Lolos Seleksi Nasional BSN, Alumni UBSI Kampus Pontianak Siap Bawa Produk UMKM ke Pasar Global
BSINews, Pontianak-Alumni Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak, Malinda, berhasil lolos seleksi nasional yang diselenggarakan Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk berpartisipasi dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI). Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi usaha makanan beku (frozen food) yang dirintisnya untuk memperluas jangkauan pasar dan membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Pencapaian Malinda tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan siaran langsung (live) BSI Entrepreneur Center (BEC) bersama PT Alindra Berkah Cemerlang pada 15 September 2026. Melalui perjalanan bisnisnya, Malinda menunjukkan bahwa kegigihan dan konsistensi dapat menjadi modal penting bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha dari pasar lokal menuju peluang pasar global.
Malinda merintis usaha dari nol di tengah keterbatasan. Pada masa awal merintis bisnis, ia harus membagi waktu antara bekerja, menyelesaikan pendidikan, dan mengembangkan usahanya. Setelah melalui proses panjang, produk makanan beku yang dipasarkannya kini menjangkau sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, mulai dari Sosok, Bodok, Balai Karangan, hingga Entikong melalui distribusi logistik.
“Karena dulu masa kecil saya orang susah, jadi kita belajar enggak enak loh jadi orang susah. Jadi kita survive terus ya, demi bisa hidup yang layak,” ungkap Malinda mengenai motivasinya membangun usaha.
Lolos Seleksi Nasional, Buka Peluang Ekspor
Keberhasilan lolos seleksi nasional BSN menjadi kesempatan bagi Malinda untuk memperkenalkan produk UMKM yang dikembangkannya kepada calon pembeli dari berbagai negara melalui ajang Trade Expo Indonesia. Partisipasi dalam pameran tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama bisnis sekaligus memperluas akses produk makanan beku lokal ke pasar internasional.
Sebagai bentuk dukungan terhadap potensi usahanya, BSN memberikan fasilitasi audit dan pengawasan berstandar internasional tanpa biaya, dengan nilai yang disebut mencapai puluhan juta rupiah. Fasilitasi tersebut menjadi salah satu langkah untuk membantu pelaku usaha mempersiapkan pemenuhan standar yang dibutuhkan dalam pengembangan pasar.
Untuk memperkuat daya saing, Malinda juga menerapkan prosedur kebersihan yang ketat di ruang produksi. Para pekerja diwajibkan mengikuti prosedur higienis, termasuk mengenakan pakaian laboratorium saat beraktivitas di area produksi. Selain telah memiliki sertifikasi halal, usahanya kini tengah membidik pemenuhan standar internasional seperti ISO dan persyaratan FDA yang relevan dengan target pasar ekspornya.
Upaya tersebut dilakukan agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas dan keamanan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Bagi Malinda, pengembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga kesiapan produksi, pemenuhan legalitas, dan konsistensi kualitas.
Sepuluh Tahun Merintis Usaha, Belajar dari Berbagai Tantangan
Perjalanan Malinda membangun bisnis tidak berlangsung secara instan. Ia mengaku harus melewati berbagai tantangan, mulai dari pengurusan legalitas hingga pemenuhan administrasi usaha yang membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.
“Susah dan butuh capeknya ya, bolak-balik. Belum lagi dari awal tiba-tiba nambah uang ini uang itu, minta cap ini cap itu, tapi ya bisa dilewati. Ini istilahnya buah dari kesabaran juga sih. Dari 10 tahun usahanya, jadi enggak langsung besar gitu, enggak. Banyak lika-likunya pasti,” jelasnya.
Dalam mengembangkan bisnis, Malinda juga memilih menjaga kemandirian usahanya. Ia mengungkapkan pernah mendapatkan tawaran pendanaan dari investor yang mensyaratkan kendali penuh atas perusahaan dalam jangka panjang. Namun, ia lebih memilih mengembangkan bisnis secara mandiri dengan mempertimbangkan risiko dan kemampuan usaha.
“Kalau untuk saya sendiri memang saya berani melepaskan ke tim, proses produksinya, enggak masalah. Jadi kita bisa fokus ke ekspansi,” tambahnya.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari strateginya untuk membagi tanggung jawab operasional kepada tim sehingga ia dapat memusatkan perhatian pada pengembangan usaha dan perluasan pasar.
Dorong Mahasiswa dan Alumni Berani Berwirausaha
Kisah perjalanan Malinda menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan alumni untuk berani memanfaatkan peluang, mengembangkan kreativitas, serta membangun kemandirian ekonomi. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus mendorong semangat kewirausahaan dan pengembangan potensi mahasiswa maupun alumni agar mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui BSI Entrepreneur Center (BEC), pengembangan wawasan kewirausahaan dapat menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya pelaku usaha yang mampu membaca peluang, membangun strategi bisnis, dan menghadapi tantangan pasar yang terus berkembang.
Menutup kisahnya, Malinda mengingatkan generasi muda agar tidak menyia-nyiakan waktu dan berani memulai langkah untuk meraih cita-cita.
“Kita ini kan masih muda, masih ada tenaga. Kalau kita lihat wejangan orang tua zaman dulu, manfaatkanlah waktu. Banyak yang pada menyesal sudah tua baru sadar, sudah terlambat,” tutupnya.
Perjalanan Malinda menunjukkan bahwa kegigihan, kesabaran, dan strategi pengembangan usaha dapat menjadi bekal bagi UMKM lokal untuk naik kelas. Dengan memperkuat kualitas produk, memenuhi standar yang diperlukan, dan memperluas jaringan pemasaran, pelaku usaha memiliki peluang untuk membawa produk lokal bersaing di pasar yang lebih luas