Ngobrolin AI Bukan Cuma Urusan Programmer, tapi Juga Polisi, Bankir, dan Mahasiswa
BSINews, Jakarta – Kalau selama ini kamu pikir Artificial Intelligence (AI) itu cuma urusan anak teknik yang betah ngoding sambil ngopi hitam dan pakai hoodie tiap hari, maka kamu perlu datang ke AI Education & Innovation Festival 2025 di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kalimalang, Jakarta Timur, Selasa (2/7).
Acara ini bukan pameran teknologi yang isinya robot nyapu lantai atau chatbot ngajak debat. Lebih dari itu, ini adalah ruang tamu besar tempat akademisi, pebisnis, polisi, bahkan jurnalis dan startup founder, duduk bareng ngobrolin satu hal yang akan (suka nggak suka) ikut ngatur masa depan kita semua, yaitu AI (Artificial Intelligence).
Baca juga: Belajar AI Tak Perlu Nunggu Lulus! UBSI Gelar Workshop Machine Learning Interaktif
UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif, yang selama ini dikenal sebagai kampus digital kreatif, lewat acara ini pengin bilang, “Kita nggak cuma ngikutin tren, Bro. Kita bikin ruang buat diskusi dan aksi.” Dan ini bukan basa-basi. Tema yang diangkat aja udah menggetarkan, “EDUvolution – Where Innovation Meets Intelligence.” Kurang futuristik apa coba?
Mewakili sang Rektor, Wakil Rektor I Bidang Akademik UBSI, Diah Puspitasari, buka acara dengan satu kalimat yang kalau ditulis di caption Instagram mungkin langsung dapet banyak likes. Diah bilang, “Kami ingin mahasiswa dan masyarakat tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi inovator dan pencipta solusi berbasis AI.” Nggak sekadar nyuruh belajar coding, tapi ngajak orang jadi bagian dari solusi. Sebuah ajakan yang lebih relevan dari sekadar “belajar AI biar bisa kerja di luar negeri.”
Lalu datanglah Dian Martin, Ketua APAII (Asosiasi Pengguna Artificial Intelligence Indonesia). Dian dengan tenang bilang, “AI itu kayak pisau. Bisa dipakai motong semangka, bisa juga buat ngerusak.” Dan memang benar, AI sekarang bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal etika. Kita lagi hidup di zaman di mana bot bisa nulis puisi lebih syahdu dari manusia, tapi juga bisa bikin hoaks makin elegan.
Salah satu momen menarik adalah ketika Polda Metro Jaya ikut nimbrung. Serius, polisi sekarang juga belajar AI. Bukan buat nangkep maling pakai drone (meskipun itu keren juga), tapi untuk ngelacak pola kejahatan digital yang makin susah ditangkap pakai cara konvensional. AI sekarang bisa bantu identifikasi ancaman siber, menganalisis data laporan, bahkan memperkirakan potensi kejahatan berdasarkan histori. Menyeramkan? Bisa jadi. Tapi juga menyelamatkan.
Belum lagi dari BCA yang cerita soal penggunaan AI buat ngatur customer service, dari Danacita yang bicara tentang akses pendidikan berbasis teknologi, sampai Skorlife yang mulai memanfaatkan AI buat kredit scoring. Semua sektor mulai nyebur ke dunia AI, dan festival ini jadi kolamnya.
500 peserta hadir. Dari mahasiswa yang penasaran, dosen yang semangat belajar hal baru, sampai pelaku startup yang pengin ngukur arah angin sebelum investasi. Tapi yang paling menyentuh adalah semangat kolaborasi yang terasa hangat. Ini bukan acara yang isinya jargon dan brosur. Ini ruang ngobrol yang nyata. Ruang buat saling tanya, “AI mau kita bawa ke mana sih?”
UBSI berhasil membuktikan kalau dunia pendidikan nggak boleh ketinggalan gerbong teknologi. Karena AI bukan cuma soal algoritma, tapi juga tentang manusia. Tentang bagaimana kita menyikapi perubahan, dan menentukan apakah kita pengin jadi penonton atau ikut main di panggung.
Baca juga: UBSI Mengguncang Dunia Edukasi! Festival AI 2025 Hadirkan Terobosan Kreatif & Inspiratif
AI bisa jadi malaikat penolong atau pisau yang melukai. Semua tergantung siapa yang megang. Dan lewat AI Education & Innovation Festival 2025 ini, UBSI ngasih sinyal kuat bahwa pendidikan harus ikut ambil bagian, bukan cuma jadi penonton yang kagum atau takut.
Karena di dunia yang makin digital ini, yang bisa selamat bukan yang paling pintar, tapi yang paling bisa beradaptasi dan mau ngobrol. Dan di sinilah UBSI menanam benih, mulai dari ngobrol jadi inovasi, dari inovasi jadi solusi.(ACH)