Quiet Quitting: Fenomena Baru di Kalangan Milenial dan Gen Z
BSINews, Jakarta – Belakangan ini, istilah quiet quitting ramai dibahas di media sosial dan dunia kerja. Fenomena ini menggambarkan karyawan yang tetap bekerja sesuai deskripsi tugasnya, namun tanpa upaya ekstra atau keterlibatan emosional berlebihan. Mereka tidak benar-benar berhenti, melainkan menetapkan batas tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Quiet Quitting: Fenomena Baru di Kalangan Milenial dan Gen Z
Banyak generasi milenial dan Gen Z memilih quiet quitting karena kelelahan mental dan fisik akibat tekanan kerja yang tinggi. Mereka merasa sistem kerja modern sering menuntut produktivitas berlebihan tanpa apresiasi yang sepadan. Dengan menerapkan batas waktu kerja dan menolak lembur tanpa bayaran, mereka berusaha menjaga keseimbangan hidup serta kesehatan mental.
Meski begitu, fenomena ini menuai pro dan kontra. Sebagian menilai quiet quitting sebagai langkah positif untuk melawan budaya kerja toksik, sementara pihak lain menganggapnya kurang menunjukkan loyalitas terhadap perusahaan.
Baca Juga:Cegah Bullying, Dosen UBSI Beri Edukasi Seru di Panti Asuhan Mizan Amanah Solo
Bagi perusahaan, tren ini menjadi sinyal untuk mengevaluasi budaya kerja. Lingkungan yang sehat, komunikasi terbuka, dan apresiasi yang adil dapat mencegah karyawan menarik diri secara emosional. Dengan keseimbangan itu, hubungan kerja bisa lebih manusiawi dan berkelanjutan. (Safika Rahman)