Ngoding Lancar, Ngobrol Ambyar: Mengapa Mahasiswa Teknik Informatika Jago Koding tapi Canggung Berkomunikasi?
BSINews, Cikampek – Di lingkungan kampus, khususnya jurusan Teknik Informatika, stereotip “jago ngoding tapi kagok basa-basi” masih sering terdengar. Mahasiswa yang terbiasa menaklukkan baris demi baris kode, mulai dari Python hingga Java, kerap tampil percaya diri saat debugging atau membahas algoritma. Namun, situasi berubah ketika harus presentasi di depan kelas atau berinteraksi dengan teman baru.
Tak Cukup Jago Koding, Mahasiswa TI Juga Harus Mahir Komunikasi
Fenomena ini bukan sekadar candaan. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi mengapa mahasiswa Teknik Informatika terlihat lebih nyaman dengan logika dibanding komunikasi sosial.
Fokus Logika, Minim Latihan Interaksi
Mahasiswa Teknik Informatika dilatih berpikir sistematis: ada input, proses, dan output. Dunia pemrograman memiliki pola yang jelas ketika salah, muncul pesan error; ketika benar, program berjalan sesuai perintah.
Berbeda dengan komunikasi antarmanusia yang dinamis dan tidak selalu terstruktur. Tidak ada “compiler” yang memberi tahu apakah kalimat yang diucapkan tepat atau tidak. Interaksi sosial menuntut improvisasi, empati, serta kemampuan membaca situasi.
Keseharian yang lebih banyak di depan layar mengerjakan proyek, merevisi kode, atau mengikuti kelas daring membuat ruang untuk melatih komunikasi tatap muka menjadi lebih terbatas. Dalam jangka panjang, kemampuan berbicara di depan umum atau sekadar basa-basi bisa terasa kaku.
Terlalu Nyaman di Zona Teknis
Sebagian mahasiswa merasa lebih percaya diri saat membahas topik teknis seperti framework terbaru, kecerdasan buatan, atau pengembangan aplikasi. Diskusi teknis terasa “aman” karena berada dalam wilayah yang dikuasai.
Namun, ketika topik bergeser ke isu sosial, hobi, atau percakapan ringan, respons menjadi lebih terbatas. Padahal, di dunia kerja, kemampuan komunikasi menjadi aspek krusial.
Di perusahaan teknologi global seperti Google dan Microsoft, seorang programmer tidak hanya bekerja di balik layar. Mereka dituntut mampu berdiskusi dalam tim, mempresentasikan ide, hingga menyampaikan gagasan kepada klien.
Kemampuan teknis membuka pintu peluang, tetapi keterampilan komunikasi menentukan perkembangan karier selanjutnya.
Takut Salah Bicara
Menariknya, mahasiswa Teknik Informatika umumnya santai menghadapi error dalam program. Kesalahan dianggap bagian dari proses belajar. Namun, ketika harus berbicara di depan umum, muncul kekhawatiran berlebihan takut dianggap aneh, tidak nyambung, atau salah ucap.
Padahal, komunikasi memiliki prinsip serupa dengan pemrograman: membutuhkan latihan dan proses trial and error. Semakin sering dipraktikkan, semakin terasah.
Lingkungan yang Homogen
Lingkungan pergaulan juga memengaruhi. Jika interaksi sehari-hari hanya dengan teman satu jurusan, pola diskusi cenderung berputar di sekitar dunia teknologi dan perkuliahan. Ketika harus berkomunikasi dengan mahasiswa lintas jurusan, perbedaan sudut pandang bisa menimbulkan ketidaknyamanan.
Mengikuti organisasi kampus, kepanitiaan, atau komunitas lintas jurusan menjadi salah satu cara efektif untuk melatih adaptasi komunikasi. Selain memperluas jejaring, mahasiswa juga belajar memahami perspektif yang berbeda.
Baca juga : Mahasiswa Teknik Informatika dan Tantangan Adaptasi di Dunia Kerja Digital
Peran Kampus dalam Menguatkan Soft Skill
Sebagai Kampus Digital Kreatif, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) mendorong mahasiswanya tidak hanya unggul dalam aspek teknis, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni. Melalui berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan, seminar, pelatihan public speaking, hingga presentasi proyek berbasis tim, UBSI kampus Cikampek berupaya membentuk lulusan yang adaptif dan siap menghadapi tantangan dunia industri.
Menurut pihak kampus, keseimbangan antara hard skill dan soft skill menjadi kunci utama dalam mencetak talenta digital yang kompetitif.
Soft Skill Bisa Dilatih
Kabar baiknya, kemampuan komunikasi bukan bakat bawaan. Sama seperti belajar pemrograman dari nol, keterampilan berbicara dan berinteraksi dapat dikembangkan melalui kebiasaan.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa antara lain:
- Aktif bertanya atau menjawab saat perkuliahan.
- Membiasakan small talk dalam aktivitas sehari-hari.
- Mengikuti organisasi atau komunitas.
- Mempresentasikan proyek dengan bahasa yang mudah dipahami.
Di era digital yang mengedepankan kolaborasi, dunia kerja tidak hanya menuntut hard skill, tetapi juga communication skill, teamwork, dan kemampuan adaptasi.
Baca juga : Pentingnya Soft Skill bagi Generasi Digital di Era Kolaborasi Industri 4.0
Tidak Perlu Memilih
Mahasiswa tidak perlu memilih antara jago ngoding atau jago ngobrol. Keduanya dapat dikembangkan secara bersamaan. Kemampuan teknis menjadikan mahasiswa kompeten, sementara kemampuan komunikasi membuat mereka relevan dan siap bersaing di dunia profesional.
Kemampuan menjelaskan proyek kompleks dengan bahasa sederhana, atau memimpin tim pengembang dengan komunikasi yang jelas, dapat menjadi nilai tambah signifikan dalam perjalanan karier.
Menjadi mahasiswa unggul bukan hanya soal IPK tinggi, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi dunia profesional dengan kombinasi keterampilan teknis dan nonteknis yang seimbang sebagaimana terus didorong oleh UBSI kampus Cikampek dalam setiap program pembinaannya. (Indari)