Tiket, PHP, dan Mimpi Mahasiswa! Ketika Anak Kampus Menjawab Masalah Dunia Nyata
BSINews, Depok – Kalau biasanya tugas akhir cuma jadi tumpukan laporan tebal yang berakhir di lemari kampus dan debu masa lalu, beda cerita dengan tiga mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) satu ini. Mereka adalah Garda Dwi Aryitno selaku ketua tim, beserta anggota tim Derinda Rulian dan Ronaldo Mikhael Denawan.
Alih-alih tenggelam dalam template laporan bab 1 sampai 5 yang bikin kantuk menyerang, mereka justru memilih jalan sunyi, yaitu menyumbangkan hasil keringat mereka dalam bentuk sistem informasi beneran. Bukan teori, bukan simulasi, tapi aplikasi yang langsung nyantol ke dunia nyata, yakni pemesanan tiket online untuk B-Space Eduplay Compound, Depok.
Baca juga: Cursor AI, Mahasiswa, dan Mimpi Membikin Aplikasi Tanpa Stres! Catatan dari IT Bootcamp UBSI
Iya, Depok. Kota yang sering dicandai sebagai negara sendiri ini sekarang punya tempat wisata baru bernama B-Space, dan tiga mahasiswa dari UBSI ini hadir untuk bantu ngebenerin urusan tiketingnya.
Tugas akhirnya bukan sekadar simbol kewajiban akademik, tapi jadi jembatan nyata antara teori dan kebutuhan lapangan. Sistem mereka memungkinkan siapa saja beli tiket secara online tanpa perlu ribet login dulu. Cukup unggah bukti pembayaran, dan biarkan admin yang verifikasi sambil nyeruput kopi.
Semua transaksi dan riwayat tiket dicatat rapi, serapi skripsi yang dicetak dobel-spasi. Sistem ini dibangun dengan pendekatan Waterfall (yang artinya kerjaan berurutan, bukan meloncat-loncat kayak deadline mahasiswa tingkat akhir), dan pakai teknologi PHP CodeIgniter, MySQL, HTML, CSS, serta JavaScript. Sederhana? Mungkin. Tapi efektif? Jelas.
Acara serah terima aplikasi dilakukan langsung di lokasi B-Space, dan disambut hangat oleh Denny selaku General Manager dan Putri selaku HRD B-Space Eduplay Compound Depok yang mungkin selama ini kesulitan atur pemesanan manual.
Denny nggak basa-basi. Dengan senyum lebar, ia bilang, “B-Space ini masih baru berdiri, jadi sangat terbantu sekali dengan adanya sistem ini.” Pernyataan singkat yang mengandung banyak makna, dimulai dari syukur, harapan, sampai rasa lega karena spreadsheet Excel-nya bisa segera ditinggal.
Dosen pembimbing mereka, Dinda Ayu Muthia, juga nggak kalah bangga. “Semoga ini bisa jadi contoh kontribusi nyata mahasiswa UBSI,” katanya. Dan jujur saja, kalimat itu lebih dari sekadar harapan dosen UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif.
Sistem ini bukan cuma soal aplikasi. Ia bicara tentang empati, tentang keberanian untuk menjawab tantangan, dan tentang semangat berbagi di tengah masyarakat yang butuh banyak tangan, bukan hanya suara. Mereka nggak bikin solusi untuk Google atau Apple, tapi untuk tempat wisata lokal di Depok yang sedang bertumbuh.
Baca juga: Aplikasi AssessMe Karya Mahasiswa UBSI Bantu Digitalisasi Asesmen di SMP Azahra
Dan di situ letak romantismenya, bahwa inovasi nggak selalu harus viral. Ia bisa hadir dalam bentuk form sederhana yang bisa diakses siapa saja, dan membantu kehidupan jadi lebih efisien. Bahwa jadi mahasiswa bukan cuma soal IPK, tapi soal kontribusi. Soal berani melihat masalah, dan cukup nekat untuk bilang, “Kami bisa bantu.”
Karena mungkin, perubahan besar itu selalu dimulai dari aksi kecil, dan dari tiga anak muda UBSI dengan laptop, deadline, dan secangkir kopi sachet.(ACH)