Anak Muda Lebih Cepat Menginstal Aplikasi Baru daripada Membaca Satu Bab Buku

0 34

BSINews, Sukabumi — Kemajuan teknologi menghadirkan aplikasi baru hampir setiap hari. Anak muda menjadi kelompok yang paling cepat beradaptasi dengan perubahan ini. Dalam hitungan detik, mereka mampu mengunduh, memasang, dan memahami cara kerja sebuah aplikasi baru. Namun, kecepatan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan minat membaca. Banyak generasi muda mengaku kesulitan menyelesaikan satu bab buku, meskipun waktu yang dibutuhkan tidak lebih dari belasan menit.

Kebiasaan Instan Mengubah Cara Kita Fokus

Aplikasi digital menawarkan hiburan yang serba cepat, visual menarik, dan interaksi spontan. Sebaliknya, membaca buku menuntut proses yang lebih lambat dan fokus berkelanjutan. Ketika kebiasaan instan terus mendominasi, kemampuan konsentrasi perlahan menurun. Membaca terasa berat bukan karena bukunya sulit, melainkan karena otak sudah terbiasa menerima rangsangan cepat dari layar.

Bukan Sekadar Masalah Minat Membaca

Perbandingan antara aplikasi dan buku bukan semata-mata soal minat. Banyak anak muda sebenarnya ingin membaca, tetapi kesulitan untuk memulai. Distraksi digital yang terus-menerus—mulai dari notifikasi, pesan singkat, hingga konten berdurasi pendek—membuat aktivitas membaca terasa membutuhkan usaha ekstra. Padahal, membaca masih menjadi salah satu cara paling efektif untuk menambah wawasan dan melatih kemampuan berpikir kritis.

Baca juga: Aplikasi Favorit Mahasiswa Prodi DKV sebagai Penopang Kreativitas di Era Digital

Aplikasi Memudahkan, Buku Menguatkan

Tidak dapat dimungkiri, aplikasi digital sangat membantu kehidupan sehari-hari, baik untuk belajar, bekerja, maupun bersosialisasi. Namun, buku memiliki peran berbeda: mengasah pemahaman mendalam dan melatih fokus jangka panjang. Keduanya sama-sama penting, tetapi perlu keseimbangan. Ketika penggunaan aplikasi terlalu dominan, kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama dapat melemah.

Kembali pada Pilihan Sehari-hari

Membangun kebiasaan membaca tidak harus dimulai dengan target besar. Cukup satu halaman per hari. Perlahan, fokus akan terlatih dan membaca terasa lebih ringan. Di sisi lain, aplikasi tetap bermanfaat selama digunakan secara bijak. Tantangan terbesar generasi digital bukan terletak pada pilihan antara aplikasi atau buku, melainkan pada kemampuan mengatur waktu dan perhatian secara sadar.

Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif mendorong generasi muda untuk tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir melalui literasi dan kebiasaan membaca. Keseimbangan inilah yang akan membentuk sumber daya manusia unggul di era digital.(Tiara Sari)

Leave A Reply

Your email address will not be published.