Dari Kampus ke Dunia Bisnis, UBSI Kampus Cengkareng Bekali Mahasiswa Pola Pikir Entrepreneur
BSINews, Jakarta – Memulai usaha tidak selalu berawal dari modal besar. Kemampuan membaca kebutuhan pasar, memahami konsumen, dan berani mengembangkan gagasan justru menjadi bekal penting bagi seseorang yang ingin terjun ke dunia bisnis.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang dihadirkan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Cengkareng melalui Seminar Wajib Entrepreneur (SWE) pada Selasa (27/10) di auditorium kampus. Mengusung tema “From Campus to Business: Building the Entrepreneurial Mindset for the Future”, kegiatan ini diikuti mahasiswa UBSI yang mengambil mata kuliah Entrepreneur.
Baca juga: Dosen UBSI Latih NA+ Event Solutions Evaluasi Media Visual untuk Perkuat Komunikasi Bisnis
Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber dengan pengalaman berbeda, yakni Dedy Dermawanto selaku Owner DJ Custom dan Endang K. Murty selaku Head of Telemarketing Pramita Indotama. Keduanya memberikan perspektif mengenai dunia bisnis, mulai dari pengalaman menjalankan usaha hingga pentingnya komunikasi dan pemahaman terhadap pelanggan.
Belajar Bisnis dari Pengalaman Praktisi
Melalui sesi pertama, Dedy Dermawanto membawa perspektif pelaku usaha kepada mahasiswa. Pengalaman seorang pemilik bisnis menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa menjalankan usaha membutuhkan kemampuan mengenali kebutuhan pasar, mengembangkan produk atau layanan, serta menciptakan nilai tambah agar mampu bersaing.
Bagi mahasiswa, wawasan tersebut dapat menjadi dorongan untuk mulai melihat peluang dari lingkungan terdekat. Sebuah gagasan bisnis tidak harus langsung hadir dalam skala besar. Memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, mengenali kebutuhan konsumen, lalu menawarkan solusi yang relevan dapat menjadi langkah awal untuk merintis usaha.
“Kewirausahaan juga menuntut keberanian mengambil keputusan dan konsistensi dalam menjalankan proses. Ide yang menarik perlu diikuti dengan perencanaan, pemahaman pasar, serta kemampuan mengevaluasi langkah yang telah dilakukan agar dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Dedy, Selasa (27/10).
Komunikasi dan Pemahaman Pelanggan Jadi Bekal Bisnis
Pada sesi berikutnya, Endang K. Murty memperluas perspektif mahasiswa melalui pengalaman profesionalnya di bidang telemarketing. Bidang ini memperlihatkan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya berkaitan dengan produk yang ditawarkan, tetapi juga bagaimana pelaku usaha memahami kebutuhan pelanggan dan menyampaikan nilai produknya secara efektif.
“Kemampuan berkomunikasi, mendengarkan, dan membangun hubungan dengan calon konsumen menjadi kompetensi yang relevan dalam berbagai bidang pekerjaan maupun usaha. Pemahaman terhadap pelanggan membantu pelaku bisnis menyampaikan penawaran secara tepat sekaligus membangun kepercayaan,” ungkap Endang, Selasa (27/10).
Kedua perspektif tersebut memperlihatkan bahwa pola pikir entrepreneur dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Mahasiswa yang kelak membangun usaha maupun memilih jalur profesional tetap membutuhkan kreativitas, kemampuan beradaptasi, komunikasi yang baik, dan keberanian menghadapi tantangan.
UBSI Dorong Mahasiswa Berani Mengembangkan Gagasan
Kepala Kampus UBSI Kampus Cengkareng, Hardiyan, menilai pembelajaran kewirausahaan memiliki peran penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi masa depan.
“Seminar Wajib Entrepreneur diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk lebih kreatif, berani melihat peluang, dan mampu mengembangkan gagasan menjadi sesuatu yang bernilai. Kami ingin mahasiswa UBSI tidak hanya memahami konsep kewirausahaan secara teori, tetapi juga memiliki pola pikir mandiri, inovatif, dan siap menghadapi tantangan,” ujar Hardiyan.
Melalui SWE, mahasiswa UBSI mendapat kesempatan untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan perspektif praktisi. Pembelajaran semacam ini diharapkan membantu mereka mengenali potensi diri, menyusun gagasan bisnis, dan memahami berbagai hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengembangkan sebuah usaha.
“Penyelenggaraan seminar ini juga menegaskan pentingnya keterhubungan antara lingkungan akademik dan dunia profesional. Selain pemahaman teori, mahasiswa perlu mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan untuk menghadapi perubahan, baik ketika merintis usaha sendiri maupun ketika memasuki dunia kerja,” katanya.
Baca juga: Dosen UBSI Bekali UMKM N A+ dengan Teknik Negosiasi Bisnis
Melalui kegiatan tersebut, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif berupaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai pilihan karier dan peluang kewirausahaan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Pengalaman praktisi menjadi salah satu sumber pembelajaran agar mahasiswa dapat melihat dunia bisnis secara lebih nyata dan kontekstual.
“Membangun pola pikir entrepreneur bukan hanya tentang menjadi pemilik usaha, melainkan juga tentang kemauan untuk terus belajar, mengenali peluang, dan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bekal tersebut diharapkan membantu mahasiswa mempersiapkan diri menjadi generasi yang kreatif, adaptif, dan mampu menciptakan peluang di masa depan,” tutupnya.