Perkaya Wawasan Budaya Kalbar, BEM UBSI Kampus Pontianak Hadiri Diskusi Etnis Melayu dan Dayak

0 9

BSINews, Pontianak — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan mahasiswa melalui partisipasi pada diskusi budaya bertema “Sejarah Kebudayaan pada Etnis Melayu dan Dayak” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura (UNTAN) pada Sabtu (16/5), di Gedung Konferensi UNTAN.

Dalam kegiatan tersebut, BEM UBSI kampus Pontianak mengirimkan lima mahasiswa sebagai peserta, yakni Vibriyanti, Andreas, Sefanya Matda Kartini, Betty, dan Irfan Abdurrahman. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap sejarah, budaya, dan keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.

Menggali Sejarah dan Kehidupan Sosial Masyarakat Lokal

Diskusi yang berlangsung interaktif ini membahas hubungan historis antara etnis Melayu dan Dayak yang telah terjalin sejak lama. Selain pemaparan materi, peserta juga berkesempatan mengikuti sesi berbagi pengalaman dan pandangan terkait keberagaman budaya yang ada di Kalimantan Barat.

Kegiatan dibuka oleh Erdi, Wakil Dekan III FISIP UNTAN, yang menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya daerah di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, materi utama disampaikan oleh Suprianto, yang menjelaskan bahwa masyarakat Dayak dan Melayu memiliki hubungan yang erat melalui berbagai aspek kehidupan, mulai dari aktivitas perdagangan, interaksi sosial, hingga perkembangan budaya di sepanjang aliran Sungai Kapuas.

Dalam pemaparannya, Suprianto menjelaskan bahwa masyarakat Dayak merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Keberagaman tersebut tercermin dari banyaknya bahasa, adat istiadat, serta sub-suku yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan.

Selain dikenal dengan kekayaan budayanya, masyarakat Dayak juga menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, serta hubungan harmonis dengan alam. Adat istiadat menjadi pedoman penting yang mengatur kehidupan sosial masyarakat hingga saat ini.

Pada sesi pembahasan mengenai budaya Melayu Kalimantan Barat, peserta diajak memahami bagaimana sungai memiliki peran besar dalam membentuk kehidupan masyarakat Melayu. Sejak dahulu, sungai menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, hingga pusat perkembangan permukiman masyarakat.

Baca juga: Workshop AI Academic Writing UBSI Kampus Pontianak Bantu Dosen Tingkatkan Publikasi

Menumbuhkan Kesadaran akan Keberagaman

Salah satu peserta dari BEM UBSI kampus Pontianak, Sefanya Matda Kartini, mengaku memperoleh banyak wawasan baru melalui kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini membuka pemahaman kami tentang bagaimana budaya Melayu dan Dayak berkembang serta hidup berdampingan hingga sekarang. Dari diskusi ini, kami belajar bahwa keberagaman bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga dijaga dan dihargai bersama,” ungkapnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan budaya lokal menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk memperkuat rasa persatuan serta menjaga nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

Keikutsertaan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen BEM UBSI kampus Pontianak dalam mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan yang tidak hanya menambah pengetahuan akademik, tetapi juga memperluas wawasan sosial dan budaya.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus mendukung pengembangan karakter mahasiswa melalui berbagai pengalaman belajar di luar ruang kelas, termasuk keterlibatan dalam kegiatan yang menumbuhkan kepedulian terhadap budaya dan kearifan lokal.(Tiara Sari)

Leave A Reply

Your email address will not be published.