AI Jadi Game Changer, Mochammad Rizky Kusumayudha Kupas Strategi Bisnis di Era Digital

0 9

BSINews, Karawang — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) lagi-lagi jadi magnet perhatian, terutama saat Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang menggelar Seminar Kemerdekaan Digital pada Rabu (3/9). Salah satu momen paling ditunggu adalah paparan dari Mochammad Rizky Kusumayudha, akademisi sekaligus praktisi teknologi, yang mengulik tuntas soal pemanfaatan AI untuk bisnis di era digital.

AI Bukan Sekadar Tren, tapi Kebutuhan Bisnis

Dalam sesi interaktif, Rizky menekankan bahwa transformasi digital sudah menjadi kebutuhan mendesak. Ia mencontohkan bagaimana AI kini merasuk ke berbagai sektor, mulai dari sistem rekomendasi e-commerce, chatbot layanan pelanggan, hingga analisis data pemasaran.

“Perusahaan yang tidak cepat beradaptasi berpotensi tertinggal jauh dari kompetitor,” tegasnya di hadapan ratusan peserta seminar.

Prediksi PwC Global Artificial Intelligence Study bahkan menunjukkan kontribusi AI terhadap perekonomian global dapat mencapai 15,7 triliun dolar AS pada 2030.

Baca juga: UBSI Kampus Karawang Sukses Sosialisasikan Program Beasiswa di SMAN 1 Rawamerta

Rizky juga menyoroti peluang AI bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dengan analisis data berbasis AI, pelaku UMKM bisa lebih peka membaca tren konsumen, menentukan strategi promosi, hingga memprediksi produk yang berpotensi laris.

“Banyak UMKM sebenarnya punya potensi besar, tapi masih kesulitan memahami perilaku pasar. Di sinilah AI dapat menjadi solusi agar langkah bisnis mereka lebih tepat sasaran,” ujar Rizky.

Hasil riset McKinsey mendukung hal ini, menunjukkan bahwa perusahaan yang mengadopsi AI berpotensi meningkatkan profitabilitas hingga 20 persen lebih tinggi dibanding yang belum.

Pentingnya Etika dan Regulasi AI

Meski menjanjikan banyak peluang, Rizky mengingatkan bahwa AI hanyalah alat, bukan penentu akhir. Etika, keadilan, dan regulasi tetap harus jadi pegangan dalam penggunaannya. Ia menekankan pentingnya regulasi yang jelas serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri agar pemanfaatan AI berjalan pada jalur yang tepat.

Pandangan tersebut sejalan dengan laporan UNESCO (2021) yang menekankan human-centered AI, yakni pengembangan teknologi yang berpihak pada manusia dan tidak semata mengejar profit.

Diskusi semakin hidup ketika peserta melontarkan berbagai pertanyaan. Salah satu siswi Sekolah Menengah Atas (SMA), Rinda, mengaku wawasannya terbuka setelah mengikuti seminar.

“Sekarang saya paham kalau AI bukan cuma soal robot, tapi bisa dipakai di bisnis kecil sekalipun. Jadi lebih semangat lihat peluang masa depan,” ungkapnya dalam rilis yang diterima, Kamis (4/9).

Melalui kegiatan ini, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif menegaskan komitmennya dalam mempersiapkan generasi muda Karawang agar lebih siap menghadapi tantangan era digital. Menutup sesi, Rizky mendorong audiens untuk mengubah mindset dengan memandang AI sebagai peluang yang harus dimanfaatkan secara cerdas, etis, dan berkelanjutan.

Seminar ini pun menjadi bukti bahwa teknologi, khususnya AI, tidak lagi sekadar konsumsi para ahli komputer, melainkan bagian penting dari strategi kemandirian bangsa di era global.(Siti Hafizah)

Leave A Reply

Your email address will not be published.