Pernah merasa yakin sesuatu terjadi, lalu seseorang berkata bahwa itu hanya perasaan anda saja? Sesekali berbeda ingatan memang wajar. Tetapi kalau pola seperti itu berulang dan membuat anda makin ragu pada diri sendiri, bisa jadi ada yang lebih serius. Gaslighting adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan bentuk manipulasi psikologis semacam itu.
Buat mahasiswa yang belajar komunikasi interpersonal, gaslighting adalah topik yang penting dipahami karena berkaitan langsung dengan cara orang berbicara, menyangkal, dan memengaruhi satu sama lain. Yuk, kita bahas pengertian, ciri-ciri, dan cara menyikapinya secara tenang.
Gaslighting Adalah Apa dan dari Mana Istilahnya
Secara umum, gaslighting adalah upaya membuat seseorang meragukan persepsi, ingatan, atau penilaiannya sendiri. Kamus Merriam-Webster menggambarkannya sebagai manipulasi psikologis dalam jangka waktu lama yang membuat korban ragu pada diri sendiri. Istilah ini berasal dari drama Gas Light karya Patrick Hamilton tahun 1938, yang kemudian diadaptasi ke film. Dalam ceritanya, seorang suami berusaha meyakinkan istrinya bahwa ia mulai kehilangan akal sehat. Dari kisah itulah gaslighting adalah sebutan bagi perilaku yang sengaja memutarbalikkan kenyataan demi mengendalikan orang lain.
Perlu dicatat, istilah ini lebih banyak dipakai dalam bahasa sehari-hari daripada sebagai diagnosis klinis. Sebagian ahli juga mengingatkan agar kata ini tidak dipakai sembarangan, sebab gaslighting adalah pola yang berulang, bukan sekadar perbedaan pendapat atau salah ingat sesekali.
Ciri-ciri Saat Gaslighting Adalah Pola yang Perlu Dikenali
Supaya lebih mudah mengenali, berikut ciri yang sering dibahas dalam literatur populer maupun psikologi. Anggap daftar ini sebagai bahan refleksi, bukan alat untuk menghakimi orang lain, sebab gaslighting adalah istilah yang maknanya mudah melebar kalau dipakai sembarangan.
- Menyangkal kejadian yang jelas-jelas terjadi, lalu menyebut anda salah ingat.
- Meremehkan perasaan dengan kalimat seperti anda terlalu sensitif atau anda berlebihan.
- Memutarbalikkan fakta sehingga kesalahan seolah-olah berasal dari anda.
- Menyebarkan keraguan, misalnya dengan berkata bahwa orang lain juga merasa anda aneh.
- Mengubah topik atau menyalahkan balik setiap kali anda mengajukan keberatan.
Satu ciri saja belum tentu menandakan gaslighting. Yang perlu diperhatikan adalah polanya: apakah hal-hal tersebut terjadi berulang, dan apakah anda semakin kehilangan kepercayaan diri setelah berbicara dengan orang yang sama.
Baca juga: Yapping Artinya Ngomong Nggak Berhenti, Tapi Kapan Ini Jadi Skill Komunikasi yang Menguntungkan?
Pola Komunikasi Saat Gaslighting Adalah Bentuk Kontrol
Dari sudut pandang ilmu komunikasi, gaslighting adalah komunikasi yang mengaburkan realitas bersama. Alih-alih bertukar pandangan, pelaku berusaha menentukan siapa yang benar sejak awal percakapan. Pelakunya mengontrol narasi, sehingga korban menganggap versi pelaku lebih benar daripada pengalamannya sendiri. Pola ini lebih mudah terjadi ketika ada ketimpangan kuasa atau ketika korban sangat menghargai pelakunya.
Gaslighting adalah pola yang bisa terjadi dalam pertemanan, keluarga, hubungan romantis, maupun lingkungan kerja, sehingga kewaspadaan perlu dibawa ke mana pun. Dampaknya bisa terasa nyata. Korban sering menjadi lebih cemas, sulit mengambil keputusan, dan terus meminta maaf walau tidak bersalah. Dalam jangka panjang, hubungan yang diwarnai gaslighting dapat menggerus rasa percaya diri. Inilah sebabnya mengenali sinyalnya sedini mungkin sangat membantu.
Cara Menyikapi Saat Gaslighting Adalah Masalahnya
Menghadapi situasi ini tidak harus dengan konfrontasi besar, terutama bila gaslighting adalah pola yang sudah berlangsung lama dan membuat anda sulit mengambil jarak. Berikut beberapa langkah yang umum disarankan.
- Percayai catatan anda sendiri. Tulis kejadian penting beserta tanggalnya, supaya ada pegangan saat ingatan diragukan.
- Bicarakan dengan orang yang dipercaya untuk mendapat sudut pandang lain.
- Sampaikan fakta secara singkat dan tenang, tanpa terpancing berdebat panjang.
- Tetapkan batas yang jelas tentang perlakuan yang tidak bisa diterima.
- Pertimbangkan bantuan profesional, seperti konselor atau psikolog, bila dampaknya terasa berat.
Ingat, gaslighting adalah masalah pada perilaku pelaku, bukan kelemahan korban. Merasa bingung setelah percakapan tertentu bukan berarti anda lemah, melainkan sinyal untuk memeriksa kembali pola hubungan tersebut dengan bantuan orang yang anda percaya. Tulisan ini juga hanya gambaran umum dan bukan pengganti penilaian profesional.
Belajar Komunikasi yang Sehat di UBSI
Memahami pola komunikasi yang sehat dan tidak sehat adalah bekal berharga untuk kuliah maupun dunia kerja. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menawarkan program studi Ilmu Komunikasi, Manajemen, Sistem Informasi, dan Informatika yang dirancang relevan dengan kebutuhan industri.
UBSI memiliki akreditasi unggul, puluhan ribu alumni yang berkarier di berbagai industri, dan biaya pendidikan yang terjangkau. Menurut UniRank 2026, BSI berada di peringkat 52 di Indonesia. Bagi anda yang tertarik mendalami cara berkomunikasi secara efektif dan beretika, UBSI layak dipertimbangkan.
Pada akhirnya, gaslighting adalah pola yang bisa dikenali bila anda percaya pada pengalaman sendiri dan berani meminta pandangan orang lain.