Dari Tegal dengan AI, Ketika Mahasiswa Belajar Dagang Pakai Otak Mesin

0 39

BSINews, Tegal – Kalau dulu orang belajar berdagang dari pasar dan perhitungan kasar pakai feeling, hari ini beda. Belajar dagang bisa dari layar laptop, ditemani kopi sachet dan plugin AI yang tahu lebih banyak tentang pelanggan kita daripada kita sendiri. Begitulah kira-kira semangat yang terasa dari ruang pelatihan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) 2025 di UBSI Kampus Tegal, Selasa (3/6) kemarin.

Baca juga: UBSI Kampus Karawang dan G2 Academy Gelar Workshop IT Bootcamp Software Development: Siapkan Mahasiswa Hadapi Era Digital dengan AI

Kegiatan ini nggak main-main. Diikuti 27 mahasiswa dari tiga prodi yang kadang jarang ngobrol kalau bukan karena tugas kelompok, seperti Sistem Informasi, Sistem Informasi Akuntansi, dan Teknologi Komputer. Tapi kali ini, mereka duduk sejajar, membuka laptop yang sama-sama pas-pasan RAM-nya, demi satu tujuan mulia yaitu jadi pedagang digital masa depan yang nggak cuma bisa jualan, tapi juga bisa nyuruh AI bantuin.

Pelatihan ini digawangi oleh KOMDIGI, dengan narasumber Kheri Agus Suseno yang, meskipun nggak ngasih contekan jawaban, tapi ngajarin cara bikin AI ngide sendiri. Mulai dari memahami AI, riset pasar, bikin konten teks, gambar, sampai video dengan bantuan AI, hingga menyusun rencana pemasaran digital yang terdengar sangat startup-able. Enam topik padat yang dibungkus santai—seolah dunia digital nggak sekeras harga domain dotcom yang terus naik.

Di tengah sesi, peserta diajak langsung praktik. Ada yang belajar bikin caption Instagram pakai AI, ada juga yang takjub waktu ngelihat AI bisa bikin persona buyer lengkap sama hobi, keresahan, dan jam nongkrong. Beberapa mahasiswa mulai kepikiran, “Gimana kalau AI juga yang bikin tugas akhir gue nanti?” Sayangnya, dosen di UBSI Kampus Tegal belum secanggih itu ngasih dispensasi.

Uswatun Khasanah, salah satu peserta, mungkin nggak pernah nyangka bahwa hari itu dia bakal belajar dagang pakai teknologi yang dulu cuma dia denger di TikTok. Tapi begitu keluar kelas, dia bilang, “Ini keren banget. AI tuh bukan cuma buat orang IT. Ternyata bisa bantu jualan juga.”

Dan itulah letak harapan besar dari pelatihan ini. Bahwa anak-anak kampus di UBSI Kampus Tegal, yang mungkin dulunya lebih familiar dengan dagang gorengan depan kost-an, kini bisa merancang strategi pemasaran digital pakai AI tools. Bukan lagi soal jualan, tapi soal membangun branding, targeting, dan optimizing—kata-kata yang dulu lebih sering mereka denger pas nonton seminar motivasi YouTube.

Kaprodi Sistem Informasi UBSI Kampus Tegal, Angga Ardiansyah, juga sadar betul kalau mahasiswa sekarang butuh lebih dari sekadar teori. “Ini zaman di mana nilai IPK bagus belum tentu bisa bikin startup. Tapi kalau punya skill dan kepekaan teknologi, itu baru modal,” katanya. Pelatihan kayak gini jadi jalan tengah—antara kebutuhan industri dan kenyataan mahasiswa yang nggak semua bisa magang di startup besar Jakarta.

Di tengah dunia yang makin digital, pelatihan ini semacam titik terang. Bahwa AI bukan sekadar fitur mahal di smartphone atau berita tentang robot yang bisa ngobrol. Tapi alat yang bisa dimanfaatkan, bahkan oleh anak kampus UBSI Kampus Tegal, untuk membangun masa depan.

Baca juga: UBSI Purwokerto Bahas Peluang dan Tantangan AI Lewat “Ngobras” Live di TikTok

Karena di era ini, bukan lagi soal siapa yang punya modal banyak, tapi siapa yang tahu cara pakai teknologi lebih bijak. Dan kadang, perubahan besar memang datang dari ruang kecil, dengan koneksi Wi-Fi seadanya, tapi semangat belajar yang nggak bisa dipadamkan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.