada yang bicara soal kesulitan menyinkronkan sistem evaluasi internal. Ada juga yang menyinggung tantangan menjaga mutu di tengah tuntutan serba digital.

Dan di antara itu semua, satu hal terasa jelas bahwa semua peserta sepakat, mutu tidak bisa berdiri sendiri tanpa empati. Diskusi soal akreditasi pun akhirnya bergeser menjadi diskusi soal rasa.

Soal bagaimana membuat mahasiswa betah di kelas. Soal bagaimana menyelaraskan kurikulum dengan dunia industri yang berubah tiap tiga bulan. Soal bagaimana trust terhadap dosen bisa dibangun dari hal sekecil cara mereka menyapa mahasiswa di awal kelas.

Di akhir acara, momen seremonial penyerahan SK Akreditasi BAN-PT jadi highlight. Surat Keputusan diserahkan langsung oleh Prof. Ari kepada Rektor UBSI. SK itu mungkin cuma selembar kertas bagi sebagian orang. Tapi bagi insan kampus, SK itu adalah semacam rapor kepercayaan publik. Dan dalam dunia pendidikan, kepercayaan adalah segalanya.

Baca juga: Dorong Peningkatan Mutu, Prodi Perhotelan UBSI Kampus Yogyakarta Lakukan Benchmarking ke UCSI Malaysia

Kalau boleh jujur, mutu kampus sebetulnya bukan cuma soal SOP, sistem informasi, atau laporan tracer study. Ia adalah soal rasa malu ketika mahasiswa kita lulus tapi nggak siap kerja. Soal rasa tanggung jawab ketika nama kampus kita tercantum di CV seseorang tapi malah jadi beban, bukan kebanggaan.

Dan itu semua, tak bisa dibangun dalam semalam. Butuh FGD, iya. Tapi juga butuh ngopi sore bareng dosen, ngobrol jujur bareng mahasiswa, dan keberanian untuk mengakui bahwa kadang, sistem perlu dirombak dari bawah, bukan cuma ditambal dari atas. Karena pada akhirnya, mutu adalah cinta yang diwujudkan dalam kerja. Bukan sekadar angka di dashboard atau checklist laporan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.