Wisudawan Terbaik yang Menjejak Karawang hingga Singapura

0 84

BSINews, Bekasi – Di antara ribuan toga yang melintas di BSI Convex Bekasi, ada satu sosok yang tampil tenang seperti orang yang sudah menempuh perjalanan jauh lalu tiba di rumah dengan hati utuh. Namanya Muhammad Ridzki Nugraha. Anak Karawang yang tidak pernah menyangka perpustakaan kampus akan menjadi stasiun awal menuju hidup yang jauh dari bayangan awalnya.

Ridzki bercerita bahwa kesan pertamanya tentang kampus, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) bukan soal gedung, bukan juga soal kelas, tetapi tentang ruang yang sering kali luput dari perhatian mahasiswa lain. Perpustakaan. Ruang yang sunyi, berbau kertas, dan terasa seperti jeda di tengah riuhnya kuliah. Tempat itu menjadi pelarian sekaligus titik balik. Katanya, itu tempat favoritnya selama menjadi mahasiswa. Kadang tempat yang tenang memang lebih jujur dalam membentuk seseorang.

Baca juga: Rektor Kampus dan Deg-degan yang Tidak Pernah Diceritakannya di Depan Wisudawan

Ia memilih Program Studi Sistem Informasi karena jurusan ini memadukan logika teknologi dan cara berpikir manajerial. Pilihan yang kini terbukti tepat. Dua mata kuliah menjadi fondasi penting baginya yaitu Web Programming dan Project Management.

Saat sudah bekerja sebagai software engineer, dua mata kuliah itu terasa seperti senjata yang sudah diasah jauh sebelum ia terjun ke industri. Tidak ada drama kebingungan. Tidak ada cerita tersesat. Yang ada hanya ritme kerja yang bisa ia ikuti dengan percaya diri.

Perjalanannya selama kuliah penuh liku yang mungkin membuat mahasiswa lain memilih menyerah. Ia pernah bergabung dengan BEM UBSI kampus Karawang di divisi komunikasi dan informasi selama enam bulan sebelum akhirnya harus mundur karena jadwal tumbukan.

Setelah itu hidupnya berubah cepat. Ia diterima di Bangkit Academy yang digagas Google, Tokopedia dan Traveloka. Fokusnya cloud computing. Nilainya nyaris sempurna. Lalu ia lanjut ke program AWS Re Start. Lulus. Mendapat sertifikat profesi.

Masih belum cukup. Ia kemudian mengikuti kelas Python dari Code in Place Stanford University dan di situ ia bertemu mahasiswa dari UCLA, Stanford, Harvard sampai Monash. Bahkan ada tawaran untuk menjadi mentor. Tawaran yang harus ia tolak karena dunia memanggilnya ke arah lain.

Panggilan itu bernama magang. Di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Enam bulan dijalani dengan tekun sampai akhirnya ia diangkat sebagai karyawan tetap. Kini ia bekerja full time secara remote untuk perusahaan Singapura sebagai software engineer. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi perjuangannya jauh dari sederhana.

Ketika dinyatakan sebagai wisudawan terbaik UBSI, Ridzki hanya tertawa kecil. Baginya predikat itu tidak pernah ada di rencana hidup. Tidak pernah ada di ekspektasi. Ia hanya melakukan apa yang diperlukan setiap hari. Sisanya adalah bonus dari hidup.

Ia punya satu tips. Kalimat yang pendek tetapi berat maknanya. “Cintai apa yang kamu kerjakan. Lanjutkan apa yang kamu mulai. Selesaikan semuanya dengan penuh tanggung jawab. Tidak usah rumit-rumit.” Prinsip sederhana kadang lebih ampuh daripada motivasi panjang.

Ridzki berencana melanjutkan S2 dan menargetkan posisi senior software engineer dalam beberapa tahun ke depan. Ia tidak menutup kemungkinan untuk kembali menempuh pendidikan di UBSI karena menurutnya biaya di kampus ini masih yang paling masuk akal di antara opsi lain.

Tentang dosen, ia bicara apa adanya. Ada yang cocok. Ada yang tidak. Jika ada materi yang kurang nyambung, ia menyiasatinya dengan mencatat poin penting dan mempelajarinya sendiri. Sesuatu yang mungkin terdengar biasa, tetapi justru itu yang membentuk mentalnya sebagai pembelajar mandiri.

Dunia IT memang menuntut orang untuk tidak manja. 80% ilmu di industri berubah begitu cepat sampai kampus tidak mungkin mengejar semuanya. Sisanya mahasiswa harus menjemput sendiri.

Menjelang penutup, ia menyampaikan harapan kecil yang terasa besar. “Saya ingin lulusan UBSI memegang peran strategis di berbagai sektor, dalam skala nasional maupun multinasional. Saya ingin adik Tingkat tidak pusing berlebihan, tidak panik menghadapi perubahan, tidak malas belajar hal baru. Jalani dengan ikhlas. Selesaikan apa yang sudah dimulai. Dan tetap up to date dengan industri yang bergerak cepat seperti video TikTok yang tidak ada habisnya,” ungkapnya.

Baca juga: Andri, Wisudawan Teknologi Komputer UBSI Kampus Tegal Jadi Lulusan Terbaik di Wisuda UBSI 2025

Perjalanan Ridzki mengajarkan satu hal sederhana. Bahwa mimpi tidak selalu dimulai dari tempat glamor. Kadang ia tumbuh dari perpustakaan kecil. Dari malam malam belajar sendirian. Dari kelas online gratis. Dari keputusan menunda tawaran besar demi kesempatan lain. Dari konsistensi yang tidak dilihat siapa pun.

Dari Karawang sampai Singapura, kisahnya bukan sekadar pencapaian. Ini cerita tentang keberanian anak muda yang memeluk kesempatan kecil lalu menjadikannya pintu ke dunia yang lebih luas.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.