Ketika Mimpi Dipatahkan Sistem, Pelajaran Pahit dari Kisah Nur Riska

0 17

BSINews, Jakarta – Tidak semua cerita tentang perjuangan kuliah berakhir bahagia. Ada yang justru meninggalkan luka, bahkan kehilangan yang tak tergantikan. Salah satu kisah yang sempat menyentuh banyak hati datang dari seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta bernama Nur Riska. Ini adalah kisah mimpi seseorang yang dipatahkan sistem.

Ia bukan anak yang malas. Ia juga bukan seseorang yang tidak layak untuk kuliah. Justru sebaliknya, ia adalah simbol dari mereka yang punya tekad besar, meski hidup dalam keterbatasan.

Ketika Keterbatasan Jadi Penghalang Awal

Saat mendaftar kuliah, Riska bahkan tidak memiliki handphone pribadi. Ia harus meminjam milik tetangganya hanya untuk mengakses sistem pendaftaran. Dalam kondisi serba terbatas itu, ia tetap berusaha menyelesaikan semua persyaratan.

Baca juga: Harga Pendidikan yang Tak Masuk Akal, Ketika Mimpi Harus Berhadapan dengan Realitas Biaya

Namun, hal kecil yang seharusnya bisa dimaklumi justru menjadi awal dari masalah besar. Berkas keterangan tidak mampu yang ia kirimkan tidak terbaca dengan sempurna oleh sistem. Akibatnya, ia dikategorikan sebagai mahasiswa mampu.

Sistem yang Tak Selalu Memahami Mimpi Manusia

Kesalahan itu bukan sekadar administratif. Dampaknya nyata dan berat. Riska harus menerima tagihan biaya kuliah yang jauh dari kemampuannya.

Di titik ini, sistem tidak lagi menjadi alat bantu. Ia berubah menjadi tembok yang sulit ditembus. Dan Riska harus berjuang sendirian menghadapi sesuatu yang seharusnya bisa diperbaiki.

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Dengan uang yang sangat terbatas, Riska tetap memilih berangkat kuliah. Ia berjalan kaki berkilo-kilometer, menahan lelah, dan hidup dengan makanan seadanya.

Hari-harinya diisi dengan kerja paruh waktu, belajar, dan mencoba bertahan. Di balik itu semua, ada satu harapan sederhana, agar ia tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Ketika Harapan Tak Kunjung Datang

Riska tidak tinggal diam. Ia berusaha meminta keringanan biaya. Ia mendatangi berbagai pihak, berharap ada solusi yang lebih manusiawi.

Namun, yang ia temui justru proses yang berbelit. Ia harus berpindah dari satu meja ke meja lain. Usahanya berbulan-bulan hanya menghasilkan perubahan kecil yang tidak cukup untuk mengubah keadaan.

Sebuah Kehilangan yang Menyisakan Pertanyaan

Seiring waktu, kondisi fisik dan mentalnya semakin menurun. Beban yang ia tanggung tidak hanya soal biaya, tapi juga tekanan yang terus menghimpit.

Hingga akhirnya, ia harus berhenti. Dan tak lama setelah itu, ia pergi untuk selamanya.

Kisah ini bukan untuk menyalahkan satu pihak. Tapi untuk mengingatkan bahwa di balik angka-angka dan sistem, ada manusia yang sedang berjuang.

Pendidikan Seharusnya Tidak Seberat Itu

Cerita seperti ini seharusnya tidak terus berulang. Pendidikan tidak seharusnya menjadi perjalanan yang menguras hingga batas terakhir.

Justru sebaliknya, pendidikan harus menjadi ruang yang mendukung. Tempat di mana mahasiswa tidak hanya belajar, tapi juga merasa aman untuk bertumbuh.

Ketika Akses Dibuka Lebih Luas

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif.

Salah satunya melalui sistem pembayaran kuliah yang dapat dilakukan secara cicilan. Mahasiswa tidak harus terbebani biaya besar di awal, sehingga proses belajar bisa tetap berjalan.

Selain itu, UBSI juga menyediakan berbagai program beasiswa. Mulai dari Beasiswa Jalur Undangan atau Indonesia Cerdas, Beasiswa Indonesia Juara, hingga Beasiswa Talenta Digital bagi mereka yang memiliki potensi di bidang teknologi dan industri kreatif.

Memberi Ruang bagi Harapan dan Mimpi

UBSI juga menghadirkan program Golden Ticket dengan peluang beasiswa hingga 100%. Ditambah dengan akses ke program seperti KIP Kuliah dan berbagai beasiswa internal lainnya, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan menjadi lebih terbuka.

Langkah-langkah ini bukan hanya soal bantuan finansial. Tapi tentang memastikan bahwa tidak ada mimpi yang berhenti hanya karena keterbatasan.

Agar Cerita Seperti Ini Tidak Terulang

Kisah Riska adalah pengingat bahwa sistem harus lebih peka. Bahwa pendidikan bukan hanya tentang kurikulum dan fasilitas, tapi juga tentang kepedulian.

Baca juga: Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya: Ketika Mimpi Hampir Berhenti di Meja Administrasi

Kalau kamu sedang berjuang untuk melanjutkan pendidikan, penting untuk mencari tempat yang tidak hanya memberi ilmu, tapi juga membuka akses.

Kamu bisa mulai dengan mencari informasi pendaftaran dan beasiswa melalui https://pmbubsi.id.

Karena setiap mimpi layak diperjuangkan. Dan setiap perjuangan seharusnya tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Leave A Reply

Your email address will not be published.