AI Makin Dekat dengan Dunia Pendidikan, UBSI Kampus Kaliabang Dorong Guru BK Lebih Adaptif
BSINews, Jakarta- Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang menggelar Seminar Pemuda & Awarding Digital UBSI Kaliabang di BSI Convention Center, Rabu (30/9/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB tersebut menghadirkan Karyadi, M.Pd., Sekretaris Jenderal Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Indonesia, sebagai keynote speaker untuk membahas perkembangan layanan bimbingan dan konseling (BK), regulasi pendidikan, serta tantangan pemanfaatan teknologi dan artificial intelligence (AI) di lingkungan sekolah.
Baca juga: Perkuat Sinergi Pendidikan, UBSI Kampus Kaliabang Ajak Sekolah Tumbuhkan Kolaborasi Digital
Dalam pemaparannya, Karyadi menekankan pentingnya guru BK memahami perkembangan regulasi yang berkaitan dengan layanan pendidikan dan konseling. Menurutnya, perubahan kebijakan perlu diikuti dengan peningkatan pemahaman dan kualitas layanan agar guru dapat menjalankan tugas sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Ketika berbicara tentang seminar, tentunya kita sebagai guru MGBK perlu memahami beberapa regulasi yang hari ini menjadi update kualitasnya,” ujar Karyadi dalam keynote speech-nya.
Karyadi menjelaskan bahwa perkembangan regulasi pendidikan turut memperjelas fungsi, tugas, dan kompetensi guru BK atau konselor. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya terlibat dalam penyusunan buku panduan implementasi layanan bimbingan dan konseling yang memuat sejumlah ketentuan terbaru mengenai pelaksanaan layanan di sekolah.
Guru BK Perlu Adaptif Hadapi Perkembangan Digital dan AI
Menurut Karyadi, perkembangan layanan BK saat ini tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan teknologi digital. Layanan bimbingan dan konseling berbasis digital menjadi salah satu bagian yang perlu dipahami oleh guru seiring perubahan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
“Layanan BK yang berbasis digital juga sangat diperjelas. Ketika berbicara layanan BK hari ini, digital dan AI merupakan tantangan kita,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi, termasuk AI, perlu ditempatkan sebagai alat pendukung dalam memberikan layanan kepada peserta didik. Guru tetap memiliki peran penting dalam memahami kondisi siswa sebelum menentukan pendekatan atau layanan yang sesuai.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah proses asesmen terhadap peserta didik. Karyadi menyebutkan bahwa guru perlu memahami kondisi siswa melalui berbagai metode, mulai dari observasi dan pengamatan hingga tes yang berkaitan dengan aspek akademik maupun nonakademik.
“Ketika kita memberikan layanan digital dan konseling, basic-nya adalah bagaimana kita memahami. Memahami ini merupakan bagian penting, salah satunya kita memahami asesmen yang berkaitan dengan bagaimana kita menentukan kondisi anak saat ini,” katanya.
Menurutnya, perkembangan AI dapat membantu mempercepat berbagai proses, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan peran manusia. Guru BK perlu memahami kondisi dan permasalahan siswa secara menyeluruh agar teknologi yang digunakan dapat mendukung proses layanan, bukan menggantikan peran guru dalam memberikan pendampingan.
Karyadi menilai bahwa perkembangan teknologi membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan pendidikan. Karena itu, guru perlu terus memperbarui pengetahuan dan kemampuan agar dapat menyesuaikan layanan dengan perkembangan zaman sekaligus tetap mempertahankan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Baca juga: Seminar Pemuda Digital UBSI Tegal Angkat Tantangan Psikologi Generasi Muda di Era AI
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus membuka ruang kolaborasi dengan sekolah dan organisasi profesi untuk membahas perkembangan pendidikan serta pemanfaatan teknologi. Seminar Pemuda & Awarding Digital UBSI Kaliabang menjadi salah satu ruang bertemunya pendidik dan perguruan tinggi untuk berbagi wawasan mengenai transformasi digital, layanan pendidikan, dan tantangan penggunaan AI di lingkungan sekolah.
“AI akan menjawab dengan cepat, tetapi yang memperkuatnya adalah kita,” ungkap Karyadi.