BSINews, Solo – Pernah kesulitan menyampaikan keluhan saat menggunakan transportasi umum? Atau merasa masukan yang diberikan tidak pernah benar-benar sampai kepada pengelola layanan?
Permasalahan itulah yang menginspirasi tiga mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Solo yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif untuk menciptakan TemanBST, sebuah platform pengaduan layanan Batik Solo Trans berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk mempermudah masyarakat menyampaikan keluhan, masukan, maupun aspirasi secara lebih cepat dan terintegrasi.
Inovasi tersebut berhasil mengantarkan tim mahasiswa UBSI kampus Solo masuk dalam 50 besar Riset Terbaik pada Kompetisi Riset Unggulan yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surakarta Tahun 2026.
Tim pengembang TemanBST terdiri dari Oktavian Ramadhani sebagai ketua tim, bersama Aliya Safira Rais dan Ahnaf Ogy Pratista dari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Informatika.
Berbeda dengan sistem pengaduan konvensional, TemanBST tidak hanya menjadi wadah penyampaian keluhan, tetapi juga memanfaatkan teknologi AI untuk membantu proses pengelolaan pengaduan agar lebih cepat, terstruktur, dan tepat sasaran.
TemanBST, Platform Keluhan Penumpang Berbasis AI yang Masuk 50 Besar BRIDA Surakarta
Platform ini dirancang dengan tampilan website yang sederhana dan mudah digunakan sehingga masyarakat dapat menyampaikan laporan tanpa harus melalui proses yang rumit. Bagi tim pengembang, teknologi yang baik bukan hanya soal kecanggihan sistem, tetapi juga kemudahan bagi pengguna.
Ketua tim, Oktavian Ramadhani, mengatakan bahwa ide pengembangan TemanBST muncul dari kebutuhan akan layanan transportasi publik yang semakin responsif terhadap suara masyarakat.
“Kami melihat masih ada ruang untuk meningkatkan kemudahan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi terkait layanan Batik Solo Trans. Karena itu, kami mengembangkan TemanBST sebagai platform yang sederhana, mudah digunakan, sekaligus memanfaatkan AI agar setiap pengaduan dapat dikelola dengan lebih efektif. Harapan kami, inovasi ini dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan penyedia layanan transportasi publik,” ujarnya dalam keterangan rilis, Senin (22/6).
Menurutnya, kehadiran teknologi seharusnya mampu mendekatkan layanan publik dengan masyarakat. Karena itu, TemanBST dikembangkan tidak hanya sebagai proyek penelitian, tetapi sebagai solusi yang memiliki peluang untuk diterapkan secara nyata.
Respons awal yang diterima tim juga cukup positif. Ketertarikan masyarakat terhadap platform tersebut menjadi sinyal bahwa solusi yang mereka kembangkan relevan dengan kebutuhan pengguna transportasi publik saat ini.
Baca juga : Mahasiswa UBSI Kampus Solo Jadi Panitia Webinar IndoCEISS Jawa Tengah, Asah Soft Skill di Era Digital
Keberhasilan menembus 50 besar riset terbaik BRIDA Surakarta menjadi pencapaian yang membanggakan bagi tim. Namun bagi mereka, penghargaan tersebut bukanlah garis akhir.
Sebaliknya, pencapaian ini menjadi langkah awal untuk terus menyempurnakan TemanBST agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ke depan, tim berharap dapat menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Kota Surakarta, pengelola Batik Solo Trans, serta berbagai pihak terkait agar platform tersebut dapat dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih optimal.
Pencapaian ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari sebuah ide sederhana tentang pentingnya mendengar suara penumpang, lahirlah inovasi yang kini mendapat pengakuan sebagai salah satu riset terbaik di Kota Surakarta.