Jelang 17 Agustus, Warga Radak Satu Gelar Tasyakuran dengan Hadroh dan Tumpeng

0 347

BSINews, Kubu Raya  Ada cara sederhana yang dilakukan masyarakat Desa Radak Satu, Kecamatan Terentang, untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Sehari sebelum memasuki rangkaian perayaan 17 Agustus, warga membawa nasi tumpeng, berkumpul di balai desa, menikmati penampilan hadroh dari berbagai dusun, lalu makan bersama dalam satu suasana kekeluargaan.

Tradisi tersebut hadir dalam malam tasyakuran yang digelar di Balai Desa Radak Satu pada Minggu (16/8). Bukan sekadar seremoni menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, acara ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu dan merayakan momentum kemerdekaan dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka.

Ketika Setiap Dusun Membawa Suasana Berbeda

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam malam tasyakuran adalah penampilan hadroh dari masing-masing dusun. Lantunan musik dan selawat mengisi suasana balai desa, mempertemukan warga dari berbagai lingkungan dalam satu perayaan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan serta sambutan dari Kepala Desa Radak Satu dan ketua panitia. Doa bersama menjadi bagian penting dalam tasyakuran sebagai ungkapan rasa syukur menjelang peringatan kemerdekaan.

Baca juga: Mahasiswa BSI Explore 2026 Rangkul Warga untuk Siapkan Ruang Belajar Anak Desa Radak Satu

Kepala Desa Radak Satu, Sumardi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyambut Hari Kemerdekaan sekaligus menjaga kebersamaan.

“Melalui malam tasyakuran ini, kita bersama-sama menyambut Hari Kemerdekaan dengan rasa syukur. Yang paling penting, kita bisa berkumpul dan menjaga kebersamaan antarwarga Desa Radak Satu,” ujar Sumardi.

Dari Doa Bersama hingga Makan Tumpeng

Setelah rangkaian acara dan doa bersama, suasana berubah menjadi lebih cair. Potong kue dan tiup lilin menjadi bagian dari perayaan, sebelum masyarakat menikmati nasi tumpeng yang telah dibawa untuk disantap bersama.

Tidak ada sekat antara siapa yang membawa dan siapa yang menikmati. Tumpeng menjadi hidangan yang mempertemukan warga dalam satu momen makan bersama. Dari sinilah suasana tasyakuran terasa lebih dari sekadar acara formal melainkan ada obrolan, kebersamaan, dan perasaan menjadi bagian dari satu lingkungan.

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Karawang Tunjukkan Prestasi di Kejurnas Judo 2026

Mahasiswa Ikut Larut dalam Kebersamaan Warga

Momen tersebut juga dirasakan mahasiswa BSI Explore 2026 yang ikut hadir dalam acara. Empat mahasiswa bahkan mendapat kesempatan mengambil peran sebagai pembawa acara, pembaca puisi, dan dirigen.

Bagi mahasiswa, keterlibatan itu menjadi pengalaman berbeda selama berada di Radak Satu. Mereka tidak hanya menjalankan agenda yang berkaitan dengan program, tetapi juga berkesempatan mengikuti cara masyarakat merayakan momentum penting bersama-sama.

Baca juga: UBSI Kampus Pontianak Dukung Putera Puteri Kalbar 2026, Prestasi Generasi Muda Terhubung dengan Kesempatan Pendidikan

Ketua BSI Explore 2026 Desa Radak Satu, Muhammad Alghifary, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan masyarakat menjadi bagian dari proses belajar selama berada di desa.

“Kami berupaya untuk aktif terlibat sebagai bentuk kontribusi sosial. Dari kegiatan ini, kami belajar bagaimana menerapkan pengetahuan, berkolaborasi, serta menjalankan tanggung jawab bersama,” ujar Alghi.

Malam tasyakuran di Radak Satu memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk perayaan besar. Kadang, ia tumbuh dari hal-hal sederhana, warga yang datang berkumpul, hadroh yang dimainkan bersama, tumpeng yang dibawa untuk dinikmati, dan satu malam yang dihabiskan dalam suasana penuh kebersamaan menjelang 17 Agustus.(Lady Agustine)

Leave A Reply

Your email address will not be published.