Mahasiswa UBSI Ajak Warga RW 20 Tangerang Wujudkan Sila Ketiga Lewat Aksi Gotong Royong
BSINews, Tangerang – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap nilai-nilai Pancasila melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Lima mahasiswa UBSI, yakni Julian Diwandara, Muhammad Gilang Pratama, Muhammad Irshad, Devina Najla Nabila, dan Nanda Putri Alifah Fakaubun, melaksanakan kegiatan gotong royong bersama warga RW 20 Kecamatan Tangerang, pada Kamis (28/12/24). Aksi ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang mengangkat semangat kebersamaan dan kebersihan lingkungan sebagai wujud implementasi Sila Ketiga Pancasila.
Kegiatan ini menyasar isu krusial terkait pengelolaan sampah, yang menjadi salah satu tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menghasilkan sekitar 175.000 ton sampah per hari, namun tidak seluruhnya dikelola dengan baik. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup.
Mahasiswa UBSI Ajak Warga RW 20 Tangerang Wujudkan Sila Ketiga Lewat Aksi Gotong Royong
Menjawab permasalahan tersebut, para mahasiswa UBSI berkolaborasi dengan warga dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) KSM Flamboyan dalam kegiatan bersih lingkungan. Selain membersihkan area sekitar RW 20, mereka juga memberikan edukasi kepada warga mengenai cara memilah sampah yang benar.
“Melalui gotong royong ini, kami tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga mengedukasi warga untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang cara memilah sampah, kami berharap dapat mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan,” ujar Julian Diwandara dalam keterangan pers, Kamis (28/12/24).
Warga turut diajak memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dijual ke pengepul untuk didaur ulang. Langkah ini dinilai mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir serta mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Warseno, Ketua TPS3R KSM Flamboyan, sistem pengelolaan sampah di wilayah ini melibatkan partisipasi aktif warga. Sampah dipilah sesuai jenis, lalu diangkut petugas berdasarkan zonasi. Sampah organik seperti nasi dan sisa makanan digunakan sebagai pakan ikan lele atau bahan baku pupuk kompos. Proses fermentasi dilakukan selama tiga minggu menggunakan larutan EM4 dan teknik aerator bambu. Kompos yang dihasilkan dikemas dan dijual melalui koperasi atau dibagikan ke warga sebagai bentuk program CSR.
Baca juga: Gotong Royong Anak Bangsa, Edukasi Lingkungan dan Kebersamaan di Rumah Belajar Kapuk
Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dan logam dikumpulkan, dipilah, dan dijual ke pengepul. Sisa residu dari pengolahan sampah dibuang ke TPA Cipeucang sesuai jadwal. Sistem terintegrasi ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Gotong royong ini juga membangun semangat kebersamaan di antara warga. Kita semua bekerja bersama untuk kepentingan bersama, menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan,” tambah Muhammad Gilang Pratama.
Melalui kegiatan ini, RW 20 Kecamatan Tangerang berharap dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan budaya gotong royong dan kesadaran lingkungan. Pemerintah setempat pun menyatakan dukungannya terhadap inisiatif warga dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan aman.(Niken)