Kampus Tak Pernah Mengajarkan Cara Gagal, Tapi Hidup Selalu Punya Caranya Sendiri

0 75

BSINews, Bekasi – Di dunia kampus, kita semua diajarkan untuk lulus tepat waktu, IPK cumlaude, punya portofolio kece, dan CV yang bisa bikin HRD langsung bilang, “Wow.” Tapi, ada satu pelajaran yang sering kelewat. Nggak ada di RPS, nggak dibahas di UTS, dan jarang banget disentuh dosen saat kelas, yaitu gimana caranya gagal dengan waras.

Yup. Gagal. Kata yang sering dibisikin pelan, seakan tabu. Padahal semua orang pernah mengalaminya, tapi sedikit yang mau ngomongin.

Baca juga: Dari Ramayana Menuju Ruang Kuliah, Ketika Masa Depan Mampir ke Mall Cibitung Lewat Open Booth UBSI

Di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cibitung, mahasiswa sibuk mengejar banyak hal. Laporan praktikum, rapat UKM, sampai deadline skripsi yang makin mepet. Tapi di balik semua itu, nggak sedikit yang diem-diem berjuang sama rasa kecewa.

Dapet nilai C padahal udah begadang seminggu. Nggak keterima magang di startup impian. Presentasi gagal total karena pointer mendadak error. Hal-hal kecil tapi nyeseknya bisa nyelip sampe tulang rusuk.

Masalahnya, kampus dan sistem pendidikan kita secara umum lebih fokus pada hasil. Siapa yang juara, siapa yang dapat sertifikat, siapa yang masuk ke LinkedIn “Top 100 Young Leaders.” Jarang ada ruang buat cerita, “Gue kemarin gagal, dan itu bikin gue nangis semalaman.” Padahal, kalimat kayak gitu bisa menyelamatkan lebih banyak mahasiswa dari rasa sendirian.

Untungnya, makin ke sini, mulai banyak komunitas mahasiswa yang sadar pentingnya ngobrol jujur. Mereka bikin forum, diskusi santai, kadang cuma duduk bareng sambil curhat. Topiknya? Mulai dari anxiety soal masa depan sampai betapa menyebalkannya gagal wawancara kerja karena salah kostum. Dan ternyata, pas semuanya dibuka, kita semua jadi sadar, eh, ternyata gue nggak sendirian, ya?

Karena begini, gagal itu bukan musuh. Gagal itu tanda bahwa kita nyoba. Bahwa kita punya tujuan, dan kita cukup nekat untuk bergerak ke arah sana. Gagal itu bukan aib. Yang jadi masalah justru kalau kita takut gagal sampai akhirnya nggak berani nyoba sama sekali.

Di UBSI Kampus Cibitung, semangat ini mulai dipupuk. Pelan-pelan tapi pasti. Ada ruang buat ngobrol, buat salah, dan buat tumbuh. Nggak ada yang langsung jago. Semua orang berproses. Bahkan yang sekarang jadi dosen pun dulunya pernah nggak lulus mata kuliah. Serius. Tapi mereka tetap berdiri di depan kelas, karena mereka tahu nilai A bukan jaminan hidup sukses. Tapi bertahan setelah gagal, itu yang nilainya nggak bisa ditulis di transkrip.

Baca juga: BKOT, Dukung Masa Depan Anak Lebih Pasti Bersama UBSI Kampus Cibitung

Jadi, kalau kamu lagi di titik rendah, di mana dunia rasanya kayak penghapus yang tiba-tiba ngilangin semua harapan, tenang. Itu bagian dari cerita. Dan kamu punya hak untuk gagal, belajar, dan mulai lagi. Kampus bukan tempat buat jadi sempurna. Kampus adalah tempat buat belajar jadi manusia.

Manusia yang bisa jatuh, tapi juga tahu gimana caranya bangun. Dan kalau kamu butuh tempat yang menghargai proses, bukan cuma hasil akhir, UBSI Kampus Cibitung bisa jadi rumah belajar yang tepat. Di sana, kamu nggak harus pura-pura kuat. Karena prosesmu, seberantakan apa pun itu, tetap layak dihargai.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.