Salahudin, Anak Cibitung yang Belajar Bahwa Ngulik Lebih Penting dari Menghafal

0 50

BSINews, Bekasi – Kadang, tokoh-tokoh paling menginspirasi itu datang dari tempat yang kelihatannya biasa saja. Salahudin Kholik Prasetyono adalah salah satunya. Anak Cibitung yang jalurnya nggak pernah mulus-mulus amat, tapi justru dari situ ia belajar bahwa hidup itu bisa dijalankan dengan kepala dingin, punggung tegak, dan kode-kode yang kadang bikin pusing tapi selalu memanggil untuk diselesaikan.

Salahudin adalah wisudawan Informatika dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). “Saya tinggal di Cibitung, kesibukan saya belakangan ini freelance guru, freelance developer, dan ikut kegiatan magang dari pemerintah,” katanya. Sederhana, tapi penuh arah. Di balik rutinitasnya, ada kebiasaan yang ia ulang terus kayak ritual, ngulik. Nyari hal baru. Nyemplung ke dunia yang bikin matanya berbinar.

Baca juga: Dari Bar ke Gelanggang, Alex Membuktikan Disiplin Tak Pernah Bohong

Ia ingat betul bagaimana rasanya jadi mahasiswa baru. “Awalnya saya penasaran apakah pembelajarannya langsung sulit atau nggak,” ujarnya sambil tertawa kecil. Untungnya, suasana belajar di UBSI membantunya cepat nyaman dan berkembang.

Jurusan Informatika bukan pilihan yang jatuh dari langit. Dari SMA ia udah kepincut sama sistem komputer, pengembangan software, web, sampai gimana logika jadi pondasi yang bikin semuanya jalan. Jadi, ketika masuk kampus dan ketemu mata kuliah web programming, desain, sampai algoritma, rasanya kayak akhirnya ketemu rumah.

Di luar kampus, hidupnya juga nggak kalem-kalem amat. Ia sempat jadi ojol, freelance guru, sampai gabung program Studi Independen dan program Kemnaker. Aktivitas yang padat justru bikin Salahudin punya sudut pandang yang lebih dewasa tentang proses.

Jadi ketika namanya dipanggil sebagai peraih Wisudawan Terbaik, ia sempat bengong. “Diluar ekspektasi saya. Tapi saya bersyukur, dan terima kasih untuk diri saya yang udah bertahan sejauh ini,” katanya. Kalimat sederhana, tapi menyisakan kekuatan yang diam-diam besar.

Tentang belajar, Salahudin kasih rumus yang nggak dibikin-bikin, jangan cuma hafal, tapi paham dari mana ilmu itu datang. Ia percaya kampus hanyalah rumah awal, selebihnya mahasiswa harus berani buka pintu ke pengetahuan yang lebih luas. “Terus ngulik. Haus pengetahuan. Itu sih kuncinya.”

Ke depan, ia ingin masuk dunia kerja sambil merawat ambisi lain, memperdalam machine learning dan teknologi blockchain. Dua bidang yang sedang naik daun dan bisa jadi arena pertempuran masa depan.

Tentang kampusnya, ia bilang pembelajaran di UBSI terasa interaktif dan nggak monoton. “Dosen nggak cuma jelasin, tapi ngajak diskusi dan sharing biar kami nggak jenuh,” ucapnya.

Baca juga: Suara Riana yang Tumbuh dari Kelas Penyiaran ke Panggung Hidupnya Sendiri

Untuk para lulusan, Salahudin memberi pesan yang rasanya layak banget ditempel di kamar. Terus belajar, jangan cepat puas. Sedangkan untuk adik tingkat, ia berpesan dengan nada yang hampir seperti kakak protektif yang udah kenyang jatuh bangun, “Kamu itu spesial. Bikin bangga orang tuamu. Jangan menyerah, dan jangan lewatkan kesempatan yang kamu punya.”

Kisah Salahudin membuktikan satu hal penting. Kadang, yang membedakan masa depan seseorang bukan start yang megah, tapi keberanian untuk terus ngulik, lagi dan lagi, bahkan ketika dunia bilang capek. Dari Cibitung sampai ke panggung wisuda, ia membuktikan bahwa perjalanan yang tenang juga bisa sangat besar.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.