Kenapa Anak Anda Harus Belajar Coding, Meskipun Tidak Ingin Jadi Programmer?
BSINews, Tasikmalaya — “Kita mengajari anak-anak berenang bukan karena berharap mereka menjadi atlet Olimpiade. Kita mengajarinya agar mereka tidak tenggelam, bisa menikmati liburan di pantai, dan memiliki kepercayaan diri saat berada di air.”
Kenapa Anak Anda Harus Belajar Coding, Meskipun Tidak Ingin Jadi Programmer?
Dengan analogi sederhana namun kuat itulah Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif, membuka pandangannya tentang pentingnya belajar coding di era modern. Menurutnya, di abad ke-21, coding memiliki peran yang sama fundamentalnya seperti berenang: bukan soal profesi, melainkan soal kesiapan hidup.
“Belajar coding hari ini bukan tentang mencetak programmer sebanyak-banyaknya. Ini tentang membekali generasi muda dengan kepercayaan diri dan ketahanan berpikir untuk hidup di dunia yang semakin digerakkan oleh sistem, algoritma, dan teknologi,” jelas Bambang.
Ia menyoroti masih kuatnya persepsi bahwa coding hanyalah keterampilan khusus bagi anak yang ingin bekerja di perusahaan teknologi. Pandangan ini, menurutnya, justru membatasi potensi besar yang dimiliki coding sebagai alat pembentuk pola pikir.
“Menganggap coding hanya untuk calon programmer adalah pandangan yang terlalu sempit,” tegasnya.
Bambang lalu menawarkan analogi yang lebih membumi. Ia mengajak orang tua melihat coding bukan sebagai bahasa asing, melainkan sebagai musik.
“Tidak semua anak yang belajar musik akan menjadi pianis konser atau gitaris rock. Tapi mereka yang belajar musik akan memiliki pendengaran yang lebih peka, disiplin, dan kemampuan memahami pola dan harmoni. Coding bekerja dengan cara yang sama terhadap otak.”
Dengan belajar coding, anak-anak sejatinya sedang melatih cara berpikir yang akan berguna di hampir semua aspek kehidupan. Bambang merangkum manfaat itu dalam tiga kemampuan fundamental.
Melatih Otak Berpikir Sistematis
Belajar coding mengajarkan anak memecah persoalan besar menjadi langkah-langkah kecil yang logis dan berurutan. Seperti menyusun resep masakan agar hasilnya konsisten, anak belajar bahwa setiap tindakan memiliki urutan dan konsekuensi.
Menjadi “Detektif” yang Sabar
Dalam dunia coding, kesalahan adalah hal yang lumrah. Proses mencari kesalahan atau debugging melatih anak untuk tidak mudah panik saat menghadapi masalah. Mereka belajar mengamati, mengumpulkan petunjuk, menguji dugaan, dan menemukan solusi secara sistematis.
Membangun Ketahanan Mental
Tidak jarang sebuah kode baru berhasil setelah berkali-kali gagal. Setiap keberhasilan kecil itu membangun rasa percaya diri dan daya tahan mental. Anak belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian alami dari proses belajar.(Sfkrhm)