Dosen UBSI Kampus Yogyakarta Kunjungi UMKM Batik Tulis Pewarna Alam di Kulonprogo
BSINews, Yogyakarta — Dalam upaya mendukung pelestarian budaya dan pengembangan potensi ekonomi kreatif lokal, Yulianto, Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Yogyakarta, melakukan kunjungan ke salah satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik tulis yang berada di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, pada Minggu (13/7).
UMKM ini dikenal sebagai salah satu pengrajin batik tulis yang mengusung konsep ramah lingkungan dengan menggunakan pewarna alami dari bahan-bahan lokal. Dalam kunjungannya, Yulianto mengamati secara langsung proses pembuatan batik tulis dengan teknik pewarnaan alami.
Beragam bahan digunakan untuk menghasilkan warna-warna khas, di antaranya buah joho, kunyit untuk warna kuning cerah, kulit buah jolawe untuk warna hijau kecoklatan, kulit kayu secang menghasilkan warna merah, daun indigo untuk warna biru, serta kulit buah manggis yang memberikan nuansa merah alam.
“Penggunaan pewarna alami ini tidak hanya memperkuat karakter batik tradisional, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan serta memberikan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan,” ujar Yulianto saat berdialog dengan pengrajin.
Selain teknik pewarnaan yang unik dan ramah lingkungan, UMKM batik ini juga mempertahankan kekayaan motif batik klasik khas Jawa. Beberapa motif yang sering diproduksi di antaranya Motif Babon Angkrem, Motif Wahyu Tumurun, Motif Peltuk, serta Motif Bantulan. Masing-masing motif memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya Jawa.
Menariknya, produk batik dari Desa Banaran ini telah merambah pasar nasional bahkan sesekali menerima pesanan dari luar negeri. Hal ini menjadi bukti bahwa batik tulis pewarna alam memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.
Baca juga: 5 Alasan Memilih Kampus Akreditasi Unggul dengan Prodi Pariwisata di Yogyakarta
Melalui kunjungan ini, Yulianto berharap dapat menjalin kerja sama dan membuka peluang pendampingan atau program pengabdian masyarakat yang relevan.
“UMKM seperti ini sangat potensial untuk dikembangkan, baik dari sisi produksi, pemasaran digital, maupun pelatihan pengemasan dan branding agar mampu bersaing lebih luas,” tambahnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata kalangan akademisi dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus mendorong kemajuan ekonomi lokal melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif.(Siti Hafizah)