Tak Lurus, Tapi Berbuah Manis, Perjalanan Cahya Saputra dari Penyiaran ke Pusdatin Pendidikan DKI Jakarta
BSINews, Depok – Lapangan padel di Depok menjadi ruang pertemuan kembali bagi alumni Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dalam UBSI Alumni Padel Day 2026. Salah satunya Muhammad Cahya Saputra, alumni Program Studi Penyiaran D3 UBSI kampus Margonda angkatan 2015 yang hadir membawa cerita tentang perjalanan kariernya yang tidak selalu berjalan lurus hingga kini dipercaya sebagai Tenaga Ahli di Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Bagi Cahya kegiatan tersebut bukan sekadar agenda olahraga. Setelah menyelesaikan pendidikan pada 2015, ia kembali bertemu dengan teman-teman lama sekaligus alumni dari berbagai angkatan dalam suasana yang lebih santai dan hangat.
Baca juga: Empat Tahun Jadi Guru, Inas Akhirnya Wujudkan Mimpi sebagai Jurnalis Garuda TV
“Kegiatan hari ini sangat berkesan sekali. Sebagai alumni yang sudah lulus sejak 2015, acara ini jadi kesempatan berharga untuk kumpul lagi, ketemu teman-teman lama, saling sharing pengalaman, sekaligus mencari rekanan dan peluang kolaborasi baru,” ujar Cahya dalam keterangan rilis yang diterima pada Sabtu (8/8).
Menurutnya kegiatan seperti UBSI Alumni Padel Day 2026 dapat menjadi wadah untuk menjaga hubungan antara alumni dengan almamater. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan agar semakin banyak alumni yang kembali terhubung dan saling memberikan manfaat.
Perjalanan profesional Cahya justru dimulai dari bidang yang cukup berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Setelah lulus dari UBSI kampus Margonda pada 2015, ia harus melewati proses pencarian kerja sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan berkarier pada 2018 sebagai IT Support.
Meski memiliki latar belakang pendidikan Penyiaran, Cahya mendapatkan kepercayaan dari HRD perusahaan untuk mengisi posisi tersebut. Kesempatan itu menjadi pintu awal baginya untuk memasuki dunia kerja sekaligus menguji kemampuan beradaptasi di luar bidang yang dipelajarinya secara formal.
“Awalnya setelah lulus saya mencari kerja dan baru dapat di tahun 2018 sebagai IT Support. Padahal basic saya Penyiaran. Tapi HRD tempat saya melamar meyakinkan bahwa saya bisa memegang posisi tersebut. Pengalaman itu menjadi langkah awal saya di dunia kerja,” kenang Cahya.
Pengalaman tersebut membuat Cahya memahami bahwa latar belakang pendidikan bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah karier. Kemampuan belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kemauan untuk terus mengembangkan keterampilan justru menjadi modal penting ketika memasuki dunia profesional.
Meski sempat berkarier di bidang IT Support, Cahya tidak meninggalkan bidang yang menjadi passion utamanya. Ia kemudian kembali mencari kesempatan yang lebih dekat dengan kompetensi Penyiaran dan komunikasi visual.
Pada 2018, kesempatan tersebut datang ketika ia melamar ke Radio Pusdatin Pendidikan DKI Jakarta. Tidak hanya diterima sebagai penyiar, Cahya juga dipercaya menangani pekerjaan sebagai desainer grafis.
Dua peran tersebut membuat kemampuan yang diperolehnya selama kuliah kembali menemukan ruang untuk berkembang. Berbagai kompetensi seperti manajemen produksi, penulisan naskah, editing, animasi, hingga desain grafis menjadi bagian dari keterampilan yang terus diasahnya.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman dan kualitas pekerjaan yang ditunjukkan Cahya membuat kepercayaan terhadap dirinya semakin besar. Hingga kini, ia dipercaya sebagai Tenaga Ahli di Pusdatin Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Dalam perannya tersebut, Cahya terlibat dalam pembuatan berbagai konten publikasi visual dan media sosial di lingkungan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
“Saya tidak menyangka tiba-tiba dipercaya menjadi seorang desainer grafis di lingkungan pemerintahan, khususnya sektor pendidikan nasional yang karya visualnya dilihat oleh masyarakat luas dan banyak peserta didik,” ungkapnya.
Menurut Cahya kemampuan yang kini digunakannya dalam pekerjaan memiliki keterkaitan erat dengan pembelajaran yang ia dapatkan ketika masih menjadi mahasiswa UBSI.
“Semua bekal keterampilan seperti manajemen produksi, penulisan naskah, editing, animasi, hingga desain grafis berawal dari pembelajaran di UBSI,” tambahnya.
Perjalanan Cahya memperlihatkan bahwa karier seseorang tidak selalu harus dimulai dari posisi yang benar-benar sesuai dengan jurusan kuliah. Baginya, kesempatan pertama dalam pekerjaan justru dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus mempelajari kompetensi baru.
Cahya mengingatkan mahasiswa UBSI agar tidak mudah berkecil hati ketika menghadapi proses mencari pekerjaan. Menurutnya, nilai akademik penting sebagai bagian dari pendidikan, tetapi kemampuan nyata yang dimiliki seseorang akan menjadi salah satu faktor penting ketika berhadapan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Jangan pernah berhenti belajar. Manfaatkan seluruh ilmu teknis yang didapat di UBSI. Kalau merasa masih ada kekurangan, teruslah mengeksplorasi dan memperdalam ilmu baru secara mandiri di luar kampus,” pesannya.
Kehadiran Cahya dalam UBSI Alumni Padel Day 2026 menjadi kesempatan untuk kembali terhubung dengan almamater setelah lebih dari satu dekade menyelesaikan pendidikan. Bertemu dengan teman lama sekaligus alumni dari berbagai bidang membuat kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri baginya.
Cahya menilai networking antarsesama alumni perlu terus dibangun karena setiap alumni memiliki pengalaman dan kompetensi yang berbeda. Jika terhubung dengan baik, keberagaman tersebut dapat menjadi kekuatan bagi keluarga besar UBSI.
“Harapannya UBSI semakin Jaya, semakin terkenal, dan terus melahirkan lulusan yang kompeten serta mampu bersaing di dunia industri kerja,” tuturnya.
Perjalanan Cahya menjadi bukti bahwa karier tidak selalu mengikuti garis lurus dari jurusan kuliah menuju pekerjaan. Ada kalanya seseorang harus mencoba bidang lain, belajar dari kesempatan yang datang, lalu kembali menemukan passion dengan bekal pengalaman yang semakin matang.
Dari lulusan Penyiaran yang sempat bekerja sebagai IT Support hingga kini dipercaya sebagai Tenaga Ahli di Pusdatin Pendidikan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Cahya menunjukkan bahwa skill yang terus diasah dan keberanian untuk beradaptasi dapat membuka jalan yang bahkan sebelumnya tidak pernah dibayangkan.