Selalu Merasa Kurang Saat Buka Instagram? Dosen UBSI Ungkap ‘Jerat Digital’ di Balik Media Sosial

0 27

BSINews, Tasikmalaya — Pernah merasa hidup sendiri tampak biasa-biasa saja setelah berlama-lama menggulir feed Instagram? Melihat unggahan teman yang liburan ke luar negeri, bekerja di perusahaan ternama, atau memiliki tubuh ideal kerap memicu rasa iri dan perasaan tidak cukup. Jika hal itu pernah dirasakan, Bambang Kelana Simpony, seorang dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, menegaskan satu hal penting: “Ini bukan salah Anda.”

“Yang kita lihat di Instagram bukanlah kehidupan nyata orang lain. Itu adalah highlight reel, klip-klip terbaik yang telah disunting dan dipilih dengan saksama. Merasa tidak cukup setelah membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan tayangan semacam iklan adalah reaksi yang sangat manusiawi,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima, Rabu (11/2).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut merupakan bagian dari apa yang ia sebut sebagai “jerat digital” yang dibentuk oleh algoritma media sosial. Semakin lama seseorang mengamati konten tertentu, semakin banyak data yang dikumpulkan, dan semakin dalam pula individu tersebut terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial yang tidak sehat.

“Jerat ini berbahaya karena menyerang harga diri secara perlahan. Ia menciptakan ilusi bahwa semua orang di sekitar kita lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih produktif. Padahal, kenyataannya, mereka juga sedang berjuang dengan hal-hal yang tidak mereka unggah di media sosial,” tambahnya.

Protokol Kebebasan Digital untuk Kesehatan Mental

Bambang menegaskan, jerat digital bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, setiap orang dapat mengambil kembali kendali atas kesehatan mental dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten. Ia membagikan tiga langkah praktis yang ia sebut sebagai “protokol kebebasan digital”.

Pertama, membersihkan feed Instagram. Ia menyarankan agar pengguna berhenti mengikuti akun yang memicu rasa rendah diri, dan menggantinya dengan akun yang memberikan pengetahuan, inspirasi positif, atau hiburan ringan. Dengan begitu, feed media sosial dapat menjadi ruang yang menyenangkan, bukan arena kompetisi.

Baca juga: Cuma Sekali Daftar! Alumni UBSI Kampus Tasikmalaya Bisa Jadi PNS di Kejaksaan RI

Kedua, mengalihkan energi dari sekadar mengamati ke mencipta. Bambang menilai, rasa puas yang autentik berasal dari proses dan pencapaian pribadi, bukan dari validasi eksternal. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk menggulir media sosial dapat dialihkan untuk menekuni hobi, mempelajari keterampilan baru, atau mengerjakan proyek kecil yang bermakna.

Ketiga, melakukan “terapi dunia nyata”. Ia mendorong masyarakat untuk sesekali mematikan notifikasi dan memberi diri sendiri jeda dari layar. Berinteraksi langsung dengan teman, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang membuat seseorang hadir sepenuhnya di saat ini dinilai mampu mengingatkan bahwa kehidupan nyata jauh lebih kaya dibandingkan apa yang tampil di layar digital.

Baca juga: Strategi “Insider” Biar Lolos BUMN & MT: Bukan Cuma Pintar, Tapi Harus Punya Taktik

Di UBSI, perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa tidak berhenti pada wacana. Setiap mahasiswa didampingi oleh dosen penasihat akademik yang tidak hanya memantau perkembangan studi, tetapi juga menjadi tempat berbagi ketika mahasiswa menghadapi persoalan di luar akademik. Selain itu, kampus juga menyediakan layanan konseling profesional yang bersifat konfidensial bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.

“Tujuan akhir kami sederhana, yaitu mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga utuh secara mental. Mereka adalah pemeran utama dalam kehidupan mereka sendiri, bukan sekadar penonton dari kehidupan orang lain,” pungkas Bambang.

Oleh: Bambang Kelana Simpony, dosen UBSI kampus Tasikmalaya

Leave A Reply

Your email address will not be published.