Cara Mudah Mengutarakan Pendapat Mengambil Konsep PEEL
BSINews, Solo — Ada satu momen yang cukup membekas ketika saya kembali belajar Bahasa Inggris. Di sana, saya bertemu lagi dengan konsep sederhana bernama PEEL: Point, Explanation, Example, Link. Awalnya terasa biasa saja sekadar teknik dasar untuk menyusun paragraf argumentatif. Namun semakin direnungkan, saya menyadari bahwa PEEL bukan hanya teknik menulis, melainkan cara berpikir yang runtut dan terstruktur.
Saya Galih Setiawan, dosen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Solo. Dalam berbagai mata kuliah yang saya ampu, pendekatan project based learning menjadi fondasi pembelajaran. Mahasiswa membangun proyek nyata, mulai dari aplikasi mobile, model data science, hingga sistem berbasis teknologi lainnya. Mereka belajar dengan cara menciptakan.
Baca juga : Tak Terlihat, Namun Menguasai: Rahasia IP Address dan Subnetting dalam Kelancaran Jaringan Kampus
Namun ada satu hal yang sering saya amati. Ketika proyek selesai dan tiba saatnya presentasi, sebagian mahasiswa terlihat goyah. Bukan karena produknya kurang baik, melainkan karena cara menyampaikannya belum tertata. Mereka langsung membahas fitur, teknologi yang digunakan, atau tools yang dipakai. Akan tetapi, ketika ditanya, “Mengapa proyek ini dibuat?” atau “Apa urgensinya?”, jawabannya sering kali belum solid.
Di situlah saya teringat pada konsep PEEL.
Menguatkan Presentasi dengan Struktur yang Jelas
Struktur ini mengajarkan bahwa sebelum menjelaskan panjang lebar, kita harus menyampaikan poin utama terlebih dahulu. Dalam konteks project based learning, artinya mahasiswa perlu menyatakan secara tegas masalah apa yang mereka angkat. Bukan sekadar membuat aplikasi, tetapi benar-benar menjawab persoalan nyata. Setelah itu, barulah penjelasan diberikan: mengapa masalah tersebut penting dan layak diselesaikan. Kemudian, contoh konkret atau data pendukung digunakan untuk memperkuat argumen. Terakhir, semua itu ditautkan kembali pada solusi yang mereka bangun.
Ketika mahasiswa mulai menggunakan pola ini, presentasi mereka berubah. Latar belakang proyek tidak lagi menjadi formalitas dalam slide, melainkan fondasi yang kokoh. Audiens dapat mengikuti alur berpikirnya dengan jelas. Dosen pun dapat melihat bahwa proyek tersebut lahir dari proses analisis, bukan sekadar tugas yang harus dikumpulkan.
Argumentasi sebagai Kunci Relevansi di Dunia Kerja
Di lingkungan UBSI kampus Solo yang mendorong pembelajaran berbasis proyek, kemampuan mengutarakan argumen menjadi sangat penting. Dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan individu yang mampu membangun sistem, tetapi juga yang dapat menjelaskan relevansinya. Ide yang baik tanpa argumentasi yang kuat sering kali tenggelam.
Menariknya, pelajaran sederhana dari kelas Bahasa Inggris justru memperkaya cara saya memandang pendidikan teknologi. Ternyata, menyusun paragraf argumentatif dan menyusun latar belakang proyek memiliki logika yang sama. Keduanya membutuhkan kejernihan berpikir dan struktur yang jelas.
Baca juga : Selalu Merasa Kurang Saat Buka Instagram? Dosen UBSI Ungkap ‘Jerat Digital’ di Balik Media Sosial
Pada akhirnya, project based learning bukan hanya tentang menghasilkan produk, tetapi juga membentuk cara berpikir. PEEL, meskipun sederhana, membantu mahasiswa menemukan suaranya sendiri suara yang runtut, rasional, dan meyakinkan.
Sebagai dosen, saya semakin percaya bahwa pendidikan terbaik terjadi ketika berbagai disiplin ilmu saling menguatkan. Bahasa melatih logika, logika menguatkan teknologi, dan teknologi ketika dijelaskan dengan argumen yang jelas akan memberikan dampak yang jauh lebih besar.