Jalan Sunyi Anak IT yang Diam-Diam Melampaui Banyak Hal

0 63

BSINews, Bekasi – Di tengah hiruk-pikuk toga dan kamera yang sibuk mengabadikan senyum pakai filter natural, ada satu nama yang muncul dengan aura tenangnya sendiri. Mohamad Tesyar Razbani. Anak Sukabumi yang menjalani hidup seperti program yang ia tulis sendiri. Jelas, terstruktur, dan tidak neko-neko.

Siang bekerja sebagai backend engineer secara remote. Malam memimpin tim startup Linkbee sebagai tech lead. Usianya muda, tapi beban tanggung jawabnya sudah seperti orang yang punya tiga monitor dan empat deadline sekaligus.

Baca juga: Gudangnya Anak IT Kuliah? Ya, di Teknologi Informasi UBSI Kampus Tangerang

Ketika ia mengenang awal kuliah di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Sukabumi, Tesyar tidak menyebut hal-hal megah. Ia bicara soal admin kampus yang aktif. Dosen yang mudah dihubungi. Suasana perkuliahan yang tenang dan tidak terlalu banyak tugas. Lebih fokus ke praktik. Bagi anak IT, ketenangan itu sama berharganya dengan jaringan wifi yang stabil.

Jurusan ia pilih karena minatnya memang sudah nyasar ke dunia teknologi sejak awal. Tidak ada drama. Tidak ada kisah berbelok arah. Semua mata kuliah programming ia sebut sebagai favorit. Ia seperti orang yang bisa jatuh cinta pada baris kode lebih cepat daripada jatuh cinta pada manusia.

Tesyar menyebut dirinya mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang. Kuliah pulang. Bukan karena tidak ingin aktif, tetapi karena di angkatannya tidak ada UKM yang sesuai minat. Namun ia tetap masuk HIMA IF, agar tetap punya tempat untuk bertukar pikiran dengan sesama penghuni dunia logika.

Ketika diumumkan menjadi peraih cumlaude, ia menanggapinya santai. Katanya sudah tidak sespesial dulu. Bukan pesimis, hanya realistis. Banyak mahasiswa sekarang yang juga dapat predikat cumlaude. Dunia akademik memang makin kompetitif. Semua orang bertumbuh. Semua orang berjuang. Dan ia menganggap dirinya bagian kecil dari rombongan itu.

Tips belajarnya sederhana. Fokus praktik. Kerjakan tugas kelompok agar tidak burnout. Bagi waktu dengan baik. Prinsip yang kelihatannya ringan, tetapi sebenarnya butuh disiplin yang tidak bisa dibangun semalam.
“Ke depan saya ingin melanjutkan pendidikan S2. Bukan dalam waktu dekat. Saya ingin mengumpulkan pengalaman kerja nyata dulu. Katanya ingin punya sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya dari sisi penelitian, tetapi bagaimana teori itu hidup di industri IT. Saya ingin menginjak tanah sebelum bicara konsep,” ungkap Tesyar.

Jalur pendidikan yang ingin ia ambil pun tetap di bidangnya. Entah teknologi informasi atau informatika. Ia tidak ingin berpindah haluan. Dunia IT sudah menjadi tempatnya berpijak dan bertualang.

Yang ia paling suka dari sistem pengajaran UBSI adalah fokus pada project. Ia percaya bahwa project adalah mata uang paling berharga di dunia IT. Portofolio lebih jujur daripada teori. Hasil kerja lebih lantang daripada slide presentasi.

Tesyar punya harapan sederhana namun jernih untuk lulusan UBSI. Ia ingin ilmu yang didapat bisa diterapkan kepada masyarakat. Ia ingin generasi selanjutnya tetap punya pengetahuan yang relevan dengan zamannya. Ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang tidak hanya duduk manis di ruang kelas tetapi turun langsung pada kehidupan.

Baca juga: Wisudawan Terbaik yang Menjejak Karawang hingga Singapura

“Tetap semangat. Tetap aktif. Empat tahun tidak akan terasa. Hanya kedipan mata di antara perjalanan panjang hidup,” Pesannya untuk adik tingkat pun terasa seperti tepukan pelan di bahu.

Kisah Tesyar mengingatkan bahwa tidak semua pemenang muncul dengan gemuruh. Ada yang tumbuh perlahan lewat coding di malam hari, rapat tim startup, dan kuliah yang diselesaikan tanpa membuat banyak suara. Kadang tokoh yang paling diam justru yang paling jauh melangkah.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.