Dari Rawamangun untuk Dunia Maya, Workshop Media Sosial ala HIMAIF UBSI yang Bikin Konten Jadi Nggak Sekadar Joget
BSINews, Jakarta – Di era ketika anak kecil lebih kenal TikTok daripada nama-nama provinsi, media sosial bukan cuma tempat pamer foto makanan atau bikin konten lipsync. Ia sudah menjelma jadi ladang cuan, ajang unjuk ide, bahkan semacam kartu nama digital yang bisa menentukan arah masa depan. Tapi—dan ini penting—bikin konten itu nggak bisa cuma modal ponsel dan lighting. Perlu ilmu, perlu niat, dan—kadang—perlu bimbingan yang serius tapi santai.
Baca juga: Mahasiswa UBSI Karawang Gelar Penyuluhan Etika Bermedia Sosial di SMPN 6 Karawang Barat
Untungnya, Himpunan Mahasiswa Informatika (HIMAIF) Universitas Bina Sarana Informatika paham banget soal itu. Makanya, Sabtu 21 Juni 2025 kemarin, mereka nekat bikin Workshop WIB Social Media. Tempatnya di UBSI Kampus Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur. Temanya? Sepraktis kontennya, yaitu branding, algoritma, etika digital, dan segalanya yang bikin media sosial lebih dari sekadar tempat viral-viralan.
Acara dibuka sama Cahyani Ayu Suliswati—yang meski sempat mengucapkan maaf karena lokasi mendadak pindah (ya maklum, hidup itu kadang butuh improvisasi), tetap tampil yakin dan ramah.
Nggak lama, panggung diambil alih oleh Stephen Jordan. Bukan penyanyi, bukan model, tapi seorang ahli digital marketing yang kalau ngomong soal algoritma bisa bikin kepala cenat-cenut tapi senyum juga karena gaya ngomongnya santai.
Stephen mulai dengan pertanyaan simpel tapi tajam, “Siapa di sini yang sudah jadi content creator?” Pertanyaan itu kayak tamparan manis. Soalnya banyak yang pengin viral, tapi belum tahu gimana cara mulai.
Stephen lalu membongkar teori NYAMPE (bukan “nyampe-nyampein”, tapi singkatan yang keren): minat, platform, monetisasi, target audiens, strategi, eksekusi. Teori ini bukan cuma teori, tapi semacam GPS buat kamu yang nyasar di dunia konten.
Tanya jawab berlangsung seru. Ada yang curhat soal konten makeup yang sepi interaksi. Ada yang bilang kalau ngomong langsung di video malah zonk, tapi kalau cuma teks, malah rame. Stephen nyantai aja menanggapi, sambil bilang, “Jangan takut nunjukin wajah, algoritma tuh suka yang kenal wajah.” Simpel tapi masuk akal.
Di sini terasa bahwa dunia konten bukan cuma tentang estetika, tapi juga strategi. Dan ya, kadang kita memang butuh diingatkan, bahwa bikin konten itu harus jujur dari minat pribadi, bukan ikut-ikutan FYP yang tak jelas juntrungannya.
Habis teori, waktunya praktik. Peserta diminta bikin rencana konten pakai teori NYAMPE. Ada yang pakai ponsel, ada yang bawa laptop, ada juga yang cuma bawa buku catatan tapi tetap semangat. Hasilnya? Beberapa kelompok tampil dan presentasi di depan. Ada yang rapi banget, ada juga yang belum matang tapi tetap dapet apresiasi. Karena, ya, proses itu penting.
Dan dari acara ini, satu hal jadi jelas, bahwa bikin konten yang nyambung dan berdampak itu nggak datang dari likes atau views semata, tapi dari proses berpikir dan keberanian buat mulai.
Kalau kamu selama ini cuma scroll dan komentar, “Biasa aja kok kontennya,” mungkin kamu belum tahu betapa susahnya bikin yang biasa aja itu. Jadi, daripada nyinyir, mending ikut workshop kayak gini. Siapa tahu, dari Rawamangun, kontenmu bisa viral ke seluruh dunia.