Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI Masuk 10 Besar SINTA Score Overall Tertinggi

0 5

BSINews, Jakarta – Prestasi akademik tidak selalu hadir dalam bentuk piala yang bisa dipajang di lemari kampus. Ada pula capaian yang tercatat dalam angka, dibangun dari publikasi, penelitian, sitasi, kekayaan intelektual, hingga berbagai aktivitas akademik yang dilakukan secara konsisten.

Hal tersebut tercermin dari capaian Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang masuk dalam daftar 10 perguruan tinggi dengan SINTA Score Overall tertinggi dengan skor 12.276. Dalam daftar tersebut, UBSI berada di peringkat keenam secara nasional, berada di atas Universitas Riau, Universitas Diponegoro, Universitas Mercu Buana, dan BINUS University.

Baca juga: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI Kampus Cikarang Raih Kesempatan Magang Remote di Perusahaan Jerman

Berikut daftar perguruan tinggi berdasarkan SINTA Score Overall tertinggi yang menjadi bahan pemeringkatan prodi Ilmu Komunikasi.

1. Telkom University, Score 18.440
2. Universitas Tarumanagara, Score 17.633
3. Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Score 14.458
4. Universitas Islam Bandung, Score 14.364
5. Universitas Padjadjaran, Score 12.817
6. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Score 12.276
7. Universitas Riau, Score 11.463
8. Universitas Diponegoro, Score 10.216
9. Universitas Mercu Buana, Score 10.124
10. BINUS University, Score 9.952

Capaian tersebut menunjukkan rekam jejak aktivitas penelitian dan publikasi UBSI yang terukur melalui Science and Technology Index (SINTA). Pengukuran SINTA tidak hanya berkaitan dengan jumlah publikasi, tetapi juga mencakup sejumlah indikator lain yang menggambarkan produktivitas dan dampak kegiatan akademik serta penelitian.

Dalam daftar yang digunakan sebagai bahan pemeringkatan, Telkom University berada di posisi pertama dengan skor 18.440, disusul Universitas Tarumanagara dengan 17.633, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka dengan 14.458, Universitas Islam Bandung dengan 14.364, dan Universitas Padjadjaran dengan 12.817.

UBSI menempati posisi keenam dengan skor 12.276, kemudian diikuti Universitas Riau dengan 11.463, Universitas Diponegoro dengan 10.216, Universitas Mercu Buana dengan 10.124, dan BINUS University dengan 9.952.

Jika dilihat dari selisih skor, capaian UBSI terpaut 551 poin dari Universitas Padjadjaran yang berada satu tingkat di atasnya. Sementara itu, skor UBSI unggul 813 poin dibandingkan Universitas Riau yang berada di posisi ketujuh.

Bukan Sekadar Menghitung Jumlah Publikasi

SINTA merupakan sistem yang digunakan untuk mengukur dan memetakan kinerja publikasi serta aktivitas penelitian dan inovasi dalam ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia.

Karena itu, skor yang tercatat bukan sekadar hasil dari seberapa banyak artikel ilmiah yang berhasil dipublikasikan. Di dalamnya terdapat berbagai indikator yang menggambarkan aktivitas akademik dan penelitian, mulai dari publikasi dan sitasi hingga penelitian, kekayaan intelektual, pengabdian kepada masyarakat, serta produktivitas dosen.

Publikasi menjadi salah satu bagian penting karena menunjukkan karya ilmiah yang dihasilkan oleh dosen dan peneliti. Sementara sitasi memberikan gambaran mengenai sejauh mana karya tersebut digunakan atau dirujuk dalam karya ilmiah lainnya.

Aktivitas penelitian dan hibah riset juga menjadi bagian dari rekam jejak tersebut. Begitu pula dengan kekayaan intelektual dan paten yang merepresentasikan hasil inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat yang menunjukkan bagaimana kompetensi akademisi diterapkan untuk memberikan manfaat di tengah masyarakat.

Dengan demikian, skor SINTA dapat dilihat sebagai salah satu gambaran mengenai produktivitas akademik dan kinerja penelitian perguruan tinggi berdasarkan indikator yang tercatat dalam ekosistem SINTA.

Ketika Riset Menjadi Bagian dari Ekosistem Kampus

ilmu komunikasi

Rektor UBSI, Prof. Dr. Ir. Mochamad Wahyudi mengatakan, bagi UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan membangun ekosistem akademik yang tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga pada pengembangan pengetahuan dan inovasi.

“Aktivitas dosen dan peneliti dalam menghasilkan publikasi, melakukan penelitian, membangun sitasi, menghasilkan kekayaan intelektual, serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat pada akhirnya turut membentuk rekam jejak akademik perguruan tinggi,” pungkas Prof Wahyudi dalam keterangan rilis yang diterima pada Senin (14/9).

Baca juga: Sertifikasi Kompetensi Prodi Ilmu Komunikasi UBSI Bekali Mahasiswa Kuasai Video Editing hingga Operator Kamera

Di titik inilah angka 12.276 menjadi lebih dari sekadar angka dalam sebuah daftar. Ada proses akademik yang berlangsung di belakangnya dan melibatkan dosen, peneliti, mahasiswa, serta institusi dalam menghasilkan dan menyebarluaskan pengetahuan.

Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia komunikasi, perkembangan ekosistem akademik seperti ini juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih perguruan tinggi. Di Prodi Ilmu Komunikasi UBSI, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan teori komunikasi, tetapi juga dengan perkembangan media dan industri digital yang terus bergerak. Kunjungi https://pmbubsi.id atau https://bsi.ac.id.

Leave A Reply

Your email address will not be published.