BSINews, Solo – Pertemuan antara tradisi, seni kontemporer, dan pesan ekologis dihadirkan lewat gelaran Pameran Karya Penerima Dana Indonesiana 2025 bertajuk “Harmoni Tradisi dan Alam” yang berlangsung di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pada Jumat hingga Minggu, 22–24 Mei.
Dosen UBSI Pamerkan Batik Sutera Pewarna Alami di Yogyakarta
Ajang refleksi budaya ini digagas langsung oleh dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), R. Jatinurcahyo, yang sukses memamerkan deretan mahakarya batik tulis premium berbahan sutera dengan pewarna alami dari kekayaan alam Nusantara.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak menyelami filosofi mendalam dari berbagai motif eksklusif seperti Arum Kencana, Bawana Laksita, hingga Padwa Laras Bumi yang mengangkat motif larangan Keraton Yogyakarta serta motif sakral Bali.
Menariknya, karya-karya adiluhung ini dibuat menggunakan pewarna ramah lingkungan dari bahan-bahan alami seperti kayu secang, daun mangga, kunyit, tegeran, hingga indigofera.
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin ilmu di internal kampus. Ketua Program Studi (Kaprodi) Sistem Informasi UBSI kampus Solo, Supriyanta, mengungkapkan bahwa timnya turut andil dalam menyukseskan gelaran ini berkat ajakan dari Prodi Perhotelan.
“Kami dari Prodi Sistem Informasi diajak oleh teman-teman Prodi Perhotelan yang salah satu dosennya menguasai bidang batik untuk mengajukan hibah, dan ternyata lolos. Kami terlibat aktif dari sisi desain digital, pencarian referensi, persiapan, hingga pelaksanaan pameran,” jelas Supriyanta kepada media di Solo, pada Senin (25/5).
Keunikan pameran ini terletak pada perpaduan batik tulis premium, penggunaan pewarna alam, filosofi budaya Jawa-Bali, serta sentuhan artistik kontemporer yang Instagramable bagi generasi muda.
Acara berskala nasional ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, mulai dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), UBSI, hingga komunitas budaya dan akademisi.
“Selain menjadi destinasi wisata budaya, acara ini diprediksi menarik perhatian pecinta seni, fashion, akademisi, konten kreator, hingga generasi muda yang tengah menggandrungi produk lokal bernilai filosofi tinggi,” ujar R. Jatinurcahyo..
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus membuktikan komitmennya dalam mendukung inovasi para dosen, termasuk dalam mengawinkan nilai tradisi leluhur dengan sentuhan kreativitas modern di era digital.(Dina Olivia)