Jangan Asal Jepret! Prodi DKV UBSI Kenalkan 5 Sudut Kamera yang Bikin Foto Makin Menarik
BSINews- Pernah memotret objek yang sama, tetapi menghasilkan foto dengan kesan yang berbeda? Rahasianya tidak selalu terletak pada kamera mahal atau aplikasi penyuntingan foto. Salah satu faktor penting yang memengaruhi hasil fotografi adalah camera angle atau sudut pengambilan gambar. Dengan mengubah posisi kamera, sebuah foto dapat terlihat lebih dramatis, alami, unik, bahkan mampu menyampaikan cerita yang berbeda.
Baca juga: Kenapa Logo Bisa Melekat di Ingatan? Temukan Jawabannya di Prodi DKV UBSI
Bagi generasi muda yang gemar membuat konten untuk media sosial, memahami sudut kamera dalam fotografi merupakan keterampilan dasar yang menarik untuk dipelajari. Teknik ini bisa diterapkan menggunakan kamera profesional maupun ponsel. Selain mempercantik tampilan foto, pemilihan sudut yang tepat membantu fotografer mengarahkan perhatian audiens dan membangun kesan visual sesuai tujuan pemotretan.
1. Eye Level, Sudut Kamera yang Terlihat Alami
Eye level merupakan teknik pengambilan gambar dengan posisi kamera sejajar dengan mata subjek. Sudut ini menghasilkan tampilan yang terasa alami karena mendekati perspektif manusia ketika melihat orang atau objek dalam kehidupan sehari-hari.
Teknik eye level cocok untuk foto potret, wawancara, dokumentasi kegiatan, hingga konten keseharian. Jika ingin memotret anak-anak, misalnya, fotografer dapat berjongkok agar posisi kamera sejajar dengan mata mereka. Hasilnya dapat terasa lebih dekat dan mampu menampilkan ekspresi subjek secara jelas.
2. Low Angle, Membuat Objek Terlihat Megah
Low angle dilakukan dengan menempatkan kamera lebih rendah daripada objek dan mengarahkannya ke atas. Teknik ini dapat membuat bangunan terlihat menjulang atau memberikan kesan kuat dan dominan pada subjek manusia.
Sudut low angle sering digunakan dalam fotografi arsitektur, potret kreatif, dan foto bertema dramatis. Namun, fotografer perlu memperhatikan jarak kamera karena objek yang berada lebih dekat dengan lensa dapat terlihat lebih besar dibandingkan bagian lainnya. Dengan pemilihan komposisi yang tepat, efek perspektif tersebut justru dapat menjadi daya tarik visual.
3. High Angle, Menampilkan Objek dari Atas
Berbeda dari low angle, high angle menggunakan posisi kamera yang lebih tinggi daripada objek dengan arah pengambilan gambar ke bawah. Teknik ini berguna untuk memperlihatkan objek sekaligus sebagian lingkungan di sekitarnya.
High angle dapat diterapkan ketika memotret aktivitas seseorang, suasana ruangan, atau objek yang ingin ditampilkan bersama latarnya. Dalam konteks tertentu, sudut ini dapat membuat subjek terlihat kecil. Namun, kesan akhir tetap dipengaruhi oleh ekspresi, pencahayaan, dan komposisi foto.
4. Bird’s-Eye View, Menangkap Pola dari Ketinggian
Bird’s-eye view menghadirkan sudut pandang dari atas sehingga objek terlihat dari perspektif yang lebih luas. Teknik ini membantu fotografer menonjolkan pola, bentuk, dan hubungan antara berbagai elemen dalam satu bingkai.
Contohnya adalah foto susunan makanan, meja kerja, kerumunan, atau pola jalan dari ketinggian. Foto dengan sudut ini juga populer dalam konten perjalanan dan media sosial. Pengambilan gambar dapat dilakukan dari tempat yang aman atau menggunakan drone sesuai aturan yang berlaku.
5. Frog-Eye View, Perspektif Unik dari Dekat Tanah
Frog-eye view dilakukan dengan menempatkan kamera sangat dekat dengan permukaan tanah dan mengarahkannya ke atas atau ke objek di sekitarnya. Sudut ini menghasilkan perspektif yang tidak biasa sehingga objek tertentu tampak lebih menonjol.
Teknik ini dapat digunakan untuk memotret sepatu, bunga, tekstur jalan, kendaraan, atau bangunan. Fotografer bisa mencoba meletakkan ponsel dekat permukaan tanah untuk mendapatkan sudut yang berbeda tanpa membutuhkan peralatan khusus. Pastikan perangkat tetap aman dan tidak mengganggu aktivitas di sekitar lokasi.

Tips Memilih Sudut Kamera agar Foto Lebih Bermakna
Memahami lima sudut kamera tersebut menjadi langkah awal untuk menghasilkan foto yang lebih menarik. Agar latihan semakin efektif, pilih satu objek, kemudian potret menggunakan eye level, low angle, high angle, bird’s-eye view, dan frog-eye view.
Bandingkan setiap hasilnya. Perhatikan perubahan bentuk objek, latar belakang, pencahayaan, serta kesan yang muncul. Jangan hanya memilih sudut yang terlihat bagus, tetapi pertimbangkan pula cerita yang ingin disampaikan kepada penonton.
Baca juga: Ini Dia 4 Kampus dengan Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Terbaik di Jakarta
Pada akhirnya, fotografi bukan sekadar menekan tombol kamera, melainkan proses menyampaikan pesan melalui visual. Bagi generasi muda yang tertarik mendalami fotografi, desain, dan komunikasi visual, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dapat menjadi pilihan untuk mengenal lebih jauh dunia kreatif. Cari informasi resmi mengenai program studi dan penerimaan mahasiswa baru UBSI untuk mengetahui peluang mengembangkan minat menjadi keterampilan yang bermanfaat.
Jangan biarkan kreativitasmu berhenti sebatas hobi! Kenali program studi, kurikulum, dan pilihan kampus yang tersedia, lalu persiapkan langkahmu menuju dunia kreatif bersama UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif.
Yuk, daftar kuliah di UBSI sekarang! Kunjungi situs resmi Penerimaan Mahasiswa Baru di https://pmbubsi.id untuk melihat informasi pendaftaran dan memilih program studi serta kampus sesuai minatmu.
FAQ
1. Apa yang dipelajari di Program Studi DKV UBSI?
Mahasiswa DKV mempelajari bidang komunikasi visual, termasuk fotografi digital, desain grafis, ilustrasi, tipografi, dan pengembangan karya kreatif. Informasi kurikulum lengkap dapat dilihat melalui situs resmi PMB UBSI.
2. Apakah harus memiliki kamera profesional untuk belajar fotografi?
Tidak. Kamu bisa mulai berlatih menggunakan kamera ponsel untuk memahami sudut pengambilan gambar, komposisi, dan pencahayaan. Keterampilan fotografi dapat dikembangkan secara bertahap melalui latihan dan pembelajaran.
3. Bagaimana cara mendaftar kuliah DKV di UBSI?
Kunjungi https://pmbubsi.id, pilih informasi program studi Desain Komunikasi Visual (DKV), lalu periksa kampus yang membuka program tersebut, persyaratan, jadwal, dan prosedur pendaftarannya.