Brain Rot Adalah Istilah buat Otak yang Kebanjiran Konten Receh, Ini Dampaknya Menurut Psikologi

0 245

Menghabiskan berjam-jam scrolling konten singkat kini jadi kebiasaan banyak orang. Video pendek, meme, potongan informasi, hingga konten hiburan terus bermunculan tanpa jeda. Fenomena ini punya istilahnya sendiri, yaitu brain rot.

Istilah brain rot bahkan dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2024. Popularitas istilah tersebut menunjukkan adanya perhatian yang makin luas terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan, terutama yang dianggap ringan atau kurang menantang.

Memahami apa itu brain rot dari sisi psikologi membantu menyikapinya dengan lebih sehat. Bukan berarti penggunaan media sosial selalu berdampak buruk, tetapi pola konsumsi yang tidak terkendali dapat memengaruhi cara seseorang mengatur perhatian, beristirahat, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Mengenal Apa Itu Brain Rot

Secara umum, brain rot adalah istilah untuk kemerosotan kondisi mental akibat konsumsi berlebihan materi yang dianggap remeh atau tidak menantang. Istilah ini populer seiring maraknya konten singkat di media sosial yang dapat dikonsumsi dengan cepat dan berulang.

Meski terdengar berlebihan, brain rot menggambarkan keresahan nyata soal kebiasaan digital. Ketika seseorang terus berpindah dari satu konten ke konten lain, waktu istirahat atau aktivitas yang membutuhkan perhatian panjang bisa semakin berkurang.

Perlu dipahami, brain rot bukan diagnosis medis resmi, melainkan istilah budaya. Artinya, istilah ini tidak dapat digunakan untuk menentukan seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu. Namun, kebiasaan digital yang mendasarinya tetap layak diperhatikan apabila mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Misalnya, seseorang mungkin merasa sulit membaca materi kuliah dalam waktu lama karena lebih terbiasa dengan konten yang berganti setiap beberapa detik. Dalam konteks seperti ini, yang perlu dievaluasi bukan istilahnya, melainkan pola penggunaan teknologi dan dampaknya terhadap keseharian.

Baca juga: Quarter Life Crisis Bikin Bingung Arah Hidup di Usia 20-an, Ini Cara Menghadapinya Menurut Sisi Psikologi

Dampak Brain Rot Menurut Sudut Pandang Psikologi

Sebelum masuk ke daftar, empat dampak berikut sering dikaitkan dengan brain rot dan kebiasaan konsumsi konten digital secara berlebihan.

1. Menurunnya Rentang Fokus

Konsumsi konten singkat secara terus-menerus membuat seseorang terbiasa menerima rangsangan dengan cepat. Akibatnya, brain rot sering dikaitkan dengan kesulitan mempertahankan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Membaca buku, mengerjakan tugas, atau mengikuti materi pembelajaran yang kompleks dapat terasa lebih berat. Kondisi ini tidak berarti kemampuan fokus seseorang pasti menurun secara permanen, tetapi pola konsumsi digital dapat memengaruhi kebiasaan mengatur perhatian.

2. Mudah Merasa Bosan

Ketika otak terbiasa dengan hiburan instan, aktivitas dengan ritme lebih lambat dapat terasa kurang menarik. Brain rot kemudian dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap rangsangan baru.

Kegiatan sederhana seperti membaca, berjalan kaki, atau mengobrol tanpa membuka ponsel mungkin terasa kurang menarik. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih sulit menikmati aktivitas yang tidak memberikan kepuasan secara langsung.

3. Terganggunya Kualitas Istirahat

Menggulir konten hingga larut malam dapat mengurangi waktu tidur. Brain rot yang muncul bersama kebiasaan penggunaan perangkat tanpa batas waktu akhirnya dapat berpengaruh pada kualitas istirahat.

Kurang tidur sendiri dapat membuat seseorang lebih mudah lelah dan sulit berkonsentrasi pada hari berikutnya. Siklus ini dapat membuat penggunaan media sosial semakin sulit dikendalikan karena ponsel kembali digunakan sebagai hiburan ketika tubuh sebenarnya membutuhkan istirahat.

4. Menurunnya Kesejahteraan Emosional

Paparan konten secara terus-menerus juga dapat memengaruhi suasana hati. Membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain atau menerima terlalu banyak informasi dalam waktu singkat dapat memunculkan rasa lelah secara emosional.

Brain rot yang berlebihan kadang dikaitkan dengan perasaan gelisah, jenuh, atau hampa. Dampaknya tentu berbeda pada setiap orang sehingga penting memperhatikan perubahan perilaku dan keseharian secara individual.

Cara Mengelola Kebiasaan Digital agar Terhindar dari Brain Rot

Langkah paling sederhana adalah menyadari berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menggulir. Kesadaran ini menjadi titik awal untuk mengurangi dampak brain rot. Fitur batas waktu aplikasi atau laporan penggunaan perangkat dapat membantu melihat pola secara lebih objektif.

Menyeimbangkan konsumsi konten dengan aktivitas lain juga membantu. Membaca, berolahraga, mengerjakan hobi, atau bersosialisasi secara langsung memberi variasi aktivitas yang tidak bergantung pada layar.

Tidak harus langsung berhenti menggunakan media sosial. Mengatur waktu tertentu untuk membuka aplikasi dan memberikan jeda di antara aktivitas digital dapat menjadi langkah yang lebih realistis.

Dengan kebiasaan yang lebih tertata, dampak brain rot bisa ditekan tanpa harus meninggalkan teknologi sepenuhnya. Kuncinya adalah memastikan teknologi tetap menjadi alat yang digunakan secara sadar, bukan aktivitas yang mengambil seluruh waktu luang.

Memahami Perilaku Digital Lewat Pendidikan yang Tepat

Memahami bagaimana media memengaruhi perilaku membantu menyikapi fenomena seperti ini secara lebih sehat. Pemahaman tersebut terbangun lewat pendidikan yang terarah, terutama bagi mereka yang tertarik pada komunikasi, media, dan perilaku audiens.

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) memiliki program studi Ilmu Komunikasi yang membahas cara kerja media, perilaku audiens, hingga literasi digital. Materinya relevan dengan persoalan konsumsi konten yang dihadapi banyak orang saat ini.

Dengan akreditasi unggul, posisi peringkat ke-52 nasional pada pemeringkatan uniRank 2026 yang naik dari peringkat ke-89 tahun sebelumnya, serta puluhan ribu alumni yang telah berkarier di berbagai bidang, UBSI dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan. Biaya pendidikannya pun tergolong terjangkau bagi Anda yang ingin memahami dunia komunikasi dan digital lebih dalam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.