BKOT UBSI Kampus Kaliabang Ajak Orang Tua Kenali Dunia Anak Mereka yang Bakal Kerja Sambil Senyum

0 49

BSINews, Bekasi – Kalau dengar kata jurusan perhotelan dan pariwisata, jangan buru-buru ngebayangin anakmu bakal kerja di hotel mewah, pakai jas rapi, berdiri di samping lobi sambil senyum ke tamu yang nggak dikenal. Dunia perhotelan itu kompleks, padat tekanan, dan jujur aja nggak semua orang tahan di dalamnya.

Nah, di titik ini, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang sadar betul anak-anak nggak akan bisa tumbuh jadi profesional sejati kalau di rumah mereka cuma dibilang, “Yang penting nilainya bagus.” Maka dari itu, kampus ini bikin acara BKOT (Bincang Kampus bersama Orang Tua) sebagai jembatan antara dunia kampus yang kadang bikin pusing, dan dunia rumah yang kadang terlalu santai.

Baca juga: Bukan Sekadar Kunjungan, BKOT 2025 Jadi Jembatan Edukatif UBSI dan Orang Tua

Acara ini bakal digelar Sabtu, 12 Juli 2025, di Auditorium UBSI Kampus Kaliabang. Jangan khawatir, ini bukan acara formal kayak seminar nasional yang penuh istilah ribet. Ini tempat ngobrol santai tapi penting antara orang tua dan kampus, biar semua ngerti dunia perhotelan dan pariwisata itu bukan dunia tipu-tipu. Bukan pula jurusan “pelarian” karena nggak suka hitung-hitungan. Ini dunia yang butuh ketangguhan, sopan santun, disiplin tinggi, dan senyum yang tetap manis meskipun hati kadang menangis.

Salah satu pembicara utama di acara ini adalah Dyah Mustika Wardani selaku Kaprodi Perhotelan dan Pariwisata UBSI yang bukan cuma paham teori, tapi juga udah kenyang makan asam garam dunia hospitality.

Nanti Dyah bakal blak-blakan ngomongin realita industri ini, nggak sekadar soal check-in tamu, tapi juga bagaimana mahasiswa harus tahan mental ketika kerja sambil berdiri 12 jam, ngadepin komplain tamu, dan tetap harus terlihat anggun kayak model katalog hotel.

“Pembentukan karakter itu dimulai sejak semester pertama,” katanya. Dan ini bukan basa-basi. Karena di jurusan ini, mahasiswa nggak cuma duduk di kelas sambil nyatet teori. Mereka bakal ikut simulasi layanan, ikut magang, bantu event, bahkan disuruh praktek ngelipet handuk model angsa. Semua ini butuh dukungan mental. Dan siapa yang bisa bantu urusan itu kalau bukan keluarga

Makanya, Dyah dengan tegas bilang, “Orang tua yang tahu seperti apa dunia kerja anaknya nanti, bakal lebih siap mendukung. Nggak gampang panik pas anaknya mulai ngeluh capek, atau pulang magang dengan muka kusut tapi tetap harus senyum.”

BKOT ini juga bukan acara yang ngebosenin. Selain Dyah, bakal ada narasumber lain dari staf kemahasiswaan, alumni sukses, sampai mahasiswa aktif yang bakal sharing pengalaman, dari yang manis sampai yang getir. Jadi, orang tua bisa ngelihat sendiri bahwa dunia kampus anaknya bukan sekadar tempat kumpul skripsi dan nyari sinyal WiFi gratis.

Muhamad Tabrani, Kepala Kampus UBSI Kampus Kaliabang, juga ikut nimbrung dengan harapan yang jelas, “Kami ingin orang tua nggak cuma jadi donatur, tapi juga jadi pendamping perjalanan anaknya.”

Karena, mari jujur sebentar, anak-anak kadang butuh validasi bukan dari nilai A di transkrip, tapi dari omongan simpel kayak, “Kamu hebat, ya, bisa handle tamu rese kemarin.” Dan dukungan seperti itu nggak diajarin di kampus—datangnya dari rumah.

Baca juga: Saat Kampus Bicara Masa Depan: AI dan Digitalisasi Jadi Bintang di BKOT UBSI Ciledug 2025

BKOT ini jadi ruang bertemunya dua dunia, harapan orang tua dan tanggung jawab kampus. Karena mendidik anak itu bukan tugas tunggal, melainkan proyek kolaborasi jangka panjang. Di dunia yang makin nggak ramah ini, anak-anak kita butuh lebih dari sekadar teori they need emotional armor. Dan armor itu, sebagian besar, dibentuk di rumah.

Jadi, buat para orang tua yang anaknya sekarang sedang memulai petualangan akademik di jurusan yang penuh tantangan dan keanggunan ini, yuk ikut BKOT. Daftarnya gampang, tinggal klik https://bit.ly/BKOTKLA20252.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.