Laki-Laki yang Menjalani Tiga Tahun Penuh Tekanan Lalu Pulang dengan Predikat Terbaik

0 8,333

BSINews, Bekasi – Di antara gegap gempita wisuda yang penuh bunga plastik, toga miring, dan keluarga yang datang satu angkatan penuh, ada cerita yang tidak terlalu berisik tapi justru lebih kena di hati. Cerita tentang Inda Vitohidin, anak Kuningan yang tiga tahun terakhir hidupnya dibagi dua, jadi mahasiswa Hubungan Masyarakat di Fakultas Komunikasi dan Bahasa (FKB) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), sekaligus jadi pekerja penuh tanggung jawab.

Inda tidak datang dari kisah dramatis khas sinetron. Ia datang dengan cerita sederhana, bekerja sambil kuliah demi masa depan yang tidak ingin digantungkan pada nasib. “Saya sangat terkesan bisa berkuliah di UBSI, banyak hal yang saya dapat,” begitu katanya, polos dan jujur, seperti orang yang tahu rasanya menghargai kesempatan.

Baca juga: Dari Error ke Cum Laude, Cerita Programmer yang Tidak Pernah Menyerah pada Syntax

Program Studi Hubungan Masyarakat ia pilih bukan karena ikut tren atau penasaran gaya hidup PR Instagramable. Ia memilih karena jurusan ini beririsan langsung dengan pekerjaannya. Ia ingin memahami dunia yang sudah lebih dulu ia jalani, dari cara menyusun pesan, merancang komunikasi, sampai membangun citra. Ilmu yang membuatnya bisa naik kelas, bukan hanya di kampus, tapi di pekerjaan dan hidupnya sendiri.

Mata kuliah favoritnya? Penulisan naskah, public speaking, fotografi. Mata kuliah yang tidak hanya mengasah skill, tapi membuka cara pandang baru tentang bagaimana pesan bekerja di dunia nyata. Ada rasa bangga tiap kali ia bisa mempraktikkan teori perkuliahan ke pekerjaannya. Ada sense of purpose yang tumbuh pelan-pelan.

Jangan lupakan sisi organisasinya. Inda naik turun kegiatan HIMA Humas UBSI, ikut UKM bola voli, dan beberapa kali terlibat dalam event besar macam Sport Competition BSI FLASH. Bekerja, kuliah, organisasi. Semua berjalan paralel tanpa drama. Kalau hidup adalah juggling, Inda termasuk yang bisa menjaga semua bola tetap berada di udara.

Makanya, saat Wisudawan Terbaik UBSI disematkan di samping namanya, ada rasa haru yang menetes diam-diam. Bukan hanya karena nilai, tapi karena ia merasa perjuangannya, waktu yang dicuri dari lelah bekerja, tugas yang diselesaikan di sela tenaga yang hampir habis, akhirnya punya bentuk yang bisa dilihat. “Yang memacu saya adalah ingin membanggakan keluarga, terutama Ibu saya,” ucapnya.

Tips belajar Inda pun jauh dari teori mewah. Sederhana, realistis, dan membumi. Ia selalu membuat target setiap semester, mengoptimalkan tugas, dan menjaga konsistensi. Tidak ada rahasia besar. Tidak ada trik instan. Hanya disiplin yang tidak diumumkan ke siapa pun.

Rencananya setelah wisuda fleksibel tapi jelas. Kalau ada kesempatan, ia ingin lanjut kuliah. Jika belum, ia akan fokus bekerja. Ia ingin berjalan sesuai kemampuan, tapi tetap membuka pintu untuk peluang besar. Jurusan yang linier lebih ia utamakan, meski ada secuil ketertarikan mencoba jurusan baru yang masih satu nafas dengan pekerjaannya.

“Sistem pengajaran UBSI, sudah cukup baik. Banyak praktik, banyak ruang eksplorasi, banyak dukungan. Sebuah lingkungan yang membantu saya tumbuh dari mahasiswa menjadi profesional muda,” menurut Inda.

Untuk sesama alumni dan lulusan yang akan datang, ia punya doa sederhana namun kuat, “semoga semua bisa jadi pionir di waktu masing-masing. Punya andil, punya jejak.”

Baca juga: Perjalanan Sunyi Seorang Perempuan yang Belajar Administrasi Bisnis dan Ketahanan Hidup Sekaligus

Dan untuk adik-adik tingkatnya, ia melempar satu pesan pendek tapi pedas manis, khas anak muda yang sudah kenyang ditempa hidup, “Semangat menjadi Gen Z yang tahan banting!”

Kalimat yang rasanya bukan sekadar motivasi, tapi ajakan agar siap menghadapi dunia yang sering tidak sopan pada orang yang datang tanpa persiapan. Inda sudah membuktikan dirinya mampu. Kini giliran generasi berikutnya.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.