Ketika Teknologi Membumi: Kisah Odoo dan Revolusi Digital di Tambak Lele
BSINews, Bekasi — Pengetahuan sejati, menurut saya, tak hanya tumbuh di ruang-ruang kelas berpendingin. Ia justru menemukan denyut kehidupannya yang paling autentik ketika berdialog langsung dengan realitas, menembus batas-batas akademis, dan menyentuh denyut nadi masyarakat. Inilah esensi pengalaman yang saya rasakan saat menjadi pemberi materi dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penerapan Platform Perangkat Lunak Bisnis Terpadu Aplikasi Odoo pada Mitra Kelompok Tani Lele” di BP. Sumberjaya, Kabupaten Bekasi. Sebuah inisiatif yang mempertemukan inovasi digital dengan kearifan lokal, membuka lembaran baru bagi para pembudidaya lele.
Ketika Teknologi Membumi: Kisah Odoo dan Revolusi Digital di Tambak Lele
Sebagai dosen di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sebagai kampus Digital Kreatif yang berkomitmen pada inovasi dan pemberdayaan, saya meyakini bahwa teknologi bukan sekadar alat canggih di perkotaan, melainkan kunci untuk mengikis ketimpangan dan memacu kemandirian di berbagai sektor, tak terkecuali pertanian dan perikanan. Dalam sesi pelatihan Odoo ini, pendekatan kami sangatlah berbeda. Kami tidak sekadar memaparkan fitur-fitur kompleks, melainkan menerjemahkan fungsi Odoo—khususnya modul Expense dan Invoice—ke dalam bahasa yang sederhana dan relevan dengan tantangan harian kelompok tani. Tujuannya jelas: agar mereka mampu mengelola pengeluaran dan transaksi hasil panen dengan lebih rapi, transparan, dan profesional. Ini adalah langkah konkret menuju ekosistem bisnis yang lebih terorganisir, bahkan di tingkat akar rumput sekalipun.
Yang paling menggugah adalah melihat transformasi yang terjadi. Awalnya, kekhawatiran dan keraguan terlihat jelas di mata para peserta. Komputer dan aplikasi digital kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang rumit dan asing. Namun, seiring berjalannya waktu, antusiasme mulai merekah. Mereka tak hanya belajar mengoperasikan, tetapi juga memahami logika di balik sistem tersebut. Senyum lega yang merekah di wajah seorang anggota kelompok, tatkala ia berhasil menuntaskan laporan keuangan pertamanya dengan Odoo, adalah validasi paling nyata. Momen itu bukan sekadar keberhasilan teknis, melainkan simbol bahwa pengetahuan telah berhasil menembus tembok skeptisisme, membuka cakrawala baru tentang efisiensi dan potensi diri.
Baca Juga : Dosen UBSI Gelar Pelatihan “Asking and Giving Opinion” untuk Remaja Masjid Jami’ Al Muttaqin
Pengalaman ini semakin mengukuhkan keyakinan saya bahwa peran dosen melampaui sekat-sekat ruang kuliah. Ia adalah jembatan yang menghubungkan teori dengan praktik, inovasi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Penerapan teknologi seperti Odoo pada kelompok tani lele bukan sekadar proyek perangkat lunak, melainkan katalisator perubahan budaya kerja menuju kemandirian ekonomi dan profesionalisme yang berkelanjutan. Harapannya, inisiatif seperti ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan awal dari gerakan berkelanjutan yang terus membumikan literasi digital dan menyentuh lebih banyak lapisan masyarakat, terutama di sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal. Mari terus berkolaborasi, menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan berdaya. (Iin)