Suara Riana yang Tumbuh dari Kelas Penyiaran ke Panggung Hidupnya Sendiri
BSINews, Bekasi – Ada mahasiswa yang datang ke kampus sambil membawa mimpi besar, dan ada Riana Salsabilla yang datang sambil membawa rasa penasaran. Ia berasal dari Jakarta, lulusan Program Studi Penyiaran Fakultas Komunikasi dan Bahasa (FKB) Universitas BSI, dan hidupnya berputar antara tugas akhir, sidang, lalu pekerjaan freelance sebagai Wedding Organizer.
Sejak awal, kampus ini terasa ramah baginya. Suasana kelas, fasilitas belajar, sampai cara dosen membuka ruang diskusi membuatnya cepat merasa betah. “Lingkungan kampus terasa ramah dan dosen-dosennya mudah diajak berdiskusi,” ucapnya. Yang seperti ini tak selalu ditemukan di setiap kampus, dan Riana tahu itu.
Baca juga: Laki-Laki yang Menjalani Empat Tahun Penuh Tekanan Lalu Pulang dengan Predikat Terbaik
Riana memilih penyiaran bukan karena iseng, tapi karena memang dunia ini memanggilnya sejak lama. Ia ingin belajar bicara dengan cara yang menggugah, memotret realitas lewat kamera, dan memahami bagaimana sebuah cerita dirakit agar mempu menggoyang perasaan orang lain. Dari semua mata kuliah, Dokumenter TV menjadi favoritnya. Bukan karena mudah, justru karena menuntut kedewasaan dalam melihat kenyataan.
Empat tahun kuliah tidak membuat Riana hanya duduk di kelas. Ia bekerja sebagai freelance Wedding Organizer, pekerjaan yang mengajarinya banyak hal tentang manajemen waktu, komunikasi, dan cara tetap waras di tengah ributnya persiapan pernikahan orang lain. Dunia WO itu semacam sekolah informal yang diam-diam memperkuat mentalnya.
Saat dinyatakan lulus dengan predikat Wisudawan Terbaik UBSI, perasaannya campur aduk. Senang, bangga, dan sedikit nggak percaya. “Saya benar-benar nggak menyangka bisa meraih pencapaian ini,” katanya.
Capaian itu bukan hasil dari belajar semalaman, melainkan dari kebiasaan kecil yang rutin dilakukan. Mencatat materi dengan gaya sendiri, bertanya ketika bingung, dan tidak menunda tugas sampai jadi monster menumpuk.
Riana berencana bekerja dulu sambil terus mengasah kemampuan. Bila nanti ada kesempatan naik jenjang pendidikan, ia ingin tetap di dunia penyiaran. Baginya, industri media masih menyimpan ilmu dan peluang yang menunggu untuk dijelajahi.
Ia memandang sistem pengajaran di UBSI dengan rasa syukur, karena teori dan praktik diberikan berimbang. Ini membuat mahasiswa tidak hanya pintar menjelaskan konsep, tetapi juga siap diterjunkan ke lapangan.
Baca juga: Dari Error ke Cum Laude, Cerita Programmer yang Tidak Pernah Menyerah pada Syntax
“Saya ingin lulusan UBSI berani, percaya pada diri sendiri, menjemput peluang kerja, atau membuka usaha sendiri. Semuanya bisa dilakukan selama mental dan skill yang dibentuk di perkuliahan tetap dirawat,” Harapnya sederhana tapi penuh keyakinan.
Untuk adik-adik tingkat, pesannya lumayan menampar tapi hangat, nikmati proses, jangan takut mencoba hal baru, dan jangan banding-bandingkan hidup. Setiap orang punya garis start dan garis finish yang berbeda. Yang penting tetap jalan, tetap belajar, dan tetap percaya bahwa usaha nggak pernah mengkhianati hasil.(ACH)