Ketika AI Masuk Kelas, Pendidikan Tak Lagi Bisa Berjalan Biasa-Biasa Saja

0 22

BSINews, Bekasi – Pendidikan sedang tidak baik-baik saja, dalam arti yang justru menarik. Artificial Intelligence kini tidak lagi menunggu masa depan. Ia sudah duduk di bangku kelas, ikut menyusun materi ajar, membantu evaluasi, bahkan diam-diam memengaruhi cara siswa memahami pelajaran. Dunia pendidikan sedang berada di persimpangan, dan tidak ada tombol mundur.

Di titik ini, peran guru ikut berubah bentuk. Guru bukan lagi sekadar penyampai materi, tetapi penunjuk arah. Bukan hanya mengajar apa yang benar, melainkan juga bagaimana menggunakan teknologi dengan waras dan beretika. Sementara siswa ditantang untuk tidak sekadar menjadi pengguna AI yang pasif, tetapi penanya yang kritis, kreator yang bertanggung jawab, dan pembelajar yang sadar bahwa teknologi hanyalah alat, bukan otak pengganti.

Baca juga: Saat Banyak Pekerjaan Hilang karena AI, Jurusan Ini Justru Makin Diburu

AI sering ditakuti seolah ia akan menggusur peran manusia dari ruang kelas. Padahal, jika diperlakukan dengan tepat, AI justru bisa menjadi asisten belajar yang sabar dan fleksibel. Guru bisa merancang metode ajar yang lebih variatif, siswa bisa mengeksplorasi ide tanpa takut salah, dan proses belajar menjadi lebih personal. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita memahaminya.

Di sinilah literasi digital menjadi kunci. Tanpa pemahaman yang memadai, AI berpotensi menjadi jalan pintas yang menumpulkan nalar atau bahkan menciptakan ketergantungan baru. Pendidikan AI tidak bisa dibiarkan tumbuh liar. Ia harus hadir secara terstruktur, kontekstual, dan relevan dengan realitas ruang kelas hari ini.

Menyadari tantangan itu, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menghadirkan Program Cermai, Cerdas AI, sebuah upaya konkret untuk mendampingi dunia pendidikan beradaptasi dengan perubahan. Program ini tidak main-main skalanya. Cermai dirancang untuk menjangkau 5.000 guru dan 10.000 siswa, dengan fokus pada pemanfaatan AI yang kreatif, produktif, dan tetap beretika.

Kepala Kampus UBSI kampus Kaliabang, Muhamad Tabrani, melihat Cermai bukan sekadar pelatihan teknologi, tetapi bagian dari proses pendewasaan digital. “AI tidak boleh membuat guru dan siswa merasa tertinggal. Justru dengan pemahaman yang tepat, AI bisa menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan,” ujarnya.

Cermai tidak hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga cara berpikir di era AI. Guru diajak untuk meng-upgrade kompetensi digitalnya, bukan agar terlihat modern, melainkan agar tetap relevan. Siswa didorong untuk melihat AI sebagai medium berkarya, bukan mesin jawaban instan. Di sini, teknologi diposisikan sebagai mitra belajar, bukan jalan pintas yang menghilangkan proses.

Baca juga: Dunia Komputer di Era AI Buka Peluang Karier Digital bagi Mahasiswa UBSI Kampus Jatiwaringin

Revolusi pendidikan sesungguhnya tidak selalu dimulai dari perangkat canggih, tetapi dari kesadaran untuk terus belajar. Ketika guru dan siswa sama-sama bersedia naik level digital, pendidikan akan tetap hidup, kontekstual, dan mampu melahirkan generasi yang tidak gagap menghadapi perubahan.

Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI terus membuka ruang kolaborasi dengan sekolah-sekolah melalui program seperti Cermai. Bagi sekolah yang ingin memulai transformasi pembelajaran berbasis teknologi secara sehat dan terarah, Cermai bisa menjadi langkah awal yang masuk akal. Karena masa depan pendidikan tidak menunggu siapa pun. Lebih baik menyambutnya dengan kesiapan, nalar yang jernih, dan keberanian untuk belajar ulang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.