FOMO di Media Sosial, Takut Ketinggalan atau Takut Sendirian?
BSINews-Di era digital saat ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Dari bangun tidur hingga sebelum tidur, banyak dari kita tidak bisa lepas dari scrolling Instagram, TikTok, atau Twitter. Tapi pernahkah kamu merasa cemas saat melihat orang lain terlihat lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih “seru”? Jika iya, kamu mungkin sedang mengalami FOMO di media sosial.
Baca juga: Healing, FOMO, hingga Ghosting, Menafsir Bahasa Gen Z yang Sarat Makna
Apa Itu FOMO?
FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan takut ketinggalan momen, pengalaman, atau tren yang sedang terjadi. Dalam konteks media sosial, FOMO muncul ketika kita melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik dibandingkan kehidupan kita sendiri.
Perasaan ini sering kali muncul tanpa disadari. Awalnya hanya melihat story teman, tapi lama-lama muncul rasa:
a. “Kok mereka jalan terus ya?”
b. “Kenapa hidup aku gini-gini aja?”
c. “Aku ketinggalan banyak hal…”
Padahal, apa yang kita lihat di media sosial belum tentu mencerminkan realita sepenuhnya.
FOMO: Takut Ketinggalan atau Takut Sendirian?
Secara psikologis, FOMO bukan hanya soal takut ketinggalan tren. Lebih dalam dari itu, FOMO sering berkaitan dengan rasa takut akan kesepian atau tidak diterima secara sosial.
Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk merasa “terhubung” dan “diakui”. Ketika melihat orang lain berkumpul, berlibur, atau mencapai sesuatu, otak kita bisa menafsirkan bahwa kita sedang tertinggal—bahkan terisolasi.
Akibatnya, muncul kecemasan sosial yang bisa berdampak pada:
a. Menurunnya rasa percaya diri
b. Perasaan tidak cukup baik
c. Overthinking
d. Ketergantungan pada validasi online
Inilah mengapa FOMO di media sosial bisa berdampak besar pada kesehatan mental.
Peran Media Sosial dalam Memperkuat FOMO
Media sosial dirancang untuk menarik perhatian kita. Algoritma akan menampilkan konten yang menarik, viral, dan sering kali “terlihat sempurna”.
Masalahnya, kita jadi sering membandingkan:
a. Highlight hidup orang lain
b. Dengan realita kehidupan kita sendiri
Padahal, yang kita lihat hanyalah bagian terbaik dari hidup seseorang, bukan keseluruhan cerita.
Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membentuk pola pikir negatif dan membuat kita merasa tertinggal.
Kenapa Generasi Muda Rentan Mengalami FOMO?
Generasi muda adalah pengguna aktif media sosial. Selain itu, fase kehidupan yang penuh pencarian jati diri membuat mereka lebih sensitif terhadap penilaian sosial.
Beberapa faktor yang membuat FOMO lebih sering terjadi:
a. Tekanan sosial dari lingkungan
b. Kebutuhan akan pengakuan
c. Kurangnya self-awareness
d. Kebiasaan membandingkan diri
Inilah pentingnya memahami aspek psikologi dalam kehidupan digital.
Peran Ilmu Psikologi dalam Memahami FOMO
Fenomena FOMO menjadi salah satu topik menarik dalam dunia psikologi modern. Di sinilah pentingnya pendidikan formal untuk memahami perilaku manusia secara lebih mendalam.
Salah satu tempat yang mempelajari hal ini adalah Program Studi Psikologi di Universitas Bina Sarana Informatika. Di prodi ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami fenomena sosial seperti FOMO, kecemasan digital, hingga perilaku generasi muda di era teknologi.
Mahasiswa Psikologi dibekali kemampuan untuk:
a. Menganalisis perilaku individu dan sosial
b. Memahami kesehatan mental di era digital
c. Memberikan solusi berbasis pendekatan ilmiah
d. Membantu individu mengelola emosi dan stres
Dengan pemahaman ini, lulusan Psikologi memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menghadapi tantangan mental di era digital.
Cara Mengatasi FOMO di Media Sosial
Mengalami FOMO adalah hal yang wajar. Namun, penting untuk mengelolanya agar tidak berdampak negatif. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan:
- Sadari Bahwa Media Sosial Tidak Selalu Nyata
Apa yang kamu lihat hanyalah highlight, bukan realita penuh. - Kurangi Waktu Screen Time
Batasi penggunaan media sosial agar tidak berlebihan. - Fokus pada Diri Sendiri
Setiap orang punya timeline hidup yang berbeda. - Latih Rasa Syukur
Menghargai apa yang kamu miliki bisa mengurangi perasaan kurang. - Bangun Hubungan Nyata
Interaksi langsung lebih bermakna dibanding sekadar online.
Baca juga: FOMO Cari Kampus Masa Depan? UBSI Jadi Jawabannya di Indonesia Favorite Campus Expo 2026
FOMO di media sosial bukan sekadar tren, tapi fenomena psikologis yang nyata dan banyak dialami generasi muda. Di balik rasa takut ketinggalan, sering kali tersembunyi rasa takut akan kesepian dan tidak diterima.
Dengan memahami psikologi di baliknya, kita bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Edukasi seperti yang diberikan di Program Studi Psikologi Universitas Bina Sarana Informatika menjadi langkah penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga sehat secara mental.
Jadi, daripada terus membandingkan diri, yuk mulai fokus pada perjalanan hidup kita sendiri.