Ketika Orang Tua Masuk Kampus Lewat BKOT: Antara Haru, Harap, dan Harus Paham Teknologi

0 16

BSINews, Bekasi – Biasanya yang deg-degan itu anaknya. Tapi di Auditorium Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang, Sabtu siang (12/7) kemarin, justru yang banyak berkeringat dingin adalah orang tuanya. Bukan karena AC mati, bukan juga karena bayarannya nunggak, tapi karena mereka resmi diajak masuk ke dunia yang makin canggih, dunia anak kuliahan digital.

Dalam gelaran BKOT (Bincang Kampus bersama Orang Tua), lebih dari 300 orang tua datang dengan raut wajah campur aduk. Ada yang semangat bawa catatan kecil, ada yang sibuk ngerekam pakai HP, ada juga yang masih heran kenapa sekarang memantau anak kuliah bisa lewat aplikasi.

Baca juga: UBSI Kampus Pontianak Gelar BKOT, Perkuat Kolaborasi Kampus dan Orang Tua

Acara ini dibuka oleh sambutan virtual dari Rektor UBSI, Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi. Meski lewat layar, pesannya terasa nyata, bahwa UBSI bukan sekadar kampus, tapi tempat membentuk manusia siap pakai, secara akademik, teknologi, dan mentalitas. Dan tentu, sambil pamer sedikit, rektor juga menyebutkan kalau akreditasi UBSI sekarang sudah “Unggul”. Ini kayak bilang ke orang tua, “Tenang, Pak Bu, anak Bapak Ibu kuliah di tempat yang nggak kaleng-kaleng.”

Lanjut ke sambutan langsung dari Kepala Kampus UBSI kampus Kaliabang, Muhamad Tabrani, yang menyampaikan hal yang sebetulnya jarang disuarakan kampus, bahwa keberhasilan mahasiswa bukan cuma urusan dosen, tapi urusan bersama—kampus dan keluarga.

“Makanya, BKOT ini bukan cuma formalitas, tapi bentuk keseriusan UBSI ngajak orang tua ngopi bareng dalam urusan masa depan anaknya,” pungkas Tabrani, Sabtu (12/7).

Nah, di sinilah kemudian muncul istilah baru buat sebagian orang tua, MYUBSI Parent. Sebuah aplikasi kampus yang memungkinkan orang tua “ngintip” anaknya kuliah atau enggak, dapat nilai berapa, aktif di kampus atau cuma aktif rebahan. Beberapa orang tua terlihat terkagum-kagum, sebagian lagi panik karena belum bisa install aplikasinya. Untung panitia sabar dan stand by bantuin satu per satu.

Sesi makin hidup saat Dyah Mustika Wardani dari Prodi Pariwisata dan Perhotelan UBSI bicara soal praktik, bukan cuma teori. “Kami percaya, pengalaman adalah guru terbaik,” katanya. Dan betul juga. Soal masak rendang atau bikin laporan keuangan itu beda rasanya kalau cuma dibaca di buku dibanding langsung praktek. Kampus ini ngajarin dua-duanya.

Dari sisi Kemahasiswaan UBSI, ada Heru Purwanto yang mengingatkan pentingnya kegiatan non-akademik. Soalnya, pintar doang nggak cukup buat hidup di dunia kerja yang makin penuh drama dan deadline. Harus punya leadership, inisiatif, dan mental baja. Kampus memberi panggung, tinggal anaknya mau naik atau enggak.

Yang menarik, BKOT ini juga jadi semacam terapi kolektif bagi orang tua. Mereka saling melirik, saling angguk, bahkan saling bisik soal aplikasi, dosen favorit, hingga obrolan klasik “Anak saya ambil jurusan apa ya, kok susah saya hafal namanya?”

Tapi dari semua itu, ada satu pesan yang terasa kencang disampaikan kampus, “UBSI nggak cuma ngajarin anak anda jadi sarjana, tapi juga manusia. Manusia yang melek teknologi, punya etos kerja, dan semoga nggak lupa pulang.”

Baca juga: UBSI Kampus Margonda Ajak Orang Tua Aktif Dampingi Anak di Dunia Kampus lewat BKOT

Tabrani menambahkan, buat para orang tua, mungkin inilah momen pertama mereka kembali duduk di ruang kuliah, bukan sebagai mahasiswa, tapi sebagai “partner akademik” anaknya. Siap nggak siap, sekarang mereka juga bagian dari ekosistem digital.

Di zaman di mana nilai IPK bisa kalah penting dari attitude, pendekatan UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terasa relevan. Menggandeng orang tua sejak awal bukan sekadar basa-basi, tapi strategi agar anak-anak ini nggak cuma lulus, tapi juga berhasil.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.