Memecah Keheningan: Menggali Potensi ‘Silent Students’ di Era Digital
BSINews, Tasikmalaya — Di balik gemerlap layar dan kemudahan interaksi digital, tersembunyi sebuah ironi dalam dunia perkuliahan daring. Kita menyaksikan fenomena “silent students” mahasiswa yang hadir secara virtual, mengerjakan tugas dengan tekun, namun tenggelam dalam kebisuan di ruang-ruang diskusi. Mereka bagaikan penonton setia di teater digital, menyerap informasi tanpa berani tampil di atas panggung gagasan. Mengapa keheningan ini begitu mendalam?
Memecah Keheningan: Menggali Potensi ‘Silent Students’ di Era Digital
Bambang Kelana Simpony, Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif, menyoroti isu krusial ini. Beliau meyakini bahwa keberanian bersuara adalah fondasi penting dalam proses belajar, apalagi di era digital yang menuntut kelincahan komunikasi. “Banyak mahasiswa menyimpan ide brilian, namun rasa takut salah, malu, atau merasa tak didengar membungkam potensi mereka,” ungkapnya. Padahal, dunia kerja yang kompetitif justru menanti individu yang mampu mengartikulasikan gagasan dengan percaya diri.
Kelas digital, yang seharusnya menjadi arena yang aman dan inklusif untuk bertukar pikiran, justru sering kali menjadi panggung yang intimidatif. Platform-platform seperti Zoom, Google Meet, atau bahkan Learning Management System (LMS) yang dimiliki UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan ide-ide, bukan tembok yang memisahkan. Namun, transisi dari dunia nyata ke dunia maya tampaknya belum sepenuhnya mulus bagi sebagian mahasiswa. Mereka masih berjuang untuk membangun interaksi yang otentik di ruang virtual.
UBSI kampus Tasikmalaya, sebagai institusi yang berakar pada teknologi dan berorientasi pada aksesibilitas biaya, berupaya aktif memecah keheningan ini. Melalui strategi pengajaran interaktif dan pendekatan yang personal, para dosen berusaha menciptakan iklim belajar yang kondusif, di mana setiap suara dihargai dan setiap pendapat didengar.
“Kami di UBSI berusaha menciptakan suasana belajar yang tidak kaku. Mahasiswa boleh berbeda pendapat, yang penting tetap santun dan argumentatif. Dari situ mereka belajar berpikir kritis dan komunikatif,” jelas Bambang.
Baca Juga:Ngopi Boleh, Teh Jumbo Nanti Dulu Yuk, Cintai Diri dengan Cara Sehat!
Lebih dari sekadar unjuk kepintaran, berbicara di kelas adalah tentang membangun keberanian, memupuk rasa percaya diri, dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Mari kita ajak para “silent students” untuk berani mengajukan pertanyaan sederhana, memberikan tanggapan singkat, atau sekadar berbagi perspektif dalam forum diskusi. Setiap suara, sekecil apapun, adalah kontribusi berharga dalam membangun ekosistem belajar yang dinamis.
Dunia digital adalah panggung besar bagi opini dan inovasi. Mahasiswa UBSI, sebagai agen perubahan masa depan, harus berani mengambil peran aktif, bukan hanya menjadi penonton pasif. Mari kita pecah keheningan, satukan suara, dan bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih cerah. (Sfkrhm)