UBSI Yogyakarta Gelar Seminar Pemuda Digital 2026, Perkuat Peran Guru di Era AI
BSINews,Yogyakarta – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kota Yogyakarta menggelar Seminar Pemuda Digital 2026 bertema “Mendampingi Generasi AI: Literasi Teknologi, Kesehatan Mental, dan Masa Depan Remaja” pada Selasa (13/10).
Kegiatan ini diikuti para guru bimbingan dan konseling (BK) SMA/SMK untuk memperkuat pemahaman pendidik dalam mendampingi remaja menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Seminar tersebut membahas pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan, penguatan literasi digital, serta pentingnya menjaga kesehatan mental remaja.
Baca juga: Jelang Seminar Pemuda Digital, UBSI Kampus Kaliabang Dorong Guru Kreatif Hadapi Era AI
Melalui kegiatan ini, UBSI berupaya mendorong para guru agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak sekaligus mempertahankan pendekatan pendidikan yang mengutamakan kebutuhan dan karakter peserta didik.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Endah Ayu Pamungkas, S.Psi., M.Psi., Founder Endahnesia Consulting & Development, serta Nurul Ichsan, M.Kom., AI Enthusiast & DICO Partner.
Acara tersebut juga dihadiri Kepala Kampus UBSI Kota Yogyakarta Sardiarinto, M.Kom., dan Ketua Program Studi Sistem Informasi UBSI Kampus Kota Yogyakarta Dr. Anik Andriani, M.Kom.
Dalam sambutannya, Sardiarinto menekankan pentingnya peran guru dalam membimbing generasi muda agar mampu menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan pendidik dalam membangun karakter, meningkatkan literasi digital, serta memperhatikan kesehatan mental siswa.
Peran guru tidak hanya terbatas pada penyampaian materi pembelajaran di ruang kelas.
Guru juga memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa mengembangkan potensi diri, membangun pola pikir kritis, dan memahami berbagai tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi.
Kehadiran AI dalam kehidupan sehari-hari membuat peserta didik semakin mudah memperoleh informasi dan menggunakan berbagai perangkat digital untuk mendukung pembelajaran.
Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan pendampingan agar siswa dapat membedakan informasi yang akurat, memahami etika penggunaan teknologi, dan tidak sepenuhnya bergantung pada hasil yang diberikan oleh sistem AI.
Melalui Seminar Pemuda Digital 2026, Sardiarinto berharap hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dapat semakin erat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membantu pendidik mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Selain pihak kampus, kegiatan ini turut menghadirkan sambutan dari perwakilan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sambutan tersebut disampaikan oleh Dr. Sayuri Egaravanda, S.Kom., M.Eng., selaku Kepala Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan Disdikpora DIY.
Dalam sambutannya, Sayuri menekankan bahwa pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan harus mendukung proses pembelajaran, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis siswa.
Teknologi dapat digunakan untuk membantu peserta didik memahami materi, mengeksplorasi informasi, dan mengembangkan kreativitas, tetapi proses belajar tetap membutuhkan keterlibatan aktif siswa.
Guru juga perlu membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang relevan dengan perkembangan dunia digital.
Kemampuan tersebut meliputi literasi informasi, keamanan digital, pemahaman etika, kreativitas, serta kecerdasan sosial dan emosional.
Literasi digital menjadi penting karena siswa tidak hanya berhadapan dengan kemudahan memperoleh informasi, tetapi juga perlu memahami risiko dalam penggunaannya.
Dengan pendampingan yang tepat, siswa diharapkan dapat menggunakan teknologi secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan proses berpikir, interaksi sosial, dan pembentukan karakter.
Sayuri juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan perguruan tinggi.
Ketiga pihak tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan peserta didik, baik dari sisi akademik maupun sosial dan emosional.
Pada sesi materi pertama, Endah Ayu Pamungkas membahas pentingnya pendampingan kesehatan mental remaja di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Materi ini mengajak para guru BK untuk memahami kondisi psikologis siswa sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial dapat menghadirkan tantangan tersendiri bagi remaja.
Karena itu, pendidik perlu memiliki kepekaan dalam mengenali kebutuhan siswa serta membangun komunikasi yang membuat mereka merasa aman untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.
Dalam pemaparannya, Endah memperkenalkan pendekatan amati, rangkul , arahkan, dan hubungan sebagai langkah pendampingan yang dapat diterapkan oleh guru.
Pendekatan tersebut menekankan pentingnya memahami kondisi siswa terlebih dahulu sebelum menentukan bentuk bantuan yang sesuai.
Tahap amati mengajak guru memperhatikan perubahan kondisi atau perilaku siswa tanpa memberikan penilaian secara terburu-buru.
Selanjutnya, rangkul menekankan pentingnya mendengarkan siswa dengan empati agar mereka merasa dihargai dan memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan maupun permasalahan.
Tahap arahkan berfokus pada upaya membantu siswa mengenali pilihan penyelesaian yang dapat dilakukan.
Guru dapat mendampingi siswa dalam mempertimbangkan langkah yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, tanpa mengabaikan kemampuan siswa untuk belajar mengambil keputusan.
Sementara itu, tahap hubungkan menekankan pentingnya menghubungkan siswa dengan pihak lain yang dapat memberikan dukungan.
Pihak tersebut dapat mencakup orang tua, keluarga, maupun tenaga profesional apabila permasalahan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan mampu membangun relasi yang aman dan komunikasi terbuka dengan peserta didik.
Pendampingan yang humanis menjadi bagian penting dalam membantu remaja menghadapi tantangan kehidupan, termasuk ketika mereka berinteraksi dengan teknologi dan lingkungan digital.
Pada sesi berikutnya, Nurul Ichsan menjelaskan pemanfaatan AI dan digitalisasi untuk mendukung pekerjaan guru, khususnya dalam layanan bimbingan dan konseling.
Ia menegaskan bahwa teknologi AI bukan pengganti guru, melainkan alat yang dapat membantu meningkatkan efektivitas layanan pendidikan.
Pemanfaatan teknologi digital dapat membantu guru mengelola berbagai informasi yang berkaitan dengan kebutuhan siswa.
Pengelolaan tersebut mencakup data peserta didik, layanan konseling, asesmen, pemetaan minat karier, informasi beasiswa, hingga data alumni.
Dengan sistem pengelolaan informasi yang lebih terintegrasi, guru diharapkan dapat mengakses data yang dibutuhkan secara lebih terstruktur.
Hal ini dapat mendukung proses pemantauan perkembangan siswa serta membantu pendidik menyesuaikan layanan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Digitalisasi juga membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan metode pendampingan yang lebih kreatif.
Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyusunan materi, pengelolaan administrasi, serta penyediaan informasi yang relevan bagi siswa selama proses pendidikan.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap perlu mempertimbangkan etika dan tanggung jawab dalam pengelolaan data.
Informasi pribadi siswa harus ditangani secara hati-hati, sedangkan keputusan yang berkaitan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik tetap memerlukan pertimbangan manusia.
Melalui pemahaman tersebut, guru diharapkan dapat menempatkan AI sesuai dengan fungsinya.
Teknologi digunakan untuk membantu pekerjaan pendidik, sementara komunikasi, empati, dan pemahaman terhadap kondisi siswa tetap menjadi bagian utama dalam proses pendampingan.
Seminar Pemuda Digital 2026 menjadi salah satu upaya UBSI Kampus Kota Yogyakarta dalam memperkuat kompetensi pendidik menghadapi perkembangan teknologi.
Kegiatan ini menggabungkan pembahasan literasi digital, pemanfaatan AI, dan kesehatan mental remaja sebagai aspek yang saling berkaitan dalam dunia pendidikan.
Bagi guru BK SMA/SMK, pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat menjadi bekal dalam memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
Guru tidak hanya dituntut mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu memahami cara membantu siswa menggunakannya secara kritis, aman, dan bertanggung jawab.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan orang tua juga menjadi bagian penting dalam mendukung proses tersebut.
Baca juga:Seminar Pemuda Digital UBSI Tegal Angkat Tantangan Psikologi Generasi Muda di Era AI
Sinergi antarpihak diperlukan agar pemanfaatan teknologi di lingkungan pendidikan berjalan seiring dengan penguatan karakter, kepedulian terhadap kesehatan mental, dan pengembangan potensi siswa.
Melalui penyelenggaraan seminar ini, UBSI Kampus Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan kompetensi pendidik melalui literasi teknologi dan pendekatan pendampingan yang humanis.
Ke depan, pemahaman yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan layanan bimbingan konseling sehingga generasi muda mampu tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, kritis, berkarakter, serta bertanggung jawab di era digital.