Banyak orang seringkali memahami bahwa istilah ilmuwan atau scientist sering kali dianggap sebagai satu profesi yang seragam. Namun, jika Anda menelisik lebih dalam pada struktur industri teknologi modern, terdapat perbedaan signifikan antara ilmuwan murni (basic scientist) dan applied scientist.
Memahami karakteristik unik dari profesi Applied Scientist sangat penting, terutama bagi Anda yang berencana membangun karier di bidang sains data, kecerdasan buatan, atau pengembangan sistem tingkat lanjut. Berikut adalah lima karakteristik utama yang membedakan applied scientist dari jenis ilmuwan lainnya.
1. Fokus Utama pada Solusi Praktis dan Aplikatif
Perbedaan mendasar yang paling terlihat terletak pada tujuan akhir dari pekerjaan mereka. Ilmuwan murni biasanya berfokus pada penemuan pengetahuan baru atau pembuktian teori fundamental tanpa harus memikirkan kegunaan instannya. Sebaliknya, applied scientist berfokus pada kegunaan (utility).
Peran applied scientist menjadi sangat krusial karena mereka bertugas sebagai jembatan antara teori akademis yang kompleks dengan solusi praktis yang dapat digunakan oleh masyarakat luas.
Berdasarkan literatur dari Science Council, applied scientist menggunakan pengetahuan ilmiah yang sudah ada untuk mengembangkan aplikasi praktis. Jika seorang fisikawan murni meneliti sifat-sifat cahaya secara teoritis, maka seorang applied scientist akan mencari cara bagaimana sifat cahaya tersebut dapat diimplementasikan untuk menciptakan sensor serat optik yang lebih cepat dalam sebuah perangkat lunak atau perangkat keras.
2. Integrasi Teori ke dalam Produk Komersial
Karakteristik kedua dari applied scientist adalah kemampuan mereka untuk mentransformasikan formula matematika atau algoritma abstrak ke dalam fitur produk. Applied scientist sering ditemukan di perusahaan teknologi besar seperti Amazon atau Microsoft. Mereka tidak hanya berhenti pada publikasi jurnal ilmiah, tetapi juga memastikan bahwa model yang mereka buat dapat berjalan secara efisien dalam lingkungan produksi.
Anda akan melihat bahwa applied scientist harus mempertimbangkan kendala dunia nyata, seperti keterbatasan memori perangkat, kecepatan prosesor, dan pengalaman pengguna. Hal ini berbeda dengan ilmuwan riset yang mungkin bekerja dalam lingkungan laboratorium yang ideal tanpa banyak hambatan teknis operasional.
3. Pendekatan Berbasis Hasil yang Terukur
Meskipun semua ilmuwan menggunakan metode ilmiah, applied scientist memiliki orientasi yang lebih kuat pada keberhasilan bisnis atau fungsional. Dalam dunia industri, keberhasilan mereka tidak hanya diukur dari kebenaran hipotesis saja. Sebab, keberhasilan juga diukur dari seberapa besar peningkatan performa yang dihasilkan.
Misalnya, dalam proses pengembangan algoritma rekomendasi, applied scientist akan diukur melalui metrik seperti peningkatan keterlibatan pengguna atau akurasi prediksi dalam waktu nyata. Pendekatan ini menuntut mereka untuk terus melakukan pembaruan pada model mereka agar selalu relevan dengan kebutuhan pasar yang dinamis.
4. Kemampuan Kolaborasi Lintas Disiplin yang Tinggi
Seorang applied scientist jarang bekerja dalam lingkungan akademik. Hal ini karena mereka harus berkomunikasi dengan manajer produk, insinyur perangkat lunak, dan pemangku kepentingan bisnis lainnya. Karakteristik ini membedakan mereka dari ilmuwan murni yang sering kali hanya bekerja pada lingkup yang sempit.
Oleh karena itu, applied scientist dituntut untuk bisa menerjemahkan bahasa teknis yang rumit menjadi penjelasan yang mudah dipahami oleh tim non-teknis. Kolaborasi ini bertujuan agar inovasi ilmiah yang ditemukan tetap sejalan dengan visi produk dan keterbatasan teknis yang dimiliki oleh tim engineering.
Baca juga: Tugas Auditor Internal dalam Memastikan Tata Kelola Perusahaan yang Baik
5. Siklus Kerja yang Cepat dan Adaptif
Dunia industri bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dunia akademis murni. Applied scientist memiliki karakteristik yang sangat adaptif terhadap perubahan tren teknologi. Jika riset dasar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kesimpulan, applied scientist sering kali bekerja dalam siklus mingguan atau bulanan untuk merilis pembaruan model.
Karakteristik ini membuat mereka harus sangat mahir dalam melakukan rapid prototyping). Applied scientist harus tahu kapan sebuah model sudah “cukup baik” untuk diluncurkan dan kapa harus melakukan perbaikan mendalam, sebuah keseimbangan yang jarang ditemukan pada ilmuwan tradisional yang mengejar kesempurnaan teoritis mutlak.
Meniti Karier Sebagai Applied Scientist
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) telah lama dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan yang fokus pada pengembangan talenta di bidang teknologi informasi. Sebagai Cyber University, UBSI menghadirkan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri terkini. Salah satu program studi yang menjadi unggulan untuk mencetak tenaga profesional di bidang pengembangan aplikasi adalah program studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
Pendidikan di program studi Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Bina Sarana Informatika dirancang untuk membekali Anda dengan keahlian teknis yang mendalam. Diantaranya, siklus hidup pengembangan perangkat lunak hingga pengujian sistem yang kompleks. UBSI juga memiliki fasilitas laboratorium yang memadai dan kurikulum berbasis praktik, sehingga memastikan setiap lulusannya siap bersaing di industri digital.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai mata kuliah spesifik di program studi Rekayasa Perangkat Lunak yang dapat menunjang karier sebagai SDE? Kunjungi laman program studi Rekayasa Perangkat Lunak UBSI sekarang dan pelajari di sana!