HIMASA dan Peran Strategis Ormawa di UBSI Kampus Solo
BSINews, Solo — Sering kali organisasi mahasiswa dipandang hanya sebagai pelengkap aktivitas perkuliahan. Padahal, di balik setiap rapat, program kerja, dan dinamika internalnya, terdapat proses pembelajaran yang tak kalah penting dari ruang kelas. Di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Solo, keberadaan Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Akuntansi (HIMASA) menjadi salah satu contoh bagaimana ormawa (Organisasi Mahasiswa) berperan membentuk mahasiswa secara utuh, bukan hanya secara akademik.
Melalui HIMASA, mahasiswa belajar memahami arti kebersamaan, tanggung jawab, dan peran diri dalam sebuah organisasi. Di sinilah mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta kuliah, tetapi sebagai individu yang aktif mengambil keputusan, menyampaikan gagasan, dan belajar menghadapi perbedaan.
Belajar di Luar Kelas, Bertumbuh Bersama Organisasi
HIMASA menjadi ruang belajar nonformal yang melengkapi proses akademik. Kegiatan akademik, pengembangan minat dan bakat, hingga pengabdian kepada masyarakat memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar bekerja dalam tim dan mengelola tanggung jawab secara nyata. Proses ini sering kali tidak ditemukan secara utuh dalam perkuliahan formal, tetapi justru tumbuh melalui pengalaman berorganisasi.
Melalui ormawa, mahasiswa belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memimpin, tetapi juga tentang mendengarkan, beradaptasi, dan bertanggung jawab atas keputusan bersama. Pengalaman-pengalaman inilah yang perlahan membentuk karakter dan kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan setelah lulus.
Baca juga: Prodi Sistem Informasi Akuntansi UBSI Kampus Solo Gelar Seminar Akselerasi Transformasi Digital
Menjawab Tantangan Zaman dengan Peran Nyata
Di tengah perubahan pola belajar dan pesatnya perkembangan teknologi, ormawa dituntut untuk terus relevan. HIMASA UBSI kampus Solo memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan isu sistem informasi, akuntansi, dan teknologi ke dalam program kegiatannya. Langkah ini tidak hanya menjaga keberlangsungan organisasi, tetapi juga membuatnya lebih dekat dengan kebutuhan mahasiswa dan dunia kerja.
Namun, esensi organisasi mahasiswa tidak terletak pada banyaknya agenda yang dijalankan. Yang jauh lebih penting adalah kualitas proses, nilai pembelajaran yang dirasakan anggota, serta iklim organisasi yang sehat dan inklusif. Dukungan dari program studi dan pihak kampus menjadi elemen penting agar HIMASA dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, HIMASA bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan ruang belajar bersama. Di sanalah mahasiswa belajar memimpin dan dipimpin, belajar dari kegagalan, serta belajar memberi kontribusi nyata bagi lingkungan kampus. Ketika dikelola dengan komitmen dan visi yang jelas, HIMASA UBSI kampus Solo dapat menjadi penggerak lahirnya mahasiswa yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga matang secara sikap dan tanggung jawab sosial.