IPS Juga Bisa Jadi Programmer! Kampus Ini Buktikan Logika Lebih Penting dari Kalkulus
BSINews, Tasikmalaya — Saya dari IPS, apa mungkin jadi programmer?” Pertanyaan ini mencerminkan keraguan yang menghantui banyak calon talenta digital di Indonesia. Anggapan keliru bahwa hanya mereka yang mahir matematika yang bisa berkecimpung di dunia pemrograman telah menjadi tembok penghalang yang tak terlihat. Padahal, dunia digital yang dinamis ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berhitung cepat.
IPS Juga Bisa Jadi Programmer! Kampus Ini Buktikan Logika Lebih Penting dari Kalkulus
Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif dengan tegas membantah anggapan tersebut. Beliau menekankan bahwa fondasi utama pemrograman bukanlah kalkulus rumit atau aljabar linear yang menakutkan, melainkan logika yang jernih dan kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) yang terasah.
“Ini adalah mitos yang paling merugikan. Saya sering bertemu calon mahasiswa berbakat yang mengurungkan niatnya karena merasa tidak memiliki ‘bakat’ matematika. Padahal, yang terpenting adalah kemampuan berpikir logis,” ujarnya.
Baca Juga:Ingin Jadi Programmer Handal? UBSI Jawab Mimpimu Lewat Program Rekayasa Perangkat Lunak
Logika dalam pemrograman, menurut Bambang, adalah logika sehari-hari yang kita gunakan dalam berbagai situasi. Ambil contoh sederhana, logika kondisional (if-then-else) saat kita memutuskan membawa payung saat cuaca mendung. Atau logika perulangan (loop) saat kita menata buku di rak secara sistematis. Kemampuan-kemampuan dasar ini inheren dalam diri setiap individu, terlepas dari latar belakang pendidikan mereka. Yang membedakan seorang programmer hebat bukanlah kecepatan menghitung angka kompleks, melainkan ketekunan, perhatian terhadap detail, dan kemauan untuk terus belajar dari kesalahan. Sifat-sifat ini melampaui batasan jurusan atau sekolah yang pernah ditempuh.
UBSI, menyadari hal ini, secara proaktif merancang metodologi pembelajaran yang inklusif dan ramah bagi pemula dari berbagai latar belakang. Pendekatan bertahap dan analogis menjadi kunci. Konsep-konsep abstrak dipresentasikan melalui analogi dunia nyata. Misalnya, ‘variabel’ diibaratkan sebagai ‘kotak penyimpanan’ atau ‘fungsi’ sebagai ‘resep masakan’. Selain itu, fokus utama adalah pada pengembangan algoritma, bukan sekadar menghafal syntax kode. Mahasiswa diajak untuk berpikir kritis, merumuskan langkah-langkah logis untuk menyelesaikan masalah sebelum menulis satu baris kode pun. Yang tak kalah penting adalah lingkungan pembelajaran yang suportif, di mana tidak ada pertanyaan yang dianggap “bodoh” dan setiap mahasiswa didorong untuk berbagi kesulitan mereka. Perspektif unik dari mahasiswa dengan latar belakang non-STEM justru seringkali memberikan solusi inovatif.
Misi UBSI jelas: mencetak sumber daya manusia digital yang beragam dan inklusif. Indonesia membutuhkan lebih banyak programmer untuk menjawab tantangan era digital, dan kita tidak bisa membatasi diri hanya pada mereka yang unggul dalam matematika. Universitas BSI membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa saja yang memiliki hasrat untuk menciptakan dan memecahkan masalah dengan teknologi.
Jadi, jika Anda berasal dari jurusan IPS, Bahasa, atau bidang ilmu sosial lainnya, dan Anda tertarik dengan dunia teknologi, jangan biarkan mitos matematika menghentikan langkah Anda. Minat yang membara dan ketekunan adalah modal utama Anda. Di UBSI, kami siap memberikan Anda peta dan kompas untuk menavigasi dunia pemrograman yang menarik ini. Bersama, mari kita patahkan mitos dan wujudkan potensi digital Indonesia yang sesungguhnya. (Sfkrhm)