Apakah Turnitin Bisa Mendeteksi ChatGPT dan AI?

0 20

Di lingkungan akademik, Turnitin dikenal sebagai perangkat lunak berbasis web yang digunakan untuk memeriksa tingkat kemiripan atau plagiarisme pada dokumen. Sistem ini banyak digunakan oleh sekolah, perguruan tinggi, hingga lembaga penelitian untuk mengevaluasi karya tulis seperti makalah, jurnal, laporan, dan skripsi.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin umum di dunia pendidikan. Banyak mahasiswa memanfaatkan AI untuk membantu mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, merangkum informasi, hingga mengolah data. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi mulai memperbolehkan penggunaan AI selama dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai dengan kebijakan akademik yang berlaku.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang cukup sering dibahas, yaitu apakah Turnitin benar-benar dapat mendeteksi tulisan yang dibuat menggunakan ChatGPT atau alat AI lainnya? Untuk memahami jawabannya, penting untuk mengetahui terlebih dahulu bagaimana cara kerja sistem pemeriksaan yang digunakan oleh Turnitin.

Baca juga: Memahami Scopus Q1, Q2, Q3, dan Q4: Kategori Quartile Jurnal Internasional

Cara Kerja Turnitin dan Bagaimana Turnitin Cek AI

Sebelum mengetahui kemampuan deteksi AI pada Turnitin, perlu dipahami bahwa proses pemeriksaan dokumen dilakukan melalui beberapa tahapan yang terstruktur. Berikut penjelasannya.

1. Pengunggahan Dokumen

Proses dimulai ketika pengguna mengunggah dokumen ke dalam sistem Turnitin. Dokumen tersebut dapat berupa makalah, laporan penelitian, artikel ilmiah, hingga skripsi yang akan diperiksa tingkat kemiripannya.

2. Pencocokan Teks dengan Berbagai Database

Setelah dokumen masuk ke sistem, Turnitin akan memecah isi teks menjadi berbagai kata, frasa, dan pola bahasa tertentu melalui proses yang dikenal sebagai tokenization. Selanjutnya, sistem melakukan pencocokan menggunakan algoritma String Matching dan Fuzzy Matching terhadap tiga sumber utama.

Sumber pertama adalah miliaran halaman internet yang tersedia secara publik. Sumber kedua berasal dari publikasi ilmiah seperti jurnal, e-book, dan artikel akademik berlisensi. Sementara sumber ketiga adalah arsip tugas mahasiswa yang pernah diunggah ke database Turnitin dari berbagai institusi pendidikan di seluruh dunia.

3. Perhitungan Persentase Kemiripan

Setelah proses pemindaian selesai, Turnitin akan menghitung tingkat kemiripan dokumen dengan berbagai sumber yang ditemukan. Persentase kemiripan ini dikenal sebagai similarity score. Perlu dipahami bahwa angka 0% hampir tidak mungkin terjadi karena judul, istilah umum, kutipan, maupun daftar pustaka sering kali tetap terdeteksi sebagai kemiripan.

4. Pembuatan Similarity Report

Hasil pemeriksaan kemudian ditampilkan dalam bentuk Similarity Report. Pada laporan tersebut, bagian teks yang memiliki kemiripan akan ditandai menggunakan warna tertentu, mulai dari hijau hingga merah, lengkap dengan sumber referensinya.

Selain memeriksa kemiripan teks, Turnitin kini juga memiliki fitur untuk mendeteksi kemungkinan penggunaan AI. Setelah proses analisis selesai, pengguna dapat melihat indikator AI Writing pada panel laporan.

Jadi, jawabannya adalah ya, Turnitin dapat melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan penggunaan AI. Sistem akan menampilkan persentase teks yang dinilai memiliki karakteristik serupa dengan tulisan yang dihasilkan oleh alat AI generatif seperti ChatGPT. Ketika persentase tersebut dibuka, laporan akan menunjukkan bagian kalimat yang dianggap memiliki pola penulisan khas AI atau hasil parafrase otomatis dari alat seperti QuillBot.

Cara Mengurangi Hasil Similarity AI

Perlu ditegaskan bahwa tips berikut bukan untuk memfasilitasi kecurangan akademik. Informasi ini ditujukan bagi penggunaan AI yang memang diperbolehkan oleh perguruan tinggi sebagai alat bantu belajar, riset, atau penyusunan ide awal.

Sebelum menerapkan langkah-langkah berikut, pastikan selalu mengikuti aturan akademik yang berlaku di kampus masing-masing.

1. Parafrase Manual dengan Pemahaman Sendiri

Salah satu cara yang paling efektif adalah melakukan parafrase secara manual. Jangan hanya mengganti beberapa kata dengan sinonim. Ubah struktur kalimat secara menyeluruh berdasarkan pemahaman terhadap materi yang dibahas. Kalimat pasif dapat diubah menjadi aktif, kalimat yang terlalu panjang dapat dipecah menjadi beberapa bagian yang lebih sederhana, dan penggunaan kata transisi juga dapat disesuaikan agar lebih natural. Pendekatan ini membantu menghasilkan tulisan yang lebih mencerminkan gaya berpikir penulis.

2. Lakukan Sintesis dan Integrasi Ide

Alih-alih menyalin hasil AI secara langsung, lebih baik memahami inti informasi yang diberikan terlebih dahulu. Setelah itu, tuliskan kembali menggunakan bahasa sendiri. Teknik sintesis seperti ini tidak hanya membantu mengurangi karakteristik tulisan AI, tetapi juga meningkatkan kualitas pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari. Dalam konteks akademik, kemampuan mengolah informasi jauh lebih penting dibanding sekadar menghasilkan teks yang panjang.

3. Tambahkan Analisis dan Konteks yang Relevan

Tulisan yang dihasilkan AI seringkali bersifat umum dan kurang memiliki konteks spesifik. Oleh karena itu, menambahkan analisis pribadi, interpretasi terhadap data, atau contoh kasus yang relevan dapat membuat tulisan lebih kuat secara akademik. Selain itu, penggunaan data lokal, hasil observasi, maupun pengalaman penelitian yang sesuai topik juga dapat membantu menghasilkan karya yang lebih autentik dan menunjukkan kontribusi pemikiran penulis.

Perlu dipahami kembali, penggunaan AI dalam pendidikan pada dasarnya dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat apabila digunakan secara bertanggung jawab dan sesuai aturan kampus. Karena itu, fokus utama sebaiknya tetap pada kemampuan memahami materi, mengembangkan analisis, dan menghasilkan karya akademik yang benar-benar mencerminkan kemampuan akademik sebagai seorang mahasiswa. 

Mempersiapkan Karier Digital dengan Pendidikan yang Relevan

Di tengah perkembangan teknologi AI dan transformasi digital, kebutuhan terhadap lulusan yang memiliki kemampuan teknologi semakin meningkat. Salah satu institusi yang dapat dipertimbangkan adalah Bina Sarana Informatika (BSI).

BSI telah memiliki akreditasi unggul dan didukung oleh puluhan ribu alumni yang telah berkarier di berbagai sektor industri. Program studinya dirancang agar relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini, termasuk Teknologi Informasi, Bisnis Digital, dan Desain Komunikasi Visual.

Selain menawarkan biaya pendidikan yang relatif terjangkau, BSI juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan di era digital. Pemahaman mengenai teknologi, literasi digital, hingga pemanfaatan AI secara etis menjadi bekal yang semakin penting dalam dunia profesional.

Leave A Reply

Your email address will not be published.