Gen Z: Arsitek Masa Depan Digital, Bukan Sekadar Penonton Layar!
BSINews, Tasikmalaya — Di tengah pusaran disrupsi kecerdasan buatan (AI), pertanyaan mendasar menghantui: Akankah Generasi Z menjadi nahkoda yang mengendalikan arah perubahan, atau sekadar penumpang pasif yang terombang-ambing di lautan teknologi? Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari realitas yang menuntut respons cepat dan tepat dari seluruh elemen bangsa, terutama institusi pendidikan.
Gen Z: Arsitek Masa Depan Digital, Bukan Sekadar Penonton Layar!
Bambang Kelana Simpony, seorang dosen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif menyerukan agar Gen Z tidak terlena dalam konsumsi teknologi semata. Menurutnya, era AI adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan peluang inovasi dan efisiensi yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun, di sisi lain, ia mengancam eksistensi berbagai profesi yang mengandalkan pekerjaan rutin dan manual. Hanya mereka yang memiliki kemampuan adaptasi, literasi digital mumpuni, dan daya pikir kritis yang akan mampu bertahan, bahkan unggul, di era ini. Ibarat seorang peselancar, Gen Z harus piawai membaca ombak perubahan, menguasai teknik berselancar, dan berani mengambil risiko untuk mencapai puncak gelombang. Jika tidak, mereka hanya akan tergulung dan terhempas ke tepi pantai.
Lantas, bagaimana cara membekali Gen Z dengan amunisi yang dibutuhkan untuk menaklukkan tantangan AI?
Jawabannya terletak pada pendidikan yang relevan dan adaptif. Disinilah peran strategis UBSI menjadi sangat krusial. UBSI, dengan fokus pada bidang informatika, telah berupaya keras menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri. Pembelajaran tidak hanya berpusat pada teori, tetapi juga praktik langsung yang relevan dengan perkembangan teknologi terkini, seperti AI, data science, dan pengembangan aplikasi. Dengan demikian, lulusan UBSI diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja. Mereka diharapkan dapat menjadi wirausahawan muda yang memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan potensi lokal, seperti UMKM di Tasikmalaya dan sekitarnya.
Baca Juga:Dosen UBSI Gelar Pelatihan “Asking and Giving Opinion” untuk Remaja Masjid Jami’ Al Muttaqin
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, generasi muda juga perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis dan etika digital. Mereka harus mampu mengevaluasi informasi secara objektif, membedakan antara fakta dan opini, serta memahami dampak sosial dan etika dari teknologi yang mereka kembangkan. Dengan kata lain, mereka harus menjadi inovator yang bertanggung jawab dan berintegritas.
Pada akhirnya, nasib masa depan digital Indonesia ada di tangan Generasi Z. Dengan pendidikan yang tepat, dukungan dari berbagai pihak, dan semangat pantang menyerah, mereka bukan hanya akan menjadi pekerja, tetapi arsitek masa depan digital yang gemilang. Mari kita berikan mereka panggung untuk berkarya dan menciptakan perubahan positif bagi bangsa dan negara. (Sfkrhm)