Riset Dosen UBSI Buktikan Lambanapu Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Unggulan Sumba Timur

0 9

BSINews, Yogyakarta — Penelitian dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif yang telah terakreditasi Unggul kembali memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia. Melalui riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Media Wisata Volume 24 Nomor 1 edisi Mei 2026, Dr. Ani Wijayanti dan Atun Yulianto berhasil mengungkap potensi besar Desa Lambanapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagai desa wisata yang mampu menggabungkan kekuatan alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Riset penelitian berjudul Development Strategy for a Tourism Village Based on Natural and Cultural Potential in Lambanapu Village, East Sumba Regency tersebut menunjukkan bahwa Desa Lambanapu memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan. Hasil analisis menempatkan desa tersebut pada posisi yang sangat strategis untuk dikembangkan melalui penguatan potensi yang sudah dimiliki.

Dr. Ani Wijayanti menjelaskan bahwa riset penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi unggulan Desa Lambanapu sekaligus merumuskan strategi pengembangan yang tepat agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Baca juga : Kaji Pemanfaatan Gemini AI, Dosen UBSI Kampus Purwokerto Sukses Raih Hibah Penelitian Kemdiktisaintek 2026

“Desa Lambanapu memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat kuat sebagai modal pengembangan desa wisata. Melalui penelitian ini, kami menemukan bahwa potensi tersebut tidak hanya mampu menarik wisatawan, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikelola secara terencana dan berkelanjutan,” jelas Ani dalam rilis yang diterima, Jumat (12/6).

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menemukan sejumlah daya tarik yang menjadi kekuatan utama Desa Lambanapu. Dari sisi wisata alam, terdapat Bukit Tanau dan Bukit Seribu yang menawarkan panorama khas bentang alam Sumba. Sementara dari sisi budaya, desa ini memiliki Situs Lambanapu sebagai warisan sejarah, berbagai pertunjukan seni tradisional yang dikelola Sanggar Ori Angu dan Sanggar Li Luri, serta kerajinan tenun ikat yang telah menjadi identitas masyarakat setempat.

Menurut Ani, kekuatan terbesar Desa Lambanapu terletak pada kombinasi antara keindahan alam dan keaslian budaya yang masih terjaga hingga saat ini.

“Kami melihat bahwa wisatawan saat ini tidak hanya mencari pemandangan yang indah, tetapi juga pengalaman autentik. Desa Lambanapu memiliki keduanya. Inilah yang menjadi nilai lebih dibandingkan banyak destinasi lainnya,” jelasnya.

Riset Dosen UBSI Berhasil Petakan Potensi dan Strategi Pengembangan Desa Wisata Lambanapu

Riset dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Sebanyak 10 informan yang terdiri dari pengelola desa wisata, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha lokal dilibatkan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan peluang pengembangan desa.

Hasil analisis SWOT, IFAS, EFAS, dan Matriks Internal-Eksternal (IE) menunjukkan bahwa Desa Lambanapu berada pada Kuadran I, yang menandakan kondisi internal yang kuat dan peluang eksternal yang besar. Posisi tersebut menunjukkan bahwa desa memiliki prospek cerah untuk terus tumbuh melalui strategi pengembangan yang agresif dan berkelanjutan.

Atun Yulianto menambahkan bahwa salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah tingginya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata. Bahkan, sekitar 60 persen anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berasal dari kalangan perempuan.

“Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengembangan desa wisata. Partisipasi perempuan yang cukup besar menunjukkan adanya modal sosial yang kuat untuk mendukung pengelolaan pariwisata berbasis komunitas,” katanya.

Berdasarkan hasil penelitian, tim peneliti merekomendasikan sejumlah strategi pengembangan, mulai dari peningkatan infrastruktur pendukung, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan paket wisata terintegrasi, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk promosi destinasi dan pemasaran produk lokal.

Baca juga : Lolos Hibah Kemendiktisaintek 2026, Dosen UBSI Ubah Limbah Tekstil dan Mendong Jadi Produk Bernilai Ekonomi Tinggi

“Kami merekomendasikan pengembangan paket wisata yang menggabungkan wisata alam, budaya, dan pengalaman langsung bersama masyarakat. Wisatawan dapat menikmati aktivitas trekking, mengunjungi situs budaya, menyaksikan pertunjukan seni tradisional, hingga belajar membuat tenun ikat khas Sumba. Konsep seperti ini memiliki nilai jual yang tinggi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” ungkap Atun.

Selain aspek ekonomi, penelitian ini juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal sebagai fondasi utama pengembangan desa wisata. Menurut para peneliti, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga identitas budaya dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui hasil penelitian tersebut, Dr. Ani Wijayanti dan Atun Yulianto berharap strategi yang dirumuskan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, pengelola desa wisata, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan Desa Lambanapu sebagai destinasi wisata unggulan di Sumba Timur.

“Potensi yang dimiliki Desa Lambanapu sangat besar. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, kami optimistis desa ini dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menjaga warisan budaya dan alam untuk generasi mendatang,” tutup Ani.

Leave A Reply

Your email address will not be published.