Ketika Mahasiswa Akuntansi Bicara AI dan Pulang Bawa HP Baru

0 62

BSINews, Jakarta – Pagi itu, suasana di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kalimalang agak beda. Bukan karena AC-nya lebih dingin dari biasanya, atau wifi-nya tiba-tiba ngebut, tapi karena ada yang lagi ramai, yaitu AI Education & Innovation Festival 2025. Ya, festival yang mengusung tema “EDUvolution: Where Innovation Meets Intelligence” ini bukan cuma kumpulan seminar yang isinya slide presentasi doang. Ini adalah semacam pengajian digital buat semua yang penasaran (atau panik) sama masa depan.

Ruangan penuh. Dari anak IT yang rambutnya setia gondrong karena skripsi, sampai anak Akuntansi yang biasanya lebih akrab sama Excel daripada Python. Semua datang dengan satu rasa, penasaran. Dan di antara ratusan peserta itu, ada satu nama yang mendadak jadi Bintang, yaitu Abdul Rasyid.

Baca juga: Ngobrolin AI Bukan Cuma Urusan Programmer, tapi Juga Polisi, Bankir, dan Mahasiswa

Abdul bukan mahasiswa Teknik Informatika. Dia anak Akuntansi. Biasanya lebih sibuk mikirin saldo T dan laporan laba rugi. Tapi hari itu, ia datang bukan buat nyari neraca, melainkan nyari wawasan.

“Gak harus developer aja yang ngerti AI,” katanya. “Mahasiswa juga harus melek AI, biar bisa dijadiin alat bantu di masa depan.”

Sebuah pernyataan sederhana tapi penuh muatan. Di tengah hype AI yang sering dianggap milik ‘anak IT’, Abdul hadir sebagai pengingat bahwa teknologi itu harus inklusif. Karena siapa pun bisa kena dampaknya. Termasuk yang ngurus keuangan organisasi kampus.

Abdul bukan cuma pulang bawa catatan seminar dan pencerahan. Tapi juga bawa pulang smartphone baru. Iya, dia dapet grand prize! Satu unit HP. Sebuah hadiah yang bikin seminar ini naik level dari “berfaedah” jadi “nggak nyesel datang.” Bayangin, niatnya cuma cari insight soal AI, eh malah pulang bawa gadget yang bisa dipake buat eksplor AI lebih lanjut. Semesta kadang emang baik banget ke orang yang haus ilmu.

“Aku gak nyangka banget,” ujar Abdul dengan senyum setengah kaget, setengah bingung mau update story dulu atau install ChatGPT dulu.

Tapi AI Education & Innovation Festival ini jelas bukan cuma soal doorprize. Para peserta bisa ngobrol langsung dengan praktisi AI, tanya-tanya tanpa takut dibilang cupu, dan bahkan bisa networking sama sesama peserta dari berbagai jurusan.

Forum-forum diskusi yang biasanya cuma jadi selingan di acara semacam ini, justru jadi magnet utama. Karena ketika anak Akuntansi ngobrol bareng anak Sistem Informasi tentang machine learning, di situlah benih kolaborasi masa depan tumbuh.

Di ruangan itu, teknologi gak terasa angkuh. Ia turun ke bumi, jadi bahan diskusi yang manusiawi. Ada tanya jawab, ada gelak tawa, ada yang manggut-manggut sambil nyatet di buku tulis—bukan iPad.

Baca juga: UBSI Mengguncang Dunia Edukasi! Festival AI 2025 Hadirkan Terobosan Kreatif & Inspiratif

Acara ini adalah tamparan halus buat siapa pun yang masih nganggep AI itu terlalu “canggih” buat dipelajari. Karena seperti kata Abdul, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Jangan nunggu jadi developer dulu baru ngulik AI. Karena yang paling pertama bakal digeser sama AI justru mereka yang ngerasa aman-aman aja.

UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif udah ambil langkah berani dengan bikin AI jadi topik hangat di kampus, bukan cuma di lab coding. Dan siapa tahu, di festival selanjutnya, bukan cuma Abdul Rasyid yang pulang bawa HP. Tapi juga pulang bawa ide, jaringan, dan keberanian buat jadi bagian dari masa depan.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.