UBSI Kampus Purwokerto Gelar Seminar Cyberbullying untuk Guru SMA N 1 Rawalo

0 9

BSINews, Purwokerto Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Purwoketo, yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung literasi digital di kalangan pendidik. Pada Rabu (25/9), UBSI kampus Purwokerto menggelar seminar di SMA N 1 Rawalo dengan topik cyberbullying yang ditujukan bagi para guru.

Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran sekaligus membekali tenaga pendidik dengan wawasan baru mengenai bahaya perundungan di dunia maya. Dengan pemahaman tersebut, guru diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam melindungi siswa dari ancaman yang hadir di ranah digital.

Seminar Cyberbullying untuk Guru SMA N 1 Rawalo

Seminar dipimpin oleh Nuzul Imam, Ketua Program Studi (Kaprodi) Teknologi Komputer UBSI kampus Purwokerto. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan definisi cyberbullying, bentuk-bentuk yang umum terjadi, serta dampak psikologis dan sosial yang dapat menimpa korban. Ia menekankan bahwa perundungan digital lebih berbahaya dibandingkan perundungan konvensional karena sifatnya yang sulit dihindari.

“Korban cyberbullying bisa mengalami depresi, kecemasan, bahkan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan korban kehilangan kepercayaan diri atau lebih parah lagi, berujung pada tindakan yang fatal seperti bunuh diri, ujarnya dari keterangan rilis yang diterima pada Senin (30/9).

Baca juga : Universitas BSI Gelar Seminar Cyber Awarness dan Cyber Threat Intelligence Kerja Sama dengan BSSN

Pada sesi berikutnya, Nuzul Imam memberikan arahan mengenai langkah pencegahan dan penanganan yang bisa diterapkan guru. Ia menyampaikan bahwa peran guru sangat penting dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi siswa.

“Salah satu langkah pencegahan yang efektif adalah edukasi digital kepada siswa sejak dini tentang penggunaan internet yang bertanggung jawab dan etika berkomunikasi di dunia maya,jelasnya.

Selain pencegahan, seminar ini juga membekali guru dengan strategi untuk mendampingi siswa yang menjadi korban cyberbullying. Guru didorong bekerja sama dengan orang tua dan memberikan dukungan psikologis agar siswa tidak merasa sendirian menghadapi masalah.

Dengan cara ini, lingkungan sekolah dan keluarga dapat berkolaborasi untuk menciptakan perlindungan menyeluruh bagi anak. Pendekatan kolaboratif ini memperkuat bahwa penanganan cyberbullying memerlukan dukungan semua pihak.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi yang rutin dilakukan UBSI kampus Purwokerto dalam membangun literasi digital. Dengan meningkatnya penggunaan internet di kalangan remaja, UBSI menilai penting untuk membekali para pendidik agar siap menghadapi tantangan di era digital. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehat, dan terbebas dari ancaman perundungan daring. (Alisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.